Inilah Bedanya Ilmu yang Jelas Sanadnya dengan Ilmu Tanpa Sanad

Inilah Bedanya Ilmu yang Jelas Sanadnya dengan Ilmu Tanpa Sanad

Pecihitam.org – Ajaran Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah au Maturidiyah berbeda jauh dari ajaran Salafi Wahabi, yang mengakibatkan sikap dan pandangan ulama dan pengikutnya jauh berbeda. Demikian juga dalam mengambil ilmu agama. Ulama Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah sangat mementingkan sanad dari mana ilmu itu didapat.

Jauh berbeda dari Ulama Salafi Wahabi yang mengatakan bahwa ilmu sudah tertulis lengkap dari zaman salaf. Sanad hanya diperlukan di zaman salaf ketika menyampaikan Hadits. Katanya ilmu pengetahuan sudah berkembang sudah tertulis dalam buku. Jadi dengan membaca Kitab induk itu sudah cukup, tidak perlu pakai sanad yang sambung menyambung hingga ke penulis Kitabnya.

Silahkan Simak Video berikut hingga selesai:

Hakikat Perbedaan Ilmu yang Bersanad dan Ilmu Tanpa Sanad

Berikut kami sampaikan beberapa perbedaan yang sangat ketara antara ilmu yang diperoleh dengan sanad yang bersambung melalui guru ke guru sampai kepada Shahabat radhiallahu anhum dan seterusnya kepada Rasulullahi shallallahu alaihi wassalam dibanding dengan ilmu yang diperoleh tanpa sanad.

1. Perhatikan sebutan terhadap penganut Ahlussunnah wal Jamaah yang sebenarnya yaitu Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah. Ulama mereka langsung menyebut nama Ulama dari mana mereka menerima ilmu tentang Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah, yaitu mengikuti kepada manhaj (methode) Imam Abul Hasan Al Asy’ari (wafat 324H) dan Imam Abu Mansur Al Maturidi (wafat 333H).

Inilah Ulama yang menyusun secara lengkap susunan kaidah memahami Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah untuk menghadapi fitnah Aqidah ketika itu untuk mempertahankan Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah yang sebenarnya. Mereka berdua memperoleh ilmu Aqidah itu dari guru-guru mereka yang bersambung hingga Shahabat radhiallahu anhum dan seterusnya kepada Rasulullahi shallallahu alaihi wassalam. Kemudian diteruskan oleh murid-muridnya secara sambung menyambung tanpa putus hingga sampai kepada kita.

Demikian juga dengan ilmu Fiqih, Ahlussunnah wal Jamaah mengikuti salah satu dari Imam Mazhab yang 4, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafei dan Imam Ahmad bin Hanbal.

Bagaimana dengan ajaran WAHABI? Mereka tidak mau menyebut nama ulama yang pertama mengajarkan ajaran Aqidahnya pada nama fahamannya. Tetapi mereka langsung mengaku mengikuti ikut Quran dan Sunnah. Tapi tahukah anda, bahwa kalimat ini tidak lengkap, seharusnya mereka menyebut mengikuti Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman Ulama yang mereka ikuti itu, yaitu Ibnu Taimiyah (wafat 728H) dan yang mempopulerkannya yaitu Muhammad bin Abdul Wahab (wafat 1110H).

Oleh sebab itu Ulama Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah mengatakan golongan ini dengan golongan Wahabi. Nama ini dahulu diakui oleh mereka sendiri dengan bangganya, namun karena nama ini sudah “tidak laku” di Indonesia, mereka ganti dengan Salafi atau dakwah Sunnah.

Demikian juga dengan ilmu Fiqih, kaum Salafi Wahabi selalu mengatakan ikut Quran dan Sunnah, tidak mau menyebut bahwa mereka mengikuti satu dari Imam Mazhab yang empat.

2. Ulama Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah sangat mementingkan sanad ilmu, sebab mereka berkeyakinan ilmu agama itu ada dalam diri manusia yaitu pada hati dan akhlak para Ulama. Sedang Kitab adalah hanya catatan ilmu dari hati para Ulama, yang untuk memahaminya kita perlu kenal Ulama itu, agar pemahaman kita dalam membaca Kitab itu sama dengan yang difahami oleh Ulama yang menulisnya.

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam mengisyaratkan bahwa ilmu para Nabi memang diwariskan pada Ulama sebagaimana disebut dalam hadits berikut:

العلماء ورثة الأنبياء

Ulama adalah pewaris Nabi

Kemudian hadits berikut lebih menegaskan lagi bahwa ilmu ada pada ulama

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إِنَّ الله لا يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعَاً يَنْتَزِعُهُ من العِبادِ ولَكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ حتَّى إذا لَمْ يُبْقِ عَالِمٌ اتَّخَذَ الناس رؤسَاً جُهَّالاً ، فَسُئِلوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا-البخاري

Telah bersabda Rasulullahi shallallahu alaihi wassalam: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan serta merta mencabutnya dari hati manusia. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ‘ulama. Kalau Allah tidak lagi menyisakan seorang ‘ulama pun, maka manusia akan menjadikan pimpinan-pimpinan yang bodoh. Kemudian para pimpinan bodoh tersebut akan ditanya dan mereka pun berfatwa tanpa ilmu. Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan. [Al-Bukhari (100, 7307); Muslim (2673)]

Itu sebabnya duduk dan bertemu bersama Ulama adalah media belajar dan menimba ilmu yang utama, selain membaca Kitabnya. Dengan bertemu, melihat dan duduk bersama Ulama, kita akan dapat melihat tauladan, merasakan suasana bersama Ulama yang tidak dapat diperoleh kecuali dengan bertemu dan duduk bersama Ulama. Bukankah seorang muslim yang bertemu Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dan wafatnya dalam keadaan muslim mendapat gelar yang tidak diperoleh oleh muslim lain yaitu Shahabat radhiallahu anhum.

Ulama yang Ilmunya bersanad, akan selalu bercerita kepada muridnya tentang gurunya. Bahkan Ulama itu sangat ingin agar murid menjumpai gurunya itu, agar muridnya itu memperoleh ilmu dan berkat sebagaimana yang diperoleh oleh Ulama itu. Demikianlah sikap para Ulama yang ilmunya bersanad.

Bukankah doa yang selalu kita baca dalam Surat Al Fatihah, adalah meminta ditunjukkan oleh Allah, jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang yang telah Allah beri nikmat. Nikmat yang dimaksud adalah tentu nikmat Iman dan Islam. Orang yang telah diberi nikmat itulah para guru dan Ulama, yang belajar dari gurunya yang belajar dari gurunya yang sambung menyambung tanpa putus hingga sampai kepada Sahabat dan seterusnya sampai kepada Rasulullah shallallahu alaih wassalam, puncak pimpinan dari golongan orang yang telah diberi nikmat Iman dan Islam oleh Allah.

Itu pula sebabnya murid-murid sangat hormat pada gurunya, karena memuliakan ilmu warisan Rasulullah shallallahu alaih wassalam yang ada pada diri guru itu. Mereka sangat berterima kasih dan mendatangi gurunya ketika beliau masih hidup maupun sudah wafat dengan menziarahi makamnya. Murid-murid itu juga menziarahi makam Ulama-Ulama terdahulu yaitu guru dari guru mereka, karena begitulah gurunya memberi contoh kepada mereka.

Menziarahi dengan tujuan selain untuk mengingati mati, juga untuk mendoakan, mengingati jasa dan untuk lebih mengenal pribadi Ulama itu untuk dapat mengikuti jejak para Ulama itu. Itu pula sebabnya pengikut Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah menjaga peninggalan Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dan para Ulamanya agar kita dapat mengenal pribadi, mencintai dan mengikuti jejak para pendahulu mereka.

Kita selalu melihat bagaimana para murid menghadiahkan bacaan Al-Fatihah kepada guru-guru mereka, sebagai tanda terima kasih atas jasa para guru, dan berdoa kepada Allah seperti apa yang diminta dalam surat Al Fatihah agar ditunjukkan jalan seperti guru-guru mereka yang telah mendapatkan nikmat Iman dan Islam.

Berbeda jauh dari golongan Salafi Wahabi yang justru menghilangkan jejak dan peninggalan mereka itu, bahkan peninggalan Rasulullahu shallallahu alaihi wassalam –pun dihancurkan oleh mereka. Mereka merasa tidak perlu mengenal gurunya lebih dekat sebab ilmu agama menurut mereka ada pada Kitab tanpa perlu guru yang bersanad (lihat video di atas).

3. Salah satu sebab pentingnya belajar bersanad adalah untuk memastikan bahwa ilmu yang disampaikan dan diterima dari Ulama dari satu generasi ke Ulama di generasi berikutnya adalah sama sebagaimana ilmu itu diterima dar Ulama di generasi sebelumnya. Hal ini sangat penting, sebab cara penyampaian seperti ini menjamin kebenaran pemahaman ilmu yang diwariskan.

Sedang ilmu yang disampaikan dengan hanya membaca Kitab dari Ulama Salaf tanpa sanad ilmu, sangat memungkinkan ilmu yang diterima sudah dimasukkan oleh pemahaman dari dirinya sendiri dan terpengaruh hawa nafsunya.

Belum lagi kalau Kitab itu sudah dipalsukan textnya, sebagaimana yang terjadi pada Kitab-Kitab Ulama Muktabar, Atau diberi catatan kaki yang menyesatkan yang sama sekali tidak jelas sanad asalnya. Bahkan catatan kaki yang menyesatkan ini juga ada pada Kitab terjemah Al Qur’an.

Dengan 3 point ini saja kita dapat melihat pentingnya sanad ilmu dan bagaimana akibatnya kalau belajar agama tanpa sanad.

Wallahu a’lam

Sanad: Pemudade

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *