Inilah Rahasia Kitab Maulid Karya Al-Habib Umar Bin Hafidz

Inilah Rahasia Kitab Maulid Karya Al-Habib Umar Bin Hafidz

Pecihitam.org – Subhanallah! Kedatangan Al-Habib Umar Bin Hafidz di bumi pertiwi, telah menyuguhkan banyak nilai positif bagi ulama-ulama Indonesia. Selain isi ceramahnya yang sejuk, kesantunan Al-Habib Umar Bin Hafidz menjadi pelajaran tak terhingga nilainya.

Kita bisa menyaksikan, dari ulama besar sampai orang biasa dihormatinya. Ketika umat (orang awam) berebut mencium tangannya, Al-Habib Umar Bin Hafidz justru berusaha untuk merangkulnya. Akhlaknya juga ‘bersinar’ terang dalam karya tulisnya.

Sekedar tahu, Guru Mulia Almusnid Al-Habib Umar Bin Hafidz selain dikenal keteguhannya dalam menyiarkan dakwah Islam yang sejuk, juga merupakan ulama produktif dalam menulis kitab.

Terdapat puluhan kitab yang telah beliau tulis sejak muda. Jenisnya pun beraneka ragam, mulai dari kitab fikih, tasawuf, maulid, zikir, untaian nasihat, hingga prosa-prosa indah yang menggambarkan kecintaan beliau kepada Rasullulah saw.

Dari beberapa kitab yang beliau tulis, ada beberapa karya yang tergolong monumental, diantaranya Kitab Al-Qabas an-Nurul Mubin min Ihya Ulumuddin dan Kitab Maulid Adh-Dhiyaul Lami.

Kitab Al-Qabas an-Nurul Mubin min Ihya Ulumuddin masuk kategori kitab tasawuf yang berisi mutiara-mutiara ajaran Islam tentang berbagai penyakit hati. Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan mendapat tempat di hati umat Islam Tanah Air, karena mengangkat persoalan-persoalan yang lebih populis dalam kacamata tasawuf.

Kitab ini dalam terjemahannya dibagi menjadi 11 buku yang terdiri dari bab-bab yaitu, Keajaiban Hati, Kiat Jitu Menaklukan Nafsu, Siap Dicaci dan Dipuji, Alangkah Hinanya Dunia Ini, Bahaya Lisan, Bahaya Kikir, Apa yang Engkau Sombongkan Wahai Manusia, Mengendalikan Nafsu, 3 Sifat Tercela, Wahai Orang yang Berbangga Diri, serta Tuhanmu Allah SWT ataukah Manusia?

Selain Kitab Al-Qabas an-Nurul Mubin min Ihya Ulumuddin, Kitab Maulid Adh-Dhiyaul Lami juga sangat diapresiasi banyak kalangan sebagai kitab nan indah yang berisi syair pujian dan sanjungan kepada Rasullulah saw. Di balik penulisan kitab ini, terdapat kisah menarik yang sempat dituturkan oleh murid beliau, Alm. Habib Mundzir Al Musawa, pendiri Majelis Rasullulah saw.

Menurut Habib Mundzir, Maulid Adh-Dhiyaul Lami ditulis pada tahun 1994 di Kota Syihir, dekat Mukalla, Hadramaut, saat saya di sana. Maulid Adh-dhiya’ullami ini ditulis oleh Guru Mulia pada saat dini hari dan rampungnya pada saat sebelum akhir sepertiga malam terakhir.

Guru Mulia Al-Habib Umar banyak sekali membuat syair, beberapa diantaranya sempat tercatat oleh murid-murid beliau, ada juga yang merekamnya, dan diantara ribuan syair tersebut adalah Maulid Adh-Dhiyaul Lami ini.

Guru Mulia memiliki keahlian sastra bahasa yang tinggi dan beliau memadunya dengan kekuatan ruh beliau di dalam makrifah dan dipadu pula dengan kedalaman Ilmu syariah dan keluasan ilmu hadits yang beliau miliki, beliau memadukan semuanya kedalam Maulid Adh-Dhiyaul Lami. Hal ini dalam kekeramatan Aulia disebut Warad, semacam ilham tapi dari keahlian manusia yang dipadu Allah, ini juga disebut ladunniy.

Guru Mulia pada suatu malam memanggil salah satu muridnya yang penulis, lalu berkata: “Bawakan kertas, tulislah”. Lalu beliau berucap, melantunkan Maulid Adh-Dhiyaul Lami mulai tengah malam, dan sekitar sepertiga malam terakir seluruh Maulid Adh-Dhiyaul Lami sudah selesai, ujar Habib Mundzir.

Kemudian apa saja keistimewaan, sirr dan fadhilah Dhiyaullami yang tidak ada dalam kitab maulid lain? Dijawab oleh Habib Mundzir, “Kalau bukan karena ingin menyemangati, saya tak akan menjawabnya. Ruh Rasulullah saw tak pernah tidak hadir dalam majelis Maulid Dhiyaullami’, banyak para jamaah bermimpi melihat Ahlul Badr, Ahlul Uhud, para Wali masa lalu, bahkan para Nabi, hadir di majelis Dhiyaullami, dan Ruh Rasul saw sudah ada sebelum satu orang pun sampai, dan tidak keluar sebelum semua keluar, tak tersisa satu orang pun,”

Beliau kemudian menceritakan kisah yang terkait dengan keutamaan kitab ini. Ketika saya sudah lama bertahun tahun tidak jumpa dengan Habib Zein bin Smeith Madinah, karena beberapa kali beliau ke Indonesia saya tak sempat jumpa, maka ketika jumpa saya tertunduk tunduk mencium tangan beliau, maka Habib Zein dengan santainya berkata: “Ahlan wahai Munzir….”

Saya berkata: “wahai Habibana Zein, bagaimana habib masih kenal nama saya padahal saya lama tak jumpa habibana?”. Beliau menjawab: “Bagaimana aku lupa namamu, kau tiap malam ada di hadirat Rasulullah saw”. Hampir saya jatuh pingsan mendengar ucapan itu, dan beliau dengan santainya pergi begitu saja menghadapi tamu-tamu lain.

Banyak rahasia terpendam dalam Maulid ini, di antaranya pembukanya adalah 12 bait, melambangkan kelahiran Rasul saw pada tangggal 12, lalu fashl pertama terdiri dan diambil dari tiga surat, yaitu Surat Al-Fath, Surat At-Taubah, dan Surat Al-Ahzab. Tiga surat ini melambangkan lahirnya Rasul saw pada bulan tiga (Rabi’ul Awal), lalu bait-baitnya berjumlah 63, melambangkan usia beliau saw 63 tahun.

Guru Mulia mampu menuliskan dengan penuh hampir seluruh dari sejarah Rasulullah saw mulai dari masa lahir, tanggal lahir, bulan lahir, tahunnya, jumlah peperangan yang dijalani Rasulullah saw, perjuangan di Makkah, perjuangan di Madinah, Fattah Makkah, usia Rasul, jumlah Ahlul Badr yang wafat, tahun perang Badr, tanggalnya, bulannya, dan ratusan sejarah-sejarah lain yg terjadi dimasa Rasulullah saw. Semua ini termuat di dalam Maulid Adh-Dhiyaul Lami dengan kodetifikasi-kodetifikasi yang mungkin belum kita pahami.

Source: duta.co

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *