Biografi Abd Shamad al-Palembani; Ulama Tasawuf Asli Sumatera

Biografi Abd Shamad al-Palembani; Ulama Tasawuf Asli Sumatera

PeciHitam.org – Indonesia memiliki banyak Ulama kharismatik dan paham berbagai cabang keilmuan. Tidak hanya berkutat pada masalah fiqih, banyak ulama Indonesia yang juga memahami bidang lain seperti Tasawuf.

Salah satu ulama Nusantara yang dulu dikenal sebagai ahli Tasawuf berasal dari Sumatera. Beliau dikenal dengan nama Abd Shamad al-Palembani. Siapakah beliau? Akan kita ulas dalam artikel ini.

Abd Shamad al-Palembani bernama lengkap Sayyid Abd Shamad bin Abd Rahman al-Jawi al-Palembani. Nama terakhir yang disematkan kepadanya menandakan bahwa Abd Shamad al-Palembani berasal dari Palembang.

Tepatnya Abd Shamad al-Palembani dilahirkan di wilayah Darussalam, Palembang pada tahun 1704 M. Meski terlahir di Palembang, akan tetapi garis keturunannya berasal dari Yaman.

Sebab ayahnya disinyalir merupakan orang Yaman yang datang ke kota Palembang pada abad ke-17, yang kemudian menikah dengan wanita Palembang bernama Raden Ranti.

Abd Shamad al-Palembani lahir ketika wilayah Palembang telah terdapat persinggungan antara tasawuf Sunni serta tasawuf Falsafi. Tentu hal ini tidak terlepas dari pemikiran al-Raniri dan al-Fansuri di Aceh yang sudah menyebar ke wilayah Sumatera.

Sudah adanya aktivitas intelektual berupa perdebatan perihal 2 golongan ini yang dilakukan oleh masyarakat. Sebab masyarakat di Sumatera begitu antusias terhadap tasawuf yang berkembang di wilayahnya.

Baca Juga:  Mengenal Amina Wadud, Mufassir dan Pegiat Gender Kontroversial dari Virginia

Selain karena suburnya tasawuf di Sumatera, yang berpengaruh terhadap pemikirannya yakni tentu berasal dari keluarganya. Abd Shamad al-Palembani hidup dalam lingkungan keluarga yang juga menyukai aktivitas intelektual terutama mengenai Islam.

Terbukti jika ayahnya menjabat sebagai mufti, serta kakaknya Syekh Abd Qadir Abd Shamad al-Palembani megikuti jejak ayahnya sebagai mufti di Kaula Muda. Tidak heran jika keduanya inilah yang menjadikannya minat terhadap tasawuf.

kan tetapi, keintelektualan Abd Shamad al-Palembani tidak sepenuhnya terbentuk di Nusantara. Sebagian besar aktivitas intelektualnya didapatkannya di Makkah.

Berawal pada perjalan haji, Abd Shamad al-Palembani tidak mensia-siakan kesempatannya untuk menimba ilmu di Makkah-Madinah atau tepatnya alHaramayn.

Voll menyebut al-Haramayn bertransformasi menjadi “the center of cosmopolitan world of muslim scholars and believers”, sebab pada abad 18 alHaramanyn telah menjadi kiblat keilmuan Islam.

Banyaknya ulama tersohor yang menimba ilmu di sana. Hingga membuat Abd Shamad al-Palembani tidak kembali ke tanah airnya bersama dengan saudara-saudaranya

Abd Shamad al-Palembani menimba ilmu tasawuf kepada Muhammad b. ‘Abd Karim al-Saman al-Madani. Seorang guru tasawuf yang mampu mengantarkan al-Palembani pada pengalaman spiritual ketika dirinya menjadi murid tasawuf.

Baca Juga:  Mengenal Said bin Jubair, Ahli Tafsir dan Hadits dari Golongan Tabi'in

Abd Shamad al-Palembani merasakan mendapatkan banyak pencerahan ketika berguru perihal tasawuf. Hal ini menjadi titik besar pembentukan pemikiran seorang al-Palembani.

Berkat kecerdasannya, Abd Shamad al-Palembani dipercaya menjadi salah satu pengajar bagi murid al-Samman setelah 5 tahun belajar padanya.

Meski sebagian besar hidupnya di Makkah-Madinah, akan tetapi alPalembani tetap memberikan perhatian khusus terhadap ulama yang berasal dari Nusantara.

Abd Shamad al-Palembani ke dalam salah satu ulama‟ yang produktif di Makkah. Menurut Drewes, Abd Shamad al-Palembani telah menulis karya sebanyak 7 buah.

Di antaranya yakni terjemahan kitab karangan al-Ghazali (Bidayah al-Hidayah, serta Ihya’ ‘Ulum al-Din) yang diberinya judul Hidayah al-Salikin fi Suluk Maslak alMuttaqin, Sair al-Salikin ila ‘Ibadah Rabb al-‘Alamin.

Dari kedua kitabnya di atas, Abd Shamad al-Palembani mencoba untuk mengkompromikan antara tasawuf Arabian dengan tasawuf Ghazalian. Al-Palembani seolah hendak menghilangkan paham yang dianut wujudiyah mulhid dengan berdasarkan pemikiran al-Ghazali.

Abd Shamad al-Palembani juga menegaskan jika golongan yang mengikuti wujudiyah mulhid dianggapnya sesat. Mereka disebutnya bukan seorang sufi, melainkan menyerupai sufi.

Pemikiran Abd Shamad al-Palembani menjadikan tasawuf al-Ghazali sebagai pijakan tasawufnya. Salah satu karyanya yang menggambarkan pemikiran tasawuf al-Palembani yakni terdapat dalam karyanya, Sayr al-Salikin.

Kitab ini ditulis pada tahun 1779 hingga rampung pada tahun 1788. Salah satu tujuan Abd Shamad al-Palembani menulis kitab ini agar seseorang yang tidak bisa berbahasa Arab dapat memahami kitab Arab.

Baca Juga:  Belajar dari Kisah Ibnu Hajar Al Asqalani

Meski kitab tersebut merupakan terjemahan dari kitab al-Ghazali, akan tetapi tidak mengutip perkataan al-Ghazali secara keseluruhan. Abd Shamad al-Palembani juga mengutip perkataan dari beberapa sufi terkemuka lainnya. misalnya al-Qusyairi, Abu Thalib al-Makki, Ibn Athaillah, dan sebagainya.

Mohammad Mufid Muwaffaq
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG