Kaedah Nahwu Islam Nusantara ala Santri Pondok Pesantren As’adiyah Wajo

Kaedah Nahwu Islam Nusantara ala Santri Pondok Pesantren As'adiyah Wajo

Pecihitam.org – Istilah Islam Nusantara masih menjadi materi perdebatan yang belum berkesudahan. Berbagai kalangan yang Pro maupun Kontra berusaha memberikan Defenisi sendiri terkait dengan Istilah ini. Tak Terkecuali Ustadz Abdul Waris Ahmad, Santri Pondok Pesantren As’adiyah Wajo.

Ustadz Waris sendiri berusaha memberikan defenisi Islam Nusantara dengan pendekatan Ilmu Nahwu dan Gaya penulisan ala Santri Sulawesi Selatan.

Berikut tulisan Ustadz Abdul Waris (30/10/2018) yang kami kutip dari Situs Blog pribadinya abdulwarisahmad.com

“Saat pertama kali menjadi santri di Pondok Pesantren As’adiyah (1997), salah satu kenangan yang tak akan lekang oleh waktu adalah pelajaran ilmu nahwu dan sharf. Saya menyaksikan beberapa santri luar biasa. Mereka telah mampu menguraikan contoh-contoh kalimat dalam ilmu nahwu semisal “قام زيد” dengan menggunakan bahasa Arab pula:

قام : فعل ماض مبني على الفتح لا محل له من الإعراب . زيد: فاعل وهو مرفوع و علامة رفعه الضمة الظاهرة في آخره لأنه اسم المفرد

Menyaksikan kehebatan santri-santri itu, saya hanya terdiam-kagum, menjadi saksi atas pencapaian mereka. Saya takut sekali jika dilirik oleh gurutta karena khawatir akan diminta melakukan hal yang sama.

Apa yang saya lakukan untuk bisa mendekati pencapaian mereka?

Baca juga: Ketua Umum PBNU, Menebarkan Nilai Islam Nusantara di Korea Selatan

Bukan berpangku tangan layaknya penonton sepak bola yang terkadang lebih pintar dari pada pemain terlatih, bukan pula menghayal berekspektasi mencapai sesuatu tanpa ada action. Namun, harus mencari cara terbaik untuk itu.

Saya menghafal bait-bait dan istilah-istilah nahwu meskipun sama sekali tidak paham. Sebatas bentuk perwujudan ketaatan saya kepada guru. Pesan Gurutta KH. Idman Salewe, “Apala’i baite’e. Apala toi tanra-tanranna Era’e, narekko muapalai 99,99% macako mannahawu.” Artinya, hafalkan bait-bait (alfiyah Ibnu Malik), hafalkan juga tanda-tanda i’rab, jika kamu sudah hafal, maka 99,99% pasti kamu ahli di bidang nahwu. Demikian gurutta Fung Ide’ berkali-kali menyampaikannya.

Tradisi menghafal memang bagaikan urat nadi dalam proses belajar mengajar di As’adiyah, khususnya dalam ilmu alat dan ilmu agama. Almarhum AG. Abunawas Bintang pernah berwasiat, “Narekko muapalai, melemma toi mupahang, yakki muallupaiwi apalamu, monro mui pahangenna, narekko de mu pahangi, monro mui apala’na.” Artinya, jika kamu hafal, niscaya kamu juga akan mudah memahaminya. Sekiranya hafalanmu minggat, maka pemahamanmu akan kekal. Sebaliknya, jika pemahamanmu menjauh, maka keuntungannya adalah pada hafalan.

Benar. Saya adalah salah satu dari sekian santri yang merasakan itu. Dalam perkembangan selanjutnya, kami sudah mulai merangkak ke kitab-kitab lain seperti al-qawaid al-Asasiyah li al-lughah al-Arabiyah dan Jawahir al-Balagah oleh Sayyid Ahmad al-Hasyimi, al-Tatbiq al-nahwi, dan kitab lainnya. Mempelajari ilmu nahwu dan semantik membawa kami mulai memahami apa yang wajib kami hafalkan pada merhalah sebelumnya.

Cerita ini akan saya sajikan dalam salah satu term dalam ilmu nahwu yang dikaitkan dengan kajian Islam Nusantara.

Baca juga: Ketika Wajah Islam Nusantara Dilirik Dunia Internasional

Term yang paling berkesan dalam proses pembelajaran adalah al-idafah. Susunan idafah (mudaf dan mudaf ilaih) ini ada tiga kemungkinan makna yakni pertama idafah makna من menjelaskan asal muasal sesuatu seperti طالب الأسعدية (santri dari As’adiyah) asalnya adalah طالب من الأسعدية, dibuang harf al-jar من, dipahami bahwa idafah terjadi karena menghilngkan harf al-jar sehingga mudaf ilaih harus berbaris kasrah;kedua, idafah makna ل (kepemilikan/kepunyaan), ini juga wajib men-jar mudaf ilaih, contoh كتاب محمد (buku milik Muhammad) asal kalimatnya adalah كتاب لمحمد ; dan yang ketiga, idafah dengan makna في (keterangan tempat atau waktu), اسلام نوسانترا asalnya adalah اسلام في نوسانترا (Islam yang ada di Nusantara).

Menelaah term di atas cukup memberikan pemahaman kepada pembaca bahwa Idafah setidaknya memiliki 3 makna (baca Ahmad al-Hasyimi, al-qawaid al-asasiyah li al-lughah al-arabiyah. h. 272), yakni asal (al-jins), kepemilikan (al-milk) dan keterangan tempat (al-dzarf). Jika dikaitkan dengan pembacaan dalam suatu statemen maka kita akan terdidik memberi makna dari berbagai sisi. bukan hanya satu, akan tetapi setidaknya pada tiga poin diatas.

Seyogyanya pelajaran nahwu yang gurutta (kiai) telorkan, cukup mendidik kita untuk memahami naskah/istilah secara komprehensif bukan secara parsial. Pemahaman secara parsial akan membawa kita pada kondisi “gagal paham”. Jika (من) atau (ل) saja yang ditolerir, sementara sisi lain (في) dianggap tidak ada.

Dinamika hidup itu pasti ada. Keberagaman adalah keniscayaan, perbedaan pandangan pasti tak terhindarkan, namun kita harus mampu memahami dan menempatkan diri dalam situasi dan kondisi itu. Dalam berinteraksi; berucap dan bertindak harus proporsional. Tidak semua ucapan dan tindakan seseorang merupakan representasi dari dirinya.

Sebuah kata bijak ” انظر من قال و لا تنظر ما قال atau sebaliknya انظر ما قال و لا تنظر من قال” artinya fokuslah pada orang yang berkata dan abaikan makalahnya. Sebaliknya fokuslah pada makalahnya dan abaikan pemakalah.

Rasulullah pernah melewati sahabatnya yang sedang “mengawinkan” pohon kurma, Rasulullah saw menegurnya “lau lam taf’alu lasaluha” artinya kamu tidak melakukan itu pun akan tetap bagus hasilnya. Mereka menghentikan perbuatannya, karena teguran nabi tersebut (mereka yakin bahwa apa yang nabi katakan pasti benar). Namun, kurma justru tidak menghasilkan, gagal panen. Nabi berkata “ma linakhlikum?” Kenapa begitu hasil kurmamu? Mereka menjawab, “Karena nabi mengatakan begini, dan begitu”. Kemudian beliau bersabda “Kalian lebih mengetahui urusan duniamu” (baca HR. Muslim no. 2363).

Ketika akan terjadi perang Khandak, Salman Al-farisi mengusulkan penggalian parit sebagai bagian dari strategi perang yang merupakan keahliannya di Persia. Rasulullah saw menyetujui dan memerintahkan umat Islam untuk melakukannya. Maka terjadilah peristiwa penggalian yang pertama kali di tanah Arab waktu itu.

Kedua riwayat di atas menunjukkan bahwa nabi tidak sepenuhnya menjadi diri sendiri, bertindak sendiri. Akan tetapi selalu melibatkan orang lain, apalagi urusan pertanian dan peperangan. Kekeliruan nabi dalam menegur sahabatnya “mengawinkan kurma” bukanlah representasi dari diri nabi sehingga dianggap nabi tidak berpengetahuan atau tidak ahli dalam strategi perang.

Sayangnya hari ini, kita masih belum bisa meneladani nabi dari sisi ini. Kita masih terlalu ekstrim dalam menilai sesorang yang kebetulan berbeda paham dengan kita. Terkadang hanya satu sisi yang kita lihat sudah men-justice orang lain bidah, sesat, kafir dan sebagainya. Sikap skeptis mellihat kekurangan seseorang terkadang membawa kita ke suatu kesimpulan yang belum tentu benar.

Kembali ke Term Idafah dangan Islam Nusantara. Menukar fungsi harf al-jar kepada yang bukan semestinya juga akan menyebabkan konsekuensi makna. Seperti huruf في (ket. tempat) dipaksakan ke huruf ل (kepemilikan), demikian pula sebaliknya, akan memaksa kita berinterpretasi berbeda dan berbahaya.

Sebetulnya term “Islam Nusantara” jika dikaitkan dengan ilmu nahwu (idafah) memiliki makna fi yang berarti di Indonesia atau “nusantara” nama bagi seluruh kepulauan di Indonesia. Term yang dikembangkan NU ini tidak akan keluar dari beberapa prinsip: pertama, berdakwah dengan mau’izatul hasanah (berdialog dengan penuh kesantunan); kedua, toleran terhadap budaya lokal yang tidak bertentangan dengan agama; ketiga, memberi teladan dengan ahlak mulia; keempat, memprioritaskan “maslahah ammah diatas maslahah khassah“; kelima, berprinsip “irtikab akhaf dararin“; dan keenam, berprinsip “darul mafasid muqaddamun ala jalbil masalih“.

Islam sejak masuknya ke nusantara telah berupaya melakukan pendekatan dakwah dengan empat hal; adaptasi, netralisasi, minimalisasi, dan amputasi. Kesemua itu mirip dengan polarisasi wahyu selama kurang lebih 23 tahun. Ini tidak bertentangan dengan Alquran.

Bagi kami para “santri” belajar ilmu alat (bahasa arab dan seluruh cabangnya, ilmu tafsir, usul fikih, mustalah hadis, asbab nuzul, psikologi dll) sebelum memasuki fase aplikasi sesuatu yang wajib. Nas-nas Alquran atau hadis yang menajdi objek kajian, tidak akan mungkin bisa dipahami dengan baik jika ilmu itu tidak dimiliki.

Faktor gengsi dan arogansi (asabiyah) akan mengantarkan kepada stagnasi berpikir. Akibatnya, semua pandangan yang tidak sesuai keyakinannya akan sibuk menyalahkan. Nabi mengajarkan kepada kita لا تصدقوا اهل الكتاب و لا تكذبوهم “jangan membenarkan dan jangan pula menyalahkannya”, itu kepada ahlul kitab. bagaimana dengan sesama muslim? Sebaiknya jika tidak mendalami sesuatu lebih baik tawaqquf atau diam untuk menentukan sikap daripada terburu-buru sehingga orang lain menentukan sikap kita.

Kalau nabi mengajarkan kita ber-tatakrama antara umat beragama, bagaimana dengan sesama dan sekeyakinan? Ayo… kita bijaksana dalam menyikapi seluruh dinamika dan perbedaan karena dari situ kita akan semakin dewasa.”

Baca juga: Betulkah Islam Nusantara Itu Agama Baru dan Anti Arab? Itu FITNAH

Sebelumnya Kiai Said Aqil (Ketua Umum PBNU) juga peernah menjelaskan Islam Nusantara adalah Islam yang menggabungkan Agama Islam dengan budaya, seperti Islam yang bersatu dengan semangat nasionalisme, atau Islam yang bersatu dengan semangat kebangsaan. Penggagas utama Islam Nusantara adalah Wali Songo, sehingga melahirkan semangat Islam yang ramah dan santun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *