77 Cabang Iman yang Terdapat Dalam Kitab Qomi’ut Thughyan

77 cabang iman

Pecihitam.org – Sebagaimana yang kita ketahui disebutkan dalam ajaran Islam bahwa ada enam rukun iman seperti yang disebutkan dalam hadits riwayat Imam Muslim. Dari keenam Iman tersebut masih dipecah sebanyak 77 (tujuh puluh tujuh) cabang iman.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Bagi setiap muslim apabila 77 cabang iman tersebut dilakukan seluruhnya, maka sempurnalah imannya. Dan apabila ada yang ditinggalkan, maka artinya berkurang ketebalan imannya.

Dalam kitab Qomi’ut Thughyan disebutkan sebanyak 77 cabang iman tersebut ialah berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh para ahli hadits yang berbunyi:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ شُعْبَةً ، اَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَاَدْنَاهَا اِمَاطَةُ الاَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيْمَانِ رَوَاهُ الْمُحَدِّثُوْنَ

Artinya: “Rasulullah saw bersabda: “Iman itu 77 cabangnya. Yang paling utama dari cabang-cabang tersebut adalah mengucapkan “La ilaha illallah” (tiada Tuhan melainkan Allah) dan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan rintangan dari jalan. Malu (berbuat maksiat) adalah satu cabang dari iman.”

Ketujuh puluh tujuh cabang iman tersebut dituturkan dalam bait syair:

اِيْمَانُنَا بِضْعٌ وَعَــيْنٌ شُعْبَـةً * يَسْتَكْمِلَنْهَا اَهْـلُ فَضْلٍ يَعْظُمُ

“Iman kita ada 77 cabang, yang para ahli keutamaan benar-benar akan menyempurnakannya, sehingga menjadi orang besar di sisi Allah”.

Berikut adalah ringkasan 77 cabang Iman yang di nukil dari Kitab Qomi’ut Thughyan, karya Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al Bantani.

  1. Iman kepada Allah Azza wa Jalla
  2. Iman kepada para malaikat
  3. Iman kepada Al-Qur’an dan segenap kitab suci yang telah diturunkan sebelumnya
  4. Iman kepada para Nabi dan Rasul Allah
  5. Iman kepada hari akhir
  6. Iman bahwa qadar – yang baik ataupun yang buruk – adalah berasal dari Allah
  7. Iman kepada hari berbangkit sesudah mati
  8. Iman kepada hari kebangkitkan dari kubur
  9. Iman bahwa tempat mukmin adalah Surga, dan tempat orang kafir adalah Neraka
  10. Mencintai Allah
  11. Takut kepada siksa Allah
  12. Mengharap kepada rahmat Allah
  13. Tawakkal kepada Allah
  14. Mencintai Nabi Muhammad SAW
  15. Mengagungkan dan memuliakan derajat Nabi Muhammad SAW
  16. Cinta kepada din al Islam, sehingga ia lebih suka terbebas dari Neraka daripada kafir
  17. Menuntut ilmu
  18. Menyebarkan ilmu, berdasarkan firman Allah : “Agar engkau menjelaskannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya”
  19. Mengagungkan dan menghormati Al-Qur’an, dengan cara mempelajari dan mengajarkannya, menjaga hukum-hukumnya, mengetahui halal haramnya, memuliakan para ahli dan huffazh-nya, serta takut pada ancaman-ancamannya
  20. Thaharah (bersuci)
  21. Shalat lima waktu dengan sempurna
  22. Menunaikan Zakat
  23. Puasa Ramadhan
  24. I’tikaf
  25. Haji
  26. Jihad
  27. Murabathah
  28. Tegar di hadapan musuh, tidak lari dari medan pertempuran
  29. Memberikan seperlima dari harta rampasan perang
  30. Membebaskan budak dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah
  31. Menunaikan kafarat wajib : kafarat pembunuhan, kafarat zhihar, kafarat sumpah, kafarat bersetubuh di bulan Ramadhan; demikian pula fidyah.
  32. Menepati janji
  33. Bersyukur atas nikmat Allah
  34. Menjaga lisan
  35. Menunaikan amanah
  36. Tidak melakukan pembunuhan dan kejahatan terhadap jiwa manusia
  37. Menjaga kemaluan dan kehormatan diri
  38. Menjaga diri dari mengambil harta orang lain secara bathil
  39. Menjauhi makanan dan minuman yang haram, serta bersikap wara’ dalam masalah tersebut
  40. Menjauhi pakaian, perhiasan, dan perabotan yang diharamkan oleh Allah
  41. Menjauhi permainan dan hal-hal sia-sia yang bertentangan dengan syariat Islam
  42. Sederhana dalam penghidupan (nafkah) dan menjauhi harta yang tidak halal
  43. Tidak benci, iri, dengki, dendam dan hasut.
  44. Tidak menyakiti atau mengganggu manusia
  45. Ikhlas dalam beramal karena Allah semata, dan tidak riya’
  46. Senang dan bahagia dengan kebaikan, sedih dan menyesal dengan keburukan
  47. Segera bertaubat ketika berbuat dosa
  48. Berkurban : hadyu, idul adh-ha, aqiqah
  49. Menaati ulul amri
  50. Berpegang teguh pada jamaah
  51. Menghukumi diantara manusia dengan adil
  52. Amar ma’ruf nahi munkar
  53. Tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa
  54. Malu
  55. Berbakti kepada kedua orang tua
  56. Menyambung kekerabatan (silaturrahim)
  57. Berakhlaq mulia
  58. Berlaku baik kepada para budak
  59. Budak yang menunaikan kewajibannya terhadap majikannya
  60. Menunaikan kewajiban terhadap anak dan isteri
  61. Mendekatkan diri kepada ahli agama, mencintai mereka, dan menyebarkan salam diantara mereka
  62. Menjawab salam orang muslim
  63. Mengunjungi orang yang sakit
  64. Menshalati mayit yang beragama Islam
  65. Mendoakan orang yang bersin
  66. Menjauhkan diri dari orang-orang kafir dan para pembuat kerusakan, serta bersikap tegas terhadap mereka
  67. Memuliakan tetangga
  68. Memuliakan tamu
  69. Menutupi aurat, dan dosa orang lain
  70. Sabar terhadap musibah ataupun ujian kenikmatan dan kesenangan
  71. Zuhud dan tidak panjang angan-angan
  72. Cemburu dan tidak membiarkan isteri bercumbu rayu dengan laki-laki lainBerpaling dari perkara yang sia-sia
  73. Dermawan dan berbuat yang terbaik
  74. Menyayangi yang lebih muda dan menghormati yang lebih tua
  75. Mendamaikan yang bersengketa
  76. Mencintai sesuatu untuk saudaranya sebagaimana ia juga mencintainya untuk dirinya sendiri, dan membenci sesuatu untuk saudaranya sebagaimana ia juga membencinya untuk dirinya sendiri.
Baca Juga:  Korelasi antara Ilmu Tauhid dan Tasawuf, Berikut Penjelasannya!

Demikian semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bisshawab.

*Disarikan dari Kitab Qomi’ut Thughyan, karya Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al Bantani.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik