Abu Ayyub Al-Anshari; Menjadikan Rumahnya Sebagai Tempat Singgah Nabi Ketika Hijrah

Abu Ayyub Al-Anshari; Menjadikan Rumahnya Sebagai Tempat Singgah Nabi Ketika Hijrah

PeciHitam.org – Penyebaran dan perjuangan Islam bukan hanya milik Nabi Muhammad SAW semata, namun disana ada peran para sahabat beliau.

Tidak diragukan bahwa tokoh sentral dalam Islam adalah Nabi Muhammad SAW, disamping para sahabat Nabi yang sangat beliau hormati.

Jumlah seluruh Sahabat Nabi sangat banyak, karena setiap orang yang pernah bertemu dan sezaman dengan beliau disebut dengan sahabat. Namun tidak semua sahabat memiliki kebesaran nama yang terus tertulis dalam sejarah. Sahabat dengan kemasyhuran nama sering disebut Sahabat Senior, karena kisah perjuangan untuk Islam sangat banyak.

Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Abu Ubaid bin Jarrah, Abu Musa Al-Asyari, Abu Ayyub al-Anshari adalah sedikit sahabat yang dikenal sebagai patron Islam pada masanya.

Bahkan Abu Ayyub al-Anshari menyediakan rumahnya untuk penginapan Nabi SAW ketika baru sampai di Madinah. Berikut kisahnya!

Rumah Nabi Sementara

Nabi Muhammad SAW hijrah ke Yatsrib diutara Makkah dengan menempuh jarak sekitar 200 Mil dengan Abu Bakar RA. Waktu tempuh yang  dilakukan oleh Nabi SAW sekitar 14 hari sejak keberangkatan beliau ke Madinah.

Menurut kebiasaan, hanya dibutuhkan 10 hari, karena Nabi dan Abu Bakar menempuh jalan tidak biasa menghindari kejaran orang kafir Quraisy.

Sesampainya di Madinah, Nabi SAW tidak memiliki apapun untuk sekedar beristirahat karena Madinah adalah kota asing dan baru. Para Sahabat banyak yang menawarkan Nabi SAW untuk menginap di rumah mereka namun beliau menolaknya. Nabi hanya mau menginap dirumah yang mana untanya berhenti sendiri.

Dan unta yang ditumpangi Nabi SAW berhenti di depan rumah Sahabat Abu Ayyub al-Anshari RA. Nabi SAW menginap di rumah Abu Ayyub cukup lama yaitu 7 bulan.

Sembari menunggu pembangunan Masjid Nabawi dan Rumah beliau yang terlatak di ujung Masjid tersebut. Tentunya kebahagiaan tersendiri bagi Abu Ayyub rumahnya diinapi oleh manusia paling Mulia yaitu Muhammad SAW.

Ketika unta Nabi berhenti di depan rumah Abu Ayyub, dengan segara ia menampakkan raut bahagia karena Rasul SAW berkenan bermalam di rumahnya.

Baca Juga:  Kisah Pernikahan Nabi Muhammad dan Sayyidah Khadijah

Segera setelah memberi penghormatan, Abu Ayyub membawa barang Nabi masuk kedalam rumahnya. Abu Ayyub al-Anshari mempersilahkan Nabi SAW untuk menempati lantai kedua rumahnya, namun Nabi memilih dilantai bawah.

Maka tatkala Nabi SAW memilih tinggal di lantai bawah, Abu Ayyub al-Anshari berkata kepada Istrinya sebagai berikut,

Celaka-lah kita, apa yang sedang kita lakukan? Rasulullah SAW memilih menempati lantai bawah rumah. Beliau di bawah, dan kita lebih tinggi dari beliau. Bagaimana bisa kita berjalan di atas utusan Allah SAW. Apakah kita akan menghalangi Nabi SAW dari wahyu Allah? Jika demikian maka habislah kita!

Kekhawatiran Abu Ayyub al-Anshari ditunjukan dengan tindakan-tindakan beliau tidak mau melangkah ditengah ruangan yang sekiranya dibawahnya tepat ada Nabi SAW.

Abu Ayyub dan istrinya memilih untuk melangkah dipinggiran ruangan yang sekiranya Nabi tidak dibawah persis Abu Ayyub. Karena hal ini ia merasa tidak enak dan kemudian mengadukan kepada Nabi Muhammad SAW pada pagi harinya.

Demi Tuhan, semalam kami tidak bisa tidur barang sekejap pun, baik aku maupun Ummu Ayyub. Kata Abu Ayyub. Nabi menimpali Mengapa tidak bisa tidur, Abu Ayyub? tanya Nabi.

Kemudian Abu Ayyub menjelaskan kekhawatirannya, kami mengerikannya saat mereka berada di lantai atas sedangkan Nabi berada di bawah dan mungkin keberadaan mereka akan mengganggu turunnya Wahyu.

Nabi Muhammad SAW menjelaskan Jangan khawatir, Abu Ayyub, Kami (keluarga Muhammad SAW) lebih memilih lantai bawah karena banyaknya orang yang datang untuk mengunjungi kami.

Akhlak yang tunjukan oleh Abu Ayyub demikian luhur, sampai-sampai beliau memikirkan akan menghalangi turunnya wahyu kepada Nabi SAW. Pertimbangan Nabi SAW menempati lantai bawah tidak lain hanya untuk memudahkan menemui tamu para Sahabat.

Biografi Abu Ayyub Al-Anshari

Ketinggian akhlak Abu Ayyub al-Anshari banyak diakui oleh pada Ulama dan Sahabat sejawat. Sebenarnya siapakah Abu Ayyub yang rumahnya diberkahi oleh Nabi SAW untuk tinggal dirumah beliau selama 7 bulan? Berikut profilnya!

Baca Juga:  Sejarah Lahirnya Mazhab Syafi'i, Sebuah Perjalanan Intelektual Sang Imam

Abu Ayyub merupakan salah satu yang masuk rombongan kafilah yang menyatakan sumpah setia dan pembenaran Baiat kepada Nabi SAW di Aqabah.

Keimanan Abu Ayyub sangat kuat ditunjukan dengan bukti beliau selalu mengikuti perang untuk membela Islam bahkan setelah kewafatan Nabi SAW.

Nama lengkap Abu Ayyub adalah Khalid bin Zaid bin Kulaib bin Tsalabah bin Abdurrahman bin Auf bin Ghanam bin Malik bin Najjar Al-Khadraj.

Ibunya bernama Hindun bin Said bin Amr bin Imril Qais al-Khadraji. Ayah ibu Abu Ayyub Al-Anshari merupakan dari golongan suku Khadraj, penduduk asli Madinah.

Umur Abu Ayyub al-Anshari diberikan umur panjang oleh Allah SWT, melebihi umur Nabi Muhammad SAW. Beliau masuk dalam golongan kecil sahabat yang banyak menemui masa pemerintahan, mulai dari Nabi Muhammad SAW sampai pada Dinasti Bani Umayyah.

Abu Ayyub al-Anshari dilahirkan di Yatsrib (kemudian dikenal dengan Madinah) sekitar tahun 15 tahun sebelum kenabian Muhammad. Dan beliau wafat di Konstantinopel (sekarang Negara Turki) pada saat invasi Khalifah Yazid bin Muawiyyah ke sana.

Beliau wafat sebagai seorang pejuang atau mujahid untuk menyebarkan wilayah Islam ke negara-negara yang belum ada dakwah Islam. Perjuangan Abu Ayyub al-Anshari untuk membela Islam sangat kuat, baik dalam keadaan lapang dan sempit.

Pegangan Abu Ayyub al-Anshari adalah ayat al-Quran;

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya; Berangkatlah kamu baik dalam Keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui (Qs. At-Taubah: 41)

Abu Ayyub, Mujahid Sejati

Abu Ayyub al-Anshari masuk Islam ketika rombongan orang Madinah berbaiat kepada Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa yang disebut dengan Baiat Aqabah kedua pada tahun 622 M.

Setelah masuk Islam, ia berjuang dengan heroik dalam setiap perang yang dilakukan oleh Islam untuk membela diri.

Setidaknya Abu Ayyub Al-Anshari RA mengikuti Perang Badar, Perang Khandak, Perang Fathu Makkah dan lain sebagainya. Abu Ayyub juga sangat membela kehormatan keluarga Nabi, dengan bukti beliau membela ummul mukminin Aisyah RA ketika ramai adanya hadits ifki. Sampai Allah SWT menurunkan ayat;

Baca Juga:  Pengertian Syarah dan Sejarah Perkembangan Syarah Hadis Sampai Menjadi Disiplin Ilmu

لَوْلا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِينٌ

Artinya; Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohon itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” (Qs. An-Nuur: 12)

Kesetiaan Abu Ayyub al-Anshari bukanlah kepada tokoh individual, namun lebih kepada kesetiaan dan loyalitas untuk Islam. Sepeninggal Rasulullah SAW, ia tetap tinggal di Madinah sampai masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (Khalifah ke-4 Khulafaur Rasyidun).

Pada masa Ali bin Abi Thalib, beliau bergabung dengan pasukan Ali dalam perang Shiffin guna memerangi kaum Khawarij yang mengklaim paling Islami. Pun ketika kekuasaan Islam beralih ke keluarga Umayyah, Muawiyyah bin Abi Shufyan, beliau tetap setia berperang untuk pasukan Islam.

Abu Ayyub al-Anshari ikut pengepungan Konstantinopel (wilayah kerajaan Romawi di Turki) pada masa Khalifah Muawiyyah. Beliau dalam keadaan tua renta tetap memaksakan diri untuk ikut, bahkan beliau meninggal dunia pada pengepungan tahun 674-678 M.

Beliau wafat dan dimakamkan sejauh pasukan Islam merangsek masuk ke wilayah sebagai bukti kecintaan beliau berjuang untuk Islam. Semangat yang dimiliki oleh Abu Ayyub al-Anshari kiranya menjadi Inspirasi Sultan Muhammad/ Mahmud II saat mengepung dan menaklukan Konstantinopel pada tahun 1453 M. Ash-Shawabu Minallah.

Mohammad Mufid Muwaffaq
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi, menyedekahkan sebagian harta kamu di Jalan Dakwah

DONASI SEKARANG