3 Macam Kebodohan yang Tidak Dapat Diobati Menurut Imam Al-Ghazali

3 Macam Kebodohan yang Tidak Dapat Diobati Menurut Imam Al-Ghazali

Pecihitam.org – Kebodohan adalah salah satu penyakit yang sangat berbahaya, terutama sekali bodoh dalam masalah agama. Kita diwajibkan untuk menuntut ilmu, apabila ada permasalahan yang belum kita ketahui maka hendaklah dengan segera kita bertanya kepada ahlinya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Orang bodoh yang bertanya tentang suatu ilmu tersebut terbagi kepada empat macam. Salah satunya dapat diobati kebodohannya, sedangkan tiga lainnya tidak dapat diobati.

Orang bodoh yang dapat diobati itu adalah orang yang bertanya untuk mencari petunjuk serta memiliki akal yang mampu untuk memahami. Orang yang hatinya tidak mampu dikalahkan oleh sifat dengki, marah, senang kepada hawa nafsu, pangkat dan harta, serta mencari jalan kebenaran yang lurus dan bertanyanya itu bukan berdasarkan kedengkian dan tidak karena mempersulit dan menguji.

Orang seperti inilah yang bisa diobati kebodohannya. Maka boleh bagimu untuk menjawab semua pertanyaannya, bahkan hukumnya wajib.

Sedangkan tiga orang lainnya yang tidak dapat diobati kebodohannya. Berikut ini penulis sebutkan kebodohan yang tak dapat diobati menurut Imam Al-Ghazali itu antara lain adalah:

Baca Juga:  Apa Maksud dari Istilah Wara’ dalam Ilmu Tasawuf? Begini Penjelasan Para Ulama

1. Kebodohan yang ada pada orang yang bertanya karena benci dan kedengkian. Ketika engkau menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang baik dan benar, fasih lagi jelas, maka justru jawabanmu itu akan semakin menambah kebencian, permusuhan dan kedengkiannya padamu. Maka sebaiknya engkau tidak merepotkan dirimu dengan menjawabnya. Sungguh tepat perkataan Ulama :

كلّ العداوة قد ترحى إزالتها ** إلاّ عداوة من عادك عن حسد

Artinya: “Sungguh setiap permusuhan bisa diharapkan hilangnya, kecuali permusuhan orang yang memusuhimu dengan sebab dengki”.

Hasud dengan setiap melakukan ucapan dan perbuatan adalah umpama menyalakan api pada ladang amalannya. Sebagaimana Sabda Nabi SAW:

الحسد يأكل الحسنات كما تأكل النار الحطب

“Hasud (kedengkian) itu dapat memakan (menghapus) segala amal kebaikan seperti halnya api yang melahap kayu yang kering”

2. Jika penyakitnya berupa hamaqah (kedunguan), maka ini juga tidak bisa diobati. Seperti perkataan Nabi Isa as :

إنّي ما عجزت عن إحياء الموتى وقد عجزت عن معالجة الأحمق

Baca Juga:  Neo-Sufisme dalam Gerakan Pembaruan Pemikiran Tasawuf

“Sesungguhnya bukannya aku tidak mampu menghidupkan orang yang mati, tetapi aku tidak mampu mengobati orang yang dungu.”

Penyakit dungu yaitu seperti seorang lelaki yang mencari ilmu dalam waktu yang singkat dan pernah belajar sedikit tentang ilmu akal dan syariat, kemudian dengan sebab kedunguannya itu ia bertanya kepada seorang alim yang agung yang telah menghabiskan umurnya dalam waktu yang lama untuk mempelajari ilmu-ilmu akal dan syariat.

Dan orang dungu itu tidak tahu dan menyangka bahwa permasalahan yang sulit baginya juga sulit bagi seorang alim yang agung. Ketika ia tidak mengetahui tingkatannya, maka ketika itu pertanyaannya adalah sebab kedunguannya.

Jadi sebaiknya dirimu tidak merepotkan diri dengan menjawabnya.

3. Seseorang yang bertanya karena meminta petunjuk, dan setiap ada perkataan orang alim yang tidak bisa dipahami ia merasa karena sempitnya kefahamannya.

Kemudian ia bertanya agar dapat berfaedah untuk dirinya, namun ia seorang yang sangat bodoh yang tidak mampu memahami hakikat suatu masalah.

Baca Juga:  Ilmul Yaqin, ‘Ainul Yaqin dan Haqqul Yaqin, 3 Tingkatan Yakin Menurut Ulama Tasawuf

Maka sebaiknya kamu juga tidak merepotkan diri dengan menjawabnya. Sebagaimana sabda Nabi SAW :

نَحْنُ مُعَاشِرُ الأنْبِياء أُمِرْنَا أَنْ نُكَلِّمَ النَّاسَ بِقَدْرِ عُقُولِهِمْ

“Kita sekalian golongan para Nabi, diperintah untuk berbicara dengan manusia sesuai dengan kemampuan akal mereka.”

Demikian sedikit pembahasan mengenai penyakit parah berupa Kebodohan menurut Imam Al-Ghazali. Semoga Allah menyembuhkan kita dari segala penyakit, lahir maupun bathin, salah satunya kebodahan ini.

Hendaklah kita selalu memperbaiki diri dari waktu kewaktu agar menjadi orang-orang yang mendapat keberuntungan di dunia dan di akhirat kelak, amiin!. Wallahua’lambisshawab!

[Disarikan dari kitab “Ayyuhal Walad” karya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali rahimahullah]

Muhammad Haekal

Leave a Reply

Your email address will not be published.