Abdullah bin Ummi Maktum, Muadzin Buta di Zaman Nabi

Abdullah bin Ummi Maktum, Muadzin Buta di Zaman Nabi

PeciHitam.org – Setiap orang tahu bahwa muazin Islam yang pertama adalah Bilal Ibn Rabah. Namun apakah anda tahu, bahwa muazin kedua setelah Bilal merupakan seorang yang buta?

Suatu ketika Nabi Muhammad saw berusaha untuk berbicara kepada para pemuka Quraisy, dan kemudian seorang sahabat yang buta datang menyela. Nabi shallallahu alaihi wasallam merengut dan berpaling dari lelaki buta ini, dan kembali memusatkan perhatian kepada para pemuka Quraisy.

Dengan lembut Allah menegur Nabi akan kekeliruannya dan selanjutnya mengingatkan manusia tentang betapa hinanya penciptaan kita, sifat kita yang ceroboh, serta kematian kita yang tak terelakkan.

Kisah sahabat buta itu lalu diletakkan dalam sebuah catatan kaki ketika kita mengajarkan Al-Quran, dan hanya segelintir orang yang mengetahui namanya. Lelaki itu bernama Abdullah Ibn Umm Maktum.

Ia merupakan sepupu kandung dari Khadijah yang sudah buta dari lahir. Ia juga merupakan salah satu dari sahabat Nabi yang pertama kali masuk Islam dan masih hidup pasca Nabi saw wafat.

Dari kehidupannya kita tahu bahwa kepedulian, penyertaan, dan menolong penyandang disabilitas dan kebutuhan khusus bukanlah hal yang tabu di dalam Islam. Hal tersebut sudah terangkum dalam sunnah dan sirah (sejarah) itu sendiri.

Baca Juga:  Kisah KH Hasyim Asyari Menggendong Nabi Khidir

Nama lengkap Abdullah ibn Umm Maktum adalah Abdullah Ibnu Qays bin Za-idah bin al-Usham Ibnu Ummi Maktum al-Quraisyi. Ibnu Umm Maktum merupakan nama panggilannya di Makkah. Sedangkan ketika di Madinah, ia dipanggil Abdullah. Nama Abdullah sendiri merupakan nama pemberian Nabi Muhammad saw ketika ia pertama kali masuk Islam.

Ia dilahirkan dari Rahim seorang ibu yang bernama Atikah binti Abdullah, bergelar Ummi Maktum. Penyematan julukan Ibn Ummi Maktum padanya disebabkan karena anaknya tersebut terlahir dalam keadaan buta total.

Sebagai salah satu dari kalangan muslim yang pertama kali memeluk Islam, Abdullah tentu juga turut merasakan segala macam suka duka kaum muslimin di Makkah kala itu. Dia turut menderita siksaan kaum Quraisy seperti diderita kawan kawannya seagama, berupa penganiayaan dan berbagai macam tindakan kekerasan lainnya.

Namun segala macam rintangan dan tantangan dalam menganut agama barunya tersebut tidak meruntuhkan niatnya untuk semakin teguh berpegang pada agama Islam, baik al-Quran maupun sunnah. Ia justru semakin rajin dalam mempelajari syariat Islam dengan mendatangi majelis Rasulullah. Ia senantiasa menyimak dan menghafalkan al-Quran di setiap waktu luangnya.

Baca Juga:  Cerita Rakyat Tentang Kyai Raden Santri, Pangeran Singasari

Ketika kaum muslimin mendapatkan tekanan dan penganiayaan yang lebih agresif dari kaum Quraisy, akhirnya Allah Ta’ala mengizinkan kaum muslimin dan Rasul-Nya untuk hijrah. Tanpa pikir panjang, Abdullah bin Ummi Maktum pun rela meninggalkan tanah kelahirannya demi menyelamatkan agamanya.

Ia hijrah bersama dengan Mus’ab bin Umar sahabat-sahabat Rasul lain yang pertama kali tiba di Madinah. Kemudian setibanya di kota Yatsrib (Madinah), Abdullah dan Mush’ab langsung berdakwah dengan membacakan ayat-ayat Al-Quran dan mengajarkan pengajaran agama Islam kepada penduduk Yasrib pada masa itu.

Kisah Abdullah bin Ummi Maktum yang notabenenya seorang yang mengalami kekurangan fisik atau lebih tepatnya tuna netra (buta sejak lahir). Namun dengan kekurangannya tersebut justru mampu ditutupi oleh keteguhan dan semangat heroik yang ia tunjukkan dalam membela agama Islam.

Baca Juga:  Abu Nawas: Cara Menghitung Bulu Ekor Keledai

Setelah Rasulullah tiba di Madinah, atas jasa dan semangat Ibn Ummi Maktum yang turut serta dalam menyebarkan ajaran agama Islam, beliau mengangkatnya beserta Bilal bin Rabah untuk menjadi Muadzin Rasulullah.

Keduanya bertugas melantunkan adzan atau meneriakkan kalimah tauhid lima kali sehari semalam. Demi mengajak kaum muslimin beramal shaleh dan mendorongnya meraih kemenangan. Apabila Bilal adzan, maka Abdullah iqamat. Begitu juga sebaliknya jika Abdullah adzan, maka Bilal yang iqamat.

Mohammad Mufid Muwaffaq
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi, menyedekahkan sebagian harta kamu di Jalan Dakwah

DONASI SEKARANG