Ketika Kita Mau Memandang “Wajah Menyeramkan” Ideologi Wahabi

Ketika Kita Mau Memandang "Wajah Menyeramkan" Ideologi Wahabi

Pecihitam.org – Radikalisme yang dipakai atas nama Islam oleh sekte Wahabi menjadi boomerang bagi umat Islam sendiri. Di Indonesia aliran wahabi telah menggejala baik secara terang-terangan maupun tersembunyi. Fenomena demikian menyebabkan kekhawatiran berbagai kalangan masyarakat, sebab alur pemikiran semacam itu telah merasuki anak-anak, pelajar dan mahasiswa.

Sejumlah ulama dan kiai Nahdlatul Ulama pantas saja mengkhawatirkan fenomena wahabi akhir-akhir ini, meskipun sebenarnya radikalisme tak hanya berlaku bagi agama Islam. Sikap Wahabi yang tidak mendukung pluralisme dalam kehidupan beragama cenderung melahirkan gerakan radikal dan teroris.

Sejatinya Wahabi memang diciptakan untuk menghancurkan Agama Islam. Sebagaimana dalam sebuah artikel Britain and the Rise of Wahhabism and the House of Saud, menyebutkan, pemerintah Kerajaan Inggris turut andil dalam membidani kelahiran gerakan Wahabi. Artikel itu juga menjelaskan, Inggrislah yang telah merekayasa Abdul Wahab sebagai imam dan pendiri gerakan Wahabi, untuk tujuan menghancurkan Islam dari dalam dan meruntuhkan Daulah Turki Utsmani pada saat itu.

Baca juga: Kilas Balik Sejarah dan Kebrutalan Wahabi (Bag 1)

Penganut Wahabi ditandai dengan melekatnya perasaan paling suci. Mereka menganggap kelompok mereka sebagai penganut tauhid murni. Dengan melekatnya perasaan paling suci, kaum Wahabi cenderung eksklusif dan antipluralisme. Mereka menganggap surga hanya miliknya. Sikap itu berdampak pada keengganan beradaptasi terhadap tradisi daerah setempat. Mereka hanya mengakui tradisi dari Arab Saudi, tempat asalnya.

Setelah era reformasi, Wahabi lebih berani tampil ke permukaan secara terang-terangan, baik dengan balutan partai, maupun dengan gerakan ormas dan lainnya. Bagi sebagian kalangan, kemunculannya dianggap mengkhawatirkan, bukan semata-mata karena perbedaan ideologis, tetapi lantaran wahabi selalu menggunakan cara-cara kekerasan dalam memperjuangkan aspirasinya.

Kekerasan di sini tak hanya dalam arti fisik, tetapi juga kekerasan wacana yang terekspresi melalui kecenderungan mereka yang dengan mudah mengeluarkan fatwa murtad, kafir, syirik, dan semacamnya bahkan kepada sesama Muslim.

Pemerintah sudah seharusnya merespons dan mengantisipasi gejala perkembangan wahabi di nusantara, karena wahabisme tidak hanya mengancam keutuhan kehidupan beragama dan keragamannya di Indonesia, bahkan juga mengancam keutuhan NKRI.

Bukankah selama ini aksi-aksi teror yang terjadi di Indonesia dilakukan oleh orang-orang yang berideologi wahabi? Bukankah para pelaku bom Bali 1 dan 2, bom JW Mariot, bom Kedubes Australia, dan sejumlah aksi pemboman lainnya adalah orang-orang yang berideologi wahabi? Bukankah wahabi selalu berada dibalik aksi-aksi intimidasi dan sektarian terhadap golongan tertentu? Bukankah wahabi yang selalu menyatakan indonesia sebagai negara kafir, mensyirikkan upacara bendera, menganggap syirik Pancasila dan menyesatkan ajaran-ajaran NU?

Tapi sayangnya, momok ekstrem kanan yang dulu begitu diwaspadai oleh Orde Baru kini hilang dari kamus politik Indonesia. Kelompok Islam radikal memang berhasil “ditumpas” rezim Orde Baru pada tahun 1980-an. Namun, dalam waktu hampir bersamaan generasi di bawahnya diam-diam membangun jaringan di kampus-kampus, dan membangun gerakkan bawah tanah dalam menyiapkan kader-kader yang militan. Hal ini sudah terbukti dengan terkirimnya para jihadis asal Indonesia, yang bergabung dengan ISIL dan Jabha Nusra untuk berperang di Suriah dan Irak.

Mereka tidak hanya mengirim kadernya ke Suriah dan Irak saja, tetapi mereka juga sudah lama mengirim misionaris wahabi ke plosok-plosok indonesia, disana mereka membangun sekolah-sekolah agama dan masjid, melatih anak-anak, dan mengirim sejumlah besar pemuda Indonesia untuk belajar agama di Arab Saudi. Fenomena ekstremisme relegius ini, sengaja diciptakan wahabi sebagai kamuflase untuk menarik simpati masyarakat.

Baca juga: Memahami Propaganda Wahabi Menjauhkan Umat Dari Para Ulama

Apalagi Indonesia adalah negara yang wilayahnya subur. Ditanami apa saja tumbuh. Gerakan apa pun yang masuk ke Indonesia bisa cepat tumbuh, apalagi gerakan tersebut masuk dengan pola yang baik dan rapi. Dana mereka juga cukup banyak. Simpati dari para pemilik dana itu mengalir dari Timur Tengah (Saudi Arabia) dan mengalir sangat deras, sehingga itu cukup memudahkan kerja keras mereka. Mereka bekerja sama dengan percetakan, media, dan radio serta stasiun televisi dalam menyebarkan paham wahabi.

Fenomena radikalisme dengan berbalut baju agama seperti ini, sungguh sangat mengkhawatirkan dan dinilai paling krusial. Seharusnya wajah seram semacam itu, tak boleh lagi tumbuh berkembang baik di Indonesia maupun di negara manapun. Karena realitas ini mengancam stabilitas dan keamanan negara serta melahirkan gesekan keras antar umat beragama.

Seharusnya, kita menyadari bahwa Indonesia adalah negara plural yang terdiri dari beragam suku, ras, agama, budaya yang berbeda-beda tapi tetap satu Indonesia. Pluralisme yang menjadi ciri bangsa dan Negara Indonesia ini, semestinya diimbangi dengan demokratisasi yang kuat sehingga tidak menimbulkan gejolak baru yang berkembang.

Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamiin seyogyanya dimaknai oleh penganutnya dengan penuh keramahan, kedamaian, dan kasih sayang. Bukan sebaliknya, seolah-olah Islam menjadi sesuatu yang mengerikan, menyeramkan, dan menakutkan bagi umat lain. Wallahu a’lam bishshowaab..

 

Source

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *