Betulkah Islam Nusantara Itu Agama Baru dan Anti Arab? Itu FITNAH

Betulkah Islam Nusantara Itu Agama Baru dan Anti Arab? Itu FITNAH

Pecihitam.org – Beberapa oknum pembenci NU hingga saat ini masih terus membangun Narasi Negatif tentang Islam Nusantara di Sosial Media, bahkan tidak sedikit yang menjudge bahwa Islam Nusantara merupakan Agama Baru dan Anti Arab.

Wakil Rektor III Universitas Sains Al-Qur’an H Samsul Munir mengemukakan bahwa terdapat banyak orang yang gagal memahami Islam Nusantara lalu dengan serta merta menuding bahwa Islam Nusantara tidak sesuai dengan Islam yang sebenarnya. Dalam kondisi seperti itu, seseorang diajurkan untuk melakukan klarifikasi untuk memperjelas duduk perkara Islam Nusantara.

Baca juga: Benarkah Semua Perbuatan Nabi Itu Sunnah yang Harus Diikuti?

Sebetulnya Defenisi dan Konsep tentang Islam Nusantara sudah banyak dibahas dan dijelaskan oleh Para Penggagas Istilah tersebut, bahkan juga sudah terlalu sering dijawab oleh banyak orang tentang ini.

Kiai Said Aqil (Ketua Umum PBNU) menjelaskan Islam Nusantara adalah Islam yang menggabungkan Agama Islam dengan budaya, seperti Islam yang bersatu dengan semangat nasionalisme, atau Islam yang bersatu dengan semangat kebangsaan. Penggagas utama Islam Nusantara adalah Wali Songo, sehingga melahirkan semangat Islam yang ramah dan santun.

Puncak konsep Islam Nusantara, adalah saat KH Hasyim Asy’ari berhasil melakukan penggabungan Islam dan kebangsaan. Maka kesimpulannya, “Islam Nusantara bukan mazhab, bukan aliran, tapi tipologi, mumayyizaat, khashais,” terang Kiai Said.

Kiai Said juga pernah menegaskan bahwa Islam Nusantara bukanlah Islam yang anti-Arab dan Islam yang benci Arab. Tapi Islam Nusantara adalah “Islam yang santun, berbudaya, ramah, toleran, berakhlak, dan berperadaban. Inilah Islam Nusantara,” tegasnya.

Simak Juga penjelasan Sayyid Seif Alwi Ba’alawy dalam video berikut:

Lalu bagaimana saya memahami Islam Nusantara ini?

Pertama, saya ingin megatakan bahwa Menganut Islam, sudah pasti harus berpedoman pada al-Qur’an dan al-Hadits. Kedua sumber Islam ini berbahasa Arab. Tidak mungkin seorang muslim bisa membaca dan memahami al-Qur’an dan al-Hadits dengan baik tanpa mahir bahasa Arab.

Oleh karena itu, jika Anda belajar di Pondok Pesantren–lembaga pengusung Islam Nusantara–pertama yang diajarkan adalah bahasa Arab. Mulai dari cara menulis Arab yang benar (khath, imla’), melafalkan al-Qur’an sesuai dg tajwid dan makharijul huruf, hingga belajar gramatika Arab (nahwu), morfologi Arab (sharaf), semantika Arab (balaghah), leksikologi Arab (mu’jamiyat), bahkan juga sastra Arab (badi’, bayan, ma’ani, qawafi, ‘arudl, dll).

Kitab-kitab kuning berbahasa Arab tentang ilmu-ilmu bahasa Arab ini, jika belajarnya dari dasar, tidak habis dipelajari dalam waktu 5 tahun.

Dalam waktu yang sama, para santri juga belajar ilmu-ilmu keislaman, yang semua sumber belajarnya berbahasa Arab. Bidang kajiannya beragam. Ada ilmu fiqh (hukum Islam), ilmu ushul fiqh (metodologi hukum Islam), ilmu qawa’id fiqhiyah (prinsip-prinsip yurisprudensi), tafsir al-Qur’an, Hadits dan syarahnya, ‘ulumul Qur’an, ‘ulumul Hadits, tarikh (sejarah), ilmu falak, dll. Sekali lagi, semua sumber ilmu ini juga berbahasa Arab.

Jika Anda cermati pula, sebagian besar nama-nama kyai dan santri pengusung Islam Nusantara beserta keluarganya juga menggunakan nama Arab. Tulisan mereka di Pesantren juga menggunakan bahasa Arab atau Arab pegon. Bahkan, nyanyian nasionalisme Indonesia yang sekarang ini marak didengungkan setiap ceremoni juga berbahasa Arab. Yakni, mars Yalal Wathon.

Sampai sini, terang benderang bahwa Islam Nusantara tidak anti Arab. Malah, mereka ahli berbahasa Arab, baik dalam tulisan maupun ucapan.

Adalah persepsi yang salah bahwa Islam Nusantara anti Arab dan alergi dengan Arab. Pun fitnah yang keji, sebagaimana video yang diviralkan, menuduh bahwa sholat muslim Nusantara menggunakan bahasa non-Arab. Jangankan ibadah sholat yang jelas disyariatkan, doa, sholawatan, bahkan lagu nasionalisme Indonesia juga berbahasa Arab.

Nah, meski muslim Nusantara mencintai bahasa Arab, tapi tidak Arabis. Bukan penganut Arabisme. Di sini bedanya.

Muslim Nusantara menguasai bahasa Arab digunakan sebagai sarana ibadah, alat untuk memahami al-Qur’an, al-Hadits, dan pendapat para ulama di masa lampau yang sebagian besar ditulis dalam bahasa Arab. Selebihnya, digunakan untuk alat komunikasi dan pengantar studi yang membutuhkan bahasa Arab.

Dalam implementasi dan amaliah budaya, Islam Nusantara sepenuhnya menggunakan nalar dan praktik kebudayaan Nusantara. Lebih spesifik kebudayaan Indonesia. Bukan kebudayaan Arab. Kami tidak Arabis dan bukan penganut Arabisme.

Baca juga: Kritik Terhadap Buku Salafi Wahabi: Ajaran Madzhab Syafi’i yang Ditinggalkan

Bahasa sehari-hari menggunakan bahasa Indonesia. Cara berpakaian, berperilaku, dan bermu’amalah, semuanya menggunakan kebudayaan yang berlaku di Indonesia. Termasuk dalam berbangsa dan bernegara, kami mengikuti kesepakatan nasional (ijma’ wathoniy) yang sudah lazim. Yakni berideologi Pancasila, berkonstitusi UUD 1945, berprinsip Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI bentuk final (harga mati, tidak bisa ditawar-tawar lagi).

Namanya saja Islam Nusantara, maka aqidahnya jelas Islam, berpedoman pada al-Qur’an, al-Hadits, Ijma’ dan Qiyas. Tapi dasar kebangsaan kami adalah Pancasila dan UUD 1945. Praktik kebudayaannya adalah kebudayaan yang berlaku dan berkembang di Indonesia.

Di sini memang dibutuhkan kecerdasan nalar untuk memilah mana ajaran Islam dan mana kebudayaan Arab. Sebagai ajaran Islam, tentu wajib diikuti dan diamalkan oleh setiap muslim. Tapi sebagai kebudayaan, tentu tidak harus diikuti dan tidak boleh dipaksakan untuk diterapkan. Karena Indonesia punya lanskap kebudayaannya sendiri, yakni kebudayaan Nusantara. Di sini ada budaya Jawa, budaya Sunda, budaya Minang, budaya Aceh, budaya Makassar, budaya Batak, budaya Sasak, budaya Papua, dan sebagainya.

Dengan penjelasan ini, tampak jelas bahwa Islam Nusantara bisa memilah dan sekaligus mendamaikan antara aqidah, kebangsaan, dan kebudayaan. Atau, antara keislaman dan keindonesiaan dalam satu nafas kehidupan.

Baca juga: Sumber Sama, Mengapa Banyak Perbedaan Pendapat dalam Islam?

Bangsa Arab pun tidak berkepentingan bahwa menjadi muslim harus berbudaya Arab. Mereka memahami, nama agama dan mana budaya. Sebagai kebudayaan Arab, bangsa Arab pun tentu tidak akan memaksakan untuk diikuti. Mereka tidak akan memaksakan kita harus menjadi Arabis, atau penganut Arabisme.

Atas pemahaman ini, maka Islam Nusantara tetap berhubungan baik dan bekerjasama dengan negara manapun, termasuk negara-negara Arab. Banyak sekali anak-anak muslim Nusantara belajar bertahun-tahun di negara-negara Arab. Mereka mahir bahasa Arab, menguasai ilmu-ilmu keislaman secara mendalam, tapi tetap berkebudayaan Nusantara.

ITULAH ISLAM NUSANTARA. Islam yang selama ini kita praktikkan di Indonesia. Semoga penjelasan singkat ini bisa memberikan jawaban atas kegalauan mereka tentang anti Arab.

KA Senja Utama Yogya, 29/09/2018. @marzukiwahid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *