Menteri Agama Mesir: Muslim yang Tewas Membela Gereja, Ia Mati Syahid

Prof Muchtar Gumuah: Muslim yang Tewas Membela Gereja, Ia Mati Syahid

Pecihitam.orgMuslim yang tewas membela gereja maka ia mati syahid. Hal ini ditegaskan oleh Menteri Wakaf dan Urusan Keagamaan Mesir, Prof Dr Muhammad Mukhtar Gumuah dalam khutbah Jumat yang ia sampaikan di Masjid Al-Abbasi, Port Said, Mesir, Jumat 22 Desember 2017 sebagaimana dikutip www.gunromli.com yang terbaca Minggu (24/12/2017).

Apalagi hari-hari ini akan menuju tahun baru Masehi, maka beliau meminta agar warga negara Mesir saling membantu menjaga Gereja seperti halnya mereka menjaga masjid.

Menurut Menteri Agama Mesir tersebut, yang mati karena menjaga gereja seperti halnya yang mati menjaga masjid akan disebut mati syahid sebagai upaya memperkuat prinsip kewarganegaraan dan sebagai pemahaman yang benar tentang agama, yang ia sebut sebagai prioritas agar mereka yang tidak memiliki keahlian dan pengetahuan tidak mencemari Islam dan pemahaman keagamaan yang benar.

Dalam khutbah Jumat yang mengulas soal ‘introspeksi diri’ (muhasabah al-nafs), menjelaskan arti instrospeksi diri sebagai upaya yang mendahului setiap ucapan dan tindakan seseorang sebelum ia melakukannya hendaknya bertanya pada dirinya apakah dalam kategori yang boleh, haram atau makruh, hal ini perlu dilakukan sebagai persiapan akan diuji di akhirat nanti.

Prof Dr Muhamamad Mukhtar Gumuah menjabat sebagai Menteri Wakaf dan Urusan Keagamaan Mesir sejak tahun 2013.

Sebelum menjabat sebagai Menteri Agama ia menjabat sebagai Dekan Fakultas Studi-studi Keislaman dan Arabia di Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir.

Prof Dr Muhammad Mukhtar Gumuah lahir tahun 1966 merampungkan studinya dari strata S1 hingga doktor di Fakultas Studi Keislaman dan Arabia, ia memperoleh gelar doktor dengan prestasi cum laude.

Untuk selanjurnya ia mengabdi dan mengajar di Fakultas almamaternya sampai ia menjabat sebagai dekan. Untuk informasi tentang Prof Dr Muhammad Mukhtar Gumuuah bisa mengakses blog pribadinya www.almokhtarone.com.

Di Jawa Timur, anggota Banser Riyanto, asal Mojokerto telah menjadi korban kebiadaban seseorang yang hendak meledakkan gereja. Persis tanggal ini (24/12) tahun 2000 kejadian tragis itu menimpa Riyanto pada saat perayaan Natal di Gereja Eben Haezer Mojokerto Jatim.

Riyanto adalah salah seorang anggota Banser dari 4 anggota Banser yang ditugaskan mengamankan gereja oleh Gerakan Pemuda (GP) Ansor Mojokerto. Riyanto bersama petugas pengamanan gereja dan Polsek menemukan bungkusan mencurigakan di dalam gereja. Iapun memberanikan diri membuka bungkusan tersebut, ternyata bungkusan itu adalah bom. Saat itu tiba-tiba terlihat percikan api dari dalam bungkusan, dengan sigap Riyanto berteriak: Tiarap!

Riyanto berusaha membuang bom keluar agar tidak meledak di dalam gereja yang saat itu penuh jemaat Natal. Bom dilempar keluar oleh Riyanto ke tempat sampah tapi terpental. Banser NU Riyanto ini dengan cepat mengambil kembali bom itu untuk dibuang lebih jauh lagi dari gereja.

Namun, bom keburu meledak di pelukan pemuda NU berusia 25 tahun ini. Anggota Banser NU ini pun meninggal dunia di tempat dengan kondisi jari-jari dan wajah yang menyedihkan. Pria muslim yang lahir dari pasangan Sukarnim dan Katinem ini banyak dipuji orang. Riyanto layak menjadi pahlawan kemanusiaan. Kini baju-bajunya disimpan rapi di Museum NU, Surabaya. (mky, sumber gunromli.com)

Source: duta.co

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *