Bagaimana Masa Depan Pesantren Salafi Wahabi di Indonesia?

Pecihitam.org – Bagaimana prospek pesantren Salafi? Ini pertanyaan yang tidak mudah dijawab karena terkait dengan dinamika paham dan gerakan Salafi itu sendiri, baik di Indonesia maupun di Arab Saudi, Yaman, dan Timteng keseluruhan.

Berbagai perubahan politik, agama, sosial-budaya, dan ekonomi yang terjadi di negara-negara ini mengandung implikasi serta konsekuensi bagi gerakan Salafi—termasuk pesantren Salafi—di Indonesia.

Pada saat yang sama, dinamika dan perubahan kehidupan politik, agama, dan sosial-budaya di Indonesia juga memengaruhi gerakan Salafi dan pesantrennya.

Dinamika ormas-ormas Islam arus utama yang kian mawas terhadap gerakan dan pesantren Salafi menciptakan iklim yang tidak lagi begitu kondusif bagi paham dan gerakan transnasional ini untuk bergerak menyebarkan pengaruhnya.

Perkembangan ini sedikit banyak memengaruhi pesantren Salafi. Kontrawacana dan bahkan kontragerakan dari lingkungan ormas Islam arus utama terhadap paham, gerakan, dan pesantren Salafi cenderung kian meningkat dari ormas Islam arus utama, seperti NU.

Bagi banyak ormas Islam arus utama, di antara doktrin Salafi-Wahabi yang bertumpu pada Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah, Asma wa Sifat, dan Mulkiyah, yang paling diwaspadai adalah al-Wala’ wa al-Bara’. Doktrin terakhir ini berarti “cinta dan benci” atau “asosiasi dan disasosiasi”.

Menurut doktrin ini, umat Islam harus menyukai berbagai usaha untuk memuliakan Islam dan umatnya. Umat Islam juga harus membenci segala sesuatu yang membenci Islam dan umatnya.

Dalam praktiknya, pengikut Salafi-Wahabi membatasi pergaulan agar tidak terkontaminasi pemikiran Islam lain yang mereka anggap keliru, atau bahkan sesat. Sebab itulah, mereka menjadi kelihatan eksklusif.

Faktor lain yang dapat membuat surutnya pesantren Salafi adalah pendanaan. Bukan rahasia lagi, pesantren Salafi mendapat banyak dana dari instansi pemerintah, lembaga swasta, dan individu di Arab Saudi.

Selain itu, mereka Salafi juga mendapat kucuran dana, misalnya dari Jam’iyah Ihya al-Turats al-Islami (Kuwait) dan Yayasan Syekh Aid al-Tsani al-Khayriyah.

Namun, sejak peristiwa 9/11 (2001) di Amerika Serikat, aliran dana dari Timur Tengah atau negara-negara lain menjadi lebih ketat. Beberapa lembaga yang sebelumnya menyuplai dana dibekukan karena terindikasi terkait terorisme.

Pemerintah Indonesia juga kian ketat memantau transfer dana dari negara-negara Arab; walau pihak-pihak terkait kemudian menemukan cara-cara baru dalam pengiriman dana.

Sumber keuangan kian sulit juga terkait “krisis keuangan” yang dihadapi Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir. Kemerosotan harga minyak membuat pendapatan negara merosot tajam; APBN 2017 Saudi juga defisit sampai 15 persen. Semua ini memengaruhi keuangan lembaga donor dan dermawan Arab Saudi.

Selain itu, dalam beberapa tahun Arab Saudi membelanjakan dana sangat besar untuk persenjataan. Hal ini bukan hanya sebagai antisipasi terhadap “ancaman” Iran, tetapi juga untuk mempersenjatai koalisi militer pimpinan Saudi yang berperang menghadapi kaum Houthi di Yaman.

Oleh karena itulah, gerakan dan pesantren Salafi di Indonesia harus lebih berusaha menggali dana dalam negeri Indonesia sendiri. Pesantren Salafi dengan mutu pendidikan yang baik dapat menarik sumbangan biaya pendidikan yang cenderung meningkat jumlahnya dari orangtua dan santri. Selain itu, juga ada dana zakat, infak, dan sedekah dari donatur.

Perkembangan lain yang bisa jadi juga berdampak pada gerakan Salafi-Wahabi di Indonesia adalah kebijakan putra mahkota Pangeran Muhammad bin Salman (MbS) yang menyatakan akan meninggalkan paham Wahabiyah. Atas alasan itu, Pemerintah Saudi menahan sejumlah ulama Saudi Wahabi. Menurut dia, paham radikal ini telah merusak citra Arab Saudi. Dia menyatakan kembali kepada paham dan praktik Islam yang damai dan toleran.

Sejauh mana kebijakan dan langkah Pangeran MbS berdampak terhadap gerakan Salafi-Wahabi di Indonesia masih perlu dicermati. Tetapi jelas, sedikit banyak dapat membuat menyurutnya momentum gerakan Salafi-Wahabi beserta pesantren Salafi-nya di Indonesia.

Pasang dan surutnya gerakan Salafi juga banyak tergantung dari internalnya sendiri. Bukan rahasia lagi, gerakan Salafi tidaklah homogen atau monolitik; sebaliknya terfragmentasi ke dalam banyak kelompok berdasar tingkat “Salafisme” (lebih literal atau lebih longgar), orientasi gerakan (politik atau dakwah/pendidikan), figur panutan di Arab Saudi atau Yaman atau tempat lain.

Oleh: Azyumardi Azra via REPUBLIKA.CO.ID

1 Comment

  1. faiz Reply

    Bismillah,
    Sangat komplek melihat permasalahan ini, apa yang terlihat tidak selamanya merefleksikan realita.
    ada hal yang sangat mendasar dalam mencermati tentang salafy itu sendiri, karena obyek yg di bicarakan juga tidak bisa terwakilkan oleh satu kelompok, sementara di pihak yang dianggap “salafy” sendiri tidak bisa di generalisir. Terlalu banyak kelompok yang berebut membawa nama Ahlussunnah wal jama’ah salafy, yang menjadi masalah adalah salafy diwakili oleh kelompok mana? salah dalam menentukan kelompok yang menjadi objek maka akan salah pula penilaian terhadap kelompok tersebut, artinya kelompok yang dianggap salafy tidak bisa di jadikan parameter dalam mengukur kebenaran.

    Sah sah saja seorang azyumardi azra menilai dan berpandangan tentang salafy, tetapi sudut pandang seorang azyumardi azra adalah sudut pandang yang jaraknya sangat jauh sehingga tidak mampu menjangkau realitas salafy yang sebenarnya.

    Mendengar tidak sama dengan melihat, melihat tidak selamanya sama dengan merasakan.
    Keindahan islam, keikhlasan beragama bukan di pagari oleh organisasi apapun, tapi itu semua bisa dirasakan manakala anda kembali ke jalan yang benar, yaitu jalannya para salaful ummah yaitu menjalankan perintah yang nabi dan para sahabat berada diatasnya.
    Wallahu a’lam bisshawab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *