Mengapa Kita Menggunakan Awalan Sayyidina dan Maulana Untuk Nama Rasulullah SAW?

Menggunakan Awalan Sayyidina dan Maulana Untuk Nama Rasulullah SAW

Pecihitam.org – Sebagian dari kaum Wahabi juga membid‘ahkan panggilan Sayidina atau Maulana di depan nama Muhammad Rasulullah Saw. Bahkan Khalid Basalamah di salah satu Ceramahnya di Youtube mengatakan bahwa Menggunakan “Sayyidina” adalah merendahkan derajat Nabi. Hal Ini sangat berkaitan dengan lemahnya kesediaan kaum Wahabi untuk melihat sisi batin tentang penghormatan kepada Rasulallah Saw.

Allah Swt. memerintahkan umat Islam agar menjunjung tinggi martabat Rasulullah Saw., menghormati dan memuliakan beliau, bahkan melarang kita memanggil atau menyebut nama beliau dengan cara sebagaimana kita menyebut nama orang di antara sesama kita. Larangan tersebut tidak berarti lain, kecuali untuk menjaga kehormatan dan kemuliaan Rasulallah Saw.

Allah Swt. berfirman:

لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا ۚ قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا ۚ فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.”. (QS. An-Nur: 63).

Mengenai ayat An-Nur ini, Ash-Shawi mengatakan:

“Makna ayat itu ialah janganlah kalian memanggil atau menyebut nama Rasulallah Saw. cukup dengan nama beliau saja, seperti ‘Hai Muhamad’ atau cukup dengan nama julukannya saja ‘Hai Abul Qasim.’ Hendaklah kalian menyebut namanya atau memanggilnya dengan penuh hormat, dengan menyebut kemuliaan dan keagungannya.

Jadi, tidak patut bagi kita menyebut nama beliau Saw. tanpa menunjukkan penghormatan dan pemuliaan kita kepada beliau Saw., baik dikala beliau masih hidup di dunia maupun setelah beliau kembali keharibaan Allah Swt. Yang sudah jelas ialah, orang yang tidak mengindahkan ayat tersebut, berarti tidak mengindahkan larangan Allah dalam Al-Quran. Sikap demikian bukanlah sikap orang beriman.”

Syeikh Muhamad Sulaiman Faraj dalam risalahnya Dala’ilul-Mahabbah Wa Ta’dzimul-Maqam Fis-Shalati Was-Salam an Sayidil-Anam dengan tegas mengatakan:

“Menyebut nama Rasulallah Saw. dengan tambahan kata Sayidina (junjungan kita) di depannya merupakan suatu keharusan bagi setiap muslim yang mencintai beliau Saw. Sebab kata tersebut menunjukkan kemuliaan martabat dan ketinggian kedudukan beliau. Allah Swt. memerintahkan umat Islam supaya menjunjung tinggi, menghormati dan memuliakan martabat Rasulallah Saw.. Bahkan, melarang kita memanggil atau menyebut nama beliau dengan cara sebagaimana kita menyebut nama orang diantara sesama kita. Larangan tersebut tidak berarti lain, kecuali untuk menjaga kehormatan dan kemuliaan Rasulallah Saw”

Dalam kitab Al-Iklil Fi Istinbathit-Tanzil Imam Suyuthi menulis:

“Dengan turunnya ayat tersebut, Allah melarang umat Islam menyebut atau memanggil beliau Saw. hanya dengan namanya. Tapi harus menyebut atau memanggil beliau dengan Ya Rasulallah atau Ya Nabiyullah. Menurut kenyataan sebutan atau panggilan demikian itu tetap berlaku, kendati beliau telah wafat.”

Dalam kitab Fathul Bari syarh Sahih Bukhari juga terdapat penegasan seperti tersebut di atas. Keterangan sebuah riwayat berasal dari Ibnu Abbas r.a. menegaskan hal ini:

“Sebelum ayat tersebut turun, kaum Muslimin memanggil Rasulallah Saw. hanya dengan ‘Hai Muhamad,’ ‘Hai Ahmad,’ ‘Hai Abul-Qasim’ dan lain sebagainya. Dengan menurunkan ayat itu Allah Swt. melarang mereka menyebut atau memanggil Rasulallah Saw. dengan ucapan-ucapan tadi. Mereka kemudian menggantinya dengan kata-kata: Ya Rasulallah, dan Ya Nabiyullah.”

Ayat-ayat lain yang berkaitan gelar sayid untuk pribadi seseorang, antara lain:

Allah Swt. menyebut Nabi Yahya a.s. dengan predikat sayid, “…Allah memberi kabar gembira kepadamu (Hai Zakariya) akan kelahiran seorang puteramu, Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang dari) Allah, seorang sayid (terkemuka, panutan), (sanggup) menahan diri (dari hawa nafsu) dan Nabi dari keturunan orang-orang saleh”. (QS Ali-Imran[3]:39)

Para penghuni neraka pun menyebut orang-orang yang menjerumuskan mereka dengan istilah saadat (jamak dari kata sayid) “Dan mereka (penghuni neraka) berkata, ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati para pemimpin (sadatanaa jamak dari sayid) dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar”. (QS. Al-Ahzab [33]:67).

Seorang suami dapat disebut dengan kata sayid, sebagaimana firman Allah Swt., “Wanita itu menarik qamis (baju) Yusuf dari belakang hingga koyak, kemudian kedua-duanya memergoki sayid (suami) wanita itu didepan pintu”. (QS Yusuf [12]:25).

Sedang dalam hadis, antara lain disebutkan:

  • “Setiap anak Adam adalah Sayid. Seorang suami adalah sayid bagi istrinya dan seorang istri adalah sayidah bagi keluarganya (rumah tangganya)”. (HR Bukhari dan Adz-Dzahabi).
  • Rasulallah Saw. bersabda, “Janganlah kalian berkata (kepada seorang budak kepada majikan nya), ‘beri makan Rabmu!’, ‘wudukan Rab mu!’, tapi ucapkanlah ‘Sayidi dan Maulaya (tuanku dan junjunganku)’. Jangan pula kalian (para pemilik budak) berkata pada mereka, ‘wahai Hambaku’, tapi ucapkanlah: ‘wahai anak’, ‘wahai pembantu’” (Shahih-Bukhari hadis no.2414). Hadis semakna juga ada dalam Shahih Muslim hadis no. 2249.
  • Rasulallah Saw. membolehkan ucapan sayidi (tuanku) atau maulaya (tuan muliaku) seorang budak terhadap tuannya. Berkata para ahli hadis: “Kalau antara tuan yang memiliki budak saja boleh menggunakan sayidi wa maulaya atau sayidina wa maulana, maka sungguh Nabi Saw. jauh lebih berhak dari semua pemilik budak itu!”.
  • Dalam Sahih Muslim terdapat hadis, Rasulallah Saw. memberitahu para sahabatnya:
    “Bahwa pada hari kiamat kelak Allah Swt. akan menggugat hamba-hambaNya, ‘Bukankah engkau telah Kumuliakan dan Kujadikan Sayid?’”
  • Bukhari dan Muslim dalam Shahihnya meriwayat- kan, Rasulallah Saw. bersabda: “Aku sayid anak Adam…”. Ibnu Abbas r.a mengatakan, makna sayid dalam hadis ini ialah orang yang paling mulia di sisi Allah. Qatadah r.a. mengatakan, Rasulallah Saw. adalah seorang sayid yang tidak pernah dapat dikalahkan oleh amarahnya.
  • Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Ibnu Majah dan At-Tirmidzi, Rasulallah Saw. bersabda: “Aku adalah sayid anak Adam pada hari kiamat”. Sumber riwayat lain yang diketengahkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal ,Imam Bukhari dan Imam Muslim, mengatakan bahwa Rasulallah Saw. bersabda: “Aku sayid semua manusia pada hari kiamat”.
  • Sebuah hadis yang jelas mengisyaratkan keharusan menyebut nama Rasulallah Saw. diawali dengan kata sayidina diketengahkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak. Hadis yang mempunyai isnad shahih ini berasal dari Jabir bin Abdullah r.a. yang mengatakan sebagai berikut:
  • “Pada suatu hari, kulihat Rasulallah Saw. naik keatas mimbar. Setelah memanjatkan puji syukur kehadirat Allah Saw. beliau bertanya: ‘Siapakah aku ini?’ Kami menyahut: ‘Rasulallah!’ Beliau bertanya lagi: ‘Ya, benar, tetapi siapakah aku ini?’. Kami menjawab: Muhamad bin Abdul-Mutthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf!’ Beliau kemudian menyatakan: ‘Aku sayid anak Adam’.”
  • Ibnu Athaillah dalam bukunya Miftahul-Falah mewanti-wanti pembacanya: “Hendaknya anda berhati-hati jangan sampai meninggalkan lafadz sayidina dalam bershalawat, karena dalam lafazh itu terdapat rahasia yang tampak jelas bagi orang yang selalu mengamalkannya”.

Beberapa firman Allah Swt dan hadis diatas cukup gamblang dan jelas kata-kata sayid ditujukan kepada setiap manusia, apakah anak Adam yang paling tinggi martabatnya dan paling mulia kedudukannya di sisi Allah yaitu junjungan kita Nabi Muhamad Saw. tidak boleh disebut sayid? Menyebut nama beliau Saw. tanpa diawali dengan kata yang menunjukkan penghormatan berarti tidak sesuai dengan pengagungan yang selayaknya kepada kedudukan dan martabat beliau Saw.

Demikian pula kata maula yang berarti pengasuh, penguasa dan penolong.

Banyak terdapat dalam Al-Quran kata-kata ini, antara lain: “…Hari (kiamat) dimana seorang maula (pelindung) tidak dapat memberi manfaat apa pun kepada maula (yang dilindunginya) dan mereka tidak akan tertolong”. (QS Ad-Dukhan [44]:41). Begitu pula firman Allah Swt. dalam surah Al-Maidah[5] : 55 disebutkan juga kalimat Maula untuk Allah Swt., Rasul dan orang yang beriman.

Imam Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, Imam Turmduzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah mengetengahkan sebuah hadis, bahwa Rasulallah Saw. bersabda, “Man kuntu maulahu fa Aliyun maulahu” (Barangsiapa aku menjadi maula-nya [pemimpinnya], Ali [bin Abi Thalib] adalah maula-nya…”

Dari riwayat semuanya di atas, kita pun mengetahui dengan jelas bahwa Rasulallah Saw. adalah sayidina dan maulana. Demikian juga para ahlu-baitnya (keluarganya), semua adalah sayidina. Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulallah Saw. pernah berkata kepada puteri beliau, Siti Fathimah ra.:

يَا فَاطِمَة أمَا تَرْضيْنَ أَنْ تَكُوْنِي سَيِّدَةَ نِسَاءِ الْمُؤْمِنِيْنَ اَوْ سَيِّدَةَ نِسَاءِ هَذِهِ الأُمَّةِ

“Hai Fathimah, apakah engkau tidak puas menjadi sayidah kaum mukminin (kaum orang-orang yang beriman) atau sayidah kaum wanita umat ini?” Dalam Sahih Muslim disebutkan sabda Nabi Saw.:

يَا فَاطِمَة أمَا تَرْضيْنَ أَنْ تَكُوْنِي سَيِّدَةَ نِسَاءِ الْمُؤْمِناَتِ اَوْ سَيِّدَةَ نِسَاءِ هَذِهِ الأُمَّةِ

“Hai Fathimah, apakah engkau tidak puas menjadi sayidah mukminat (kaum wanitanya orang-orang yang beriman) atau sayidah kaum wanita umat ini ?”

Demikian pula halnya, terhadap dua orang cucu Rasulallah Saw. Al-Hasan dan Al-Husain radhiyallahu ‘anhuma. Imam Bukhari dan At-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadis yang berisnad shahih bahwa pada suatu hari Rasulallah Saw. bersabda:

الحَسَنُ وَ الحُسَيْنُ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Al-Hasan dan Al-Husain dua orang sayid pemuda ahli surga”.

Di dalam Al-Mustadrak, Al-Hakim mengetengahkan sebuah hadis dengan isnad shahih, “Abu Hurairah r.a. dalam menjawab ucapan salam Al-Hasan bin Ali r.a. selalu mengatakan, ‘Alaikas salam ya sayidi’. Atas pertanyaan seorang sahabat, ia menjawab: ‘Aku mendengar sendiri Rasulallah Saw. menyebutnya (Al-Hasan r.a.) sayid’”.

Bagaimana tercelanya orang yang berani membid‘ahkan penyebutan sayidina atau maulana di depan nama beliau Saw.?

Mungkin kelompok ini, terkelabui oleh pengarang hadis palsu yang berbunyi: “La tusayiduni fis-shalah” artinya “Jangan menyebutku (Nabi Muhamad Saw) sayid di dalam shalat”.

Tampaknya pengarang hadis palsu yang mengatasnamakan Rasulallah Saw. untuk mempertahankan pendiriannya itu lupa atau memang tidak mengerti bahwa di dalam bahasa Arab tidak pernah terdapat kata kerja tusayidu. Tidak ada kemungkinan sama sekali Rasulallah Saw. mengucapkan kata-kata dengan bahasa Arab gadungan seperti ini.

Dalam kitab Al-Hawi, Jalaluddin As-Suyuthi dengan tegas menyatakan bahwa “Tidak pernah ada hadis tusayidu, itu bathil!”; Imam Al-Hafidz As-Sakhawi dalam kitab Al-Maqashidul-Al-Hasanah menegaskan, “Hadis itu tidak karuan sumbernya!“; Imam Jalaluddin Al-Muhli, Imam As-Syamsur-Ramli, Imam Ibnu Hajar Al-Haitsami, Imam Al-Qari, para ahli Fiqih mazhab Sayfi’i dan mazhab Maliki dan lain-lainnya, semuanya mengatakan, “Hadis itu sama sekali tidak benar”.
Selain hadis palsu di atas tersebut, masih ada hadis palsu lainnya yang semakna: La tu’adzhzhimuni fil-masjid (Jangan mengagungkan aku [Nabi Muhamad Saw.] di masjid”. Imam As-Sakhawi dalam kitabnya Kanzul-Ifah menyatakan, hadis ini merupakan “Kebohongan yang diada-adakan”. Dalam kitab Kasyful Khufa Imam Al-Hafidz Al-Ajluni dengan tegas mengatakan: “Itu bathil!”.

Sebagaimana telah kami kemukakan, ketika Sa‘ad bin Mu’adz r.a datang dengan berkendaraan keledai, Rasulallah Saw. berkata kepada orang-orang yang hadir: “Qumu ila sayidikum au ila khairikum” artinya: “Berdirilah menghormati sayid (pemimpin) kalian, atau orang terbaik di antara kalian”.

Sekalipun, misalnya benar Rasulallah Saw. melarang para sahabatnya berdiri menghormati beliau Saw, tetapi beliau sendiri bahkan memerintahkan mereka supaya berdiri menghormati Sa’ad bin Mu’adz, apakah artinya? Itulah, tatakrama Islam!

Para sahabat Nabi juga menggunakan kata sayid untuk saling menyebut nama masing-masing. Ini dilakukan sebagai tanda saling hormat-menghormati dan harga-menghargai.

Begitu pula, misalnya ada orang yang berkata, ‘jangan mengagungkan aku di masjid kepada para hadirin yang didalam masjid, maka ucapannya itu merupakan tawadhu (rendah hati)’. Akan tetapi, kalau dikatakan bahwa perkataan tersebut diucapkan oleh Rasulallah Saw. atau sebagai hadis beliau Saw., jelas hal itu suatu pemalsuan yang terlampau berani!! Wallahu’alam.

Source

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *