Abu Qasim Az Zahrawi, sang Ilmuwan Muslim Ahli Operasi dan Bedah

Abu Qasim Az Zahrawi, sang Ilmuwan Muslim Ahli Operasi dan Bedah

Pecihitam,org.- Dialah Abu Qasim Az Zahrawi, sang ilmuwan muslim terbesar di bidang bedah (operasi). Bahkan atas kepiawaiannya ini, beliau dianggap sebagai ahli bedah terbesar di dunia hingga masa kebangkitan Eropa. Maka wajar apabila beliau mendapatkan gelar ‘Bapak Operasi’ dalam sejarah kedokteran.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Beliau bernama lengkap Abu Al-Qasim Khalaf bin Abbas Az Zahrawi al-Anshari. Beliau biasa dipanggil dengan nama Az-Zahrawi dikarenakan lahir di kota Az-Zahra (sebuah kota di pinggiran Qordova pada pemerintahan khalifah Dinasti Umawiyyah di Andalusia). Namun selain dipanggil dengan nama Az Zahrawi, ternyata kadang juga dipanggil dengan nama Al-Anshari, dan ini karena nenek moyangnya berasal dari Madinah Munawwarah.

Adapun jika ditinjau dari segi bahasa Latin dan bahasa Eropa, nama Az-Zahrawi telah dirubah menjadi Alzahravius. Sedangkan julukannya, Abu Al-Qasim, telah dirubah menjadi Albucasis. Dan nama inilah yang hingga sekarang dikenal di Eropa.

Beliau dilahirkan pada tahun 325 H (937) H, di kota Az-Zalua setelah kota ini dibangun pada masa pemerintahan khilafah Ummayyah, Abdurrahman An-Nashir, di dekat Qordova. Sedangkan tahun wafatnya menurut riwayat seorang penjelajah dan sejarawan, Al-Hasan AI-Wazzan, adalah 404 H (1013 M).

Adapun sumber lain menyebutkan bahwa Az-Zahrawi bekerja sebagai dokter di istana Abdurrahman An-Nashir. Namun pendapat ini sangat jauh, karena Abdurrahman bin An-Nashir wafat pada tahun 350 H (961 M), sedangkan umur Az-Zahrawi pada saat itu masih 25 tahun. Yang benar adalah bahwa dia memang bekerja sebagai dokter di istana, tetapi di masa Khalifah Al Hakam Al-Mustanshir bin Abdurrahman An-Nashir.

Baca Juga:  Umar bin Khatthab, Sahabat Nabi Bergelar Al-Faruq yang Ditakuti Setan

PENEMUAN

  • Dari keahlian ini, Az-Zahrawi mampu merubah persepsi orang tentang operasi dari sekedar profesi seperti yang dilakukan oleh tukang bekam atau tukang cukur menjadi ilmu yang erat kaitannya dengan kedokteran dan bedah.
    Bahkan beliau memberikan nasehat kepada para ahli bedah agar mempelajari ilmu bedah dan banyak berlatih sebelum melakukan praktik, agar mereka benar-benar mengetahui ilmu anatomi, bentuk, susunan dan hubungannya antara satu dengan lainnya. Di samping itu, mereka juga harus mengetahui keadaan tulang, urat dan otot serta tempatnya-tempatnya dan hubungan antara satu dengan lainnya.
  • Beliau menemukan berbagai macam obat-obatan untuk bedah sesuai dengan berbagai macam tujuan bedah dan peralatannya, seperti gunting, pengikat, alat pelebar, kempa (apitan), dan baju pelindung dari besi dengan ukuran yang berbagai macam. Selain itu, beliau juga membekali bukunya “At-Tashrif” dengan gambar-gambar yang menjelaskan tentang alat-alat itu.
  • Beliau juga merupakan orang yang pertama kali mengikat urat nadi dan pembuluh darah dengan benang sutra untuk mengatasi keluarnya darah ketika sedang dilakukan operasi, sebagaimana dia mengobati luka dengan dipanaskan.
  • Beliau pula yang menemukan cara menjahit luka bedah dengan dua jarum dan satu benang, serta sebagai orang yang pertama kali menggunakan benang buatan dari usus binatang (catgut) dalam menjahit usus manusia.
  • Adapun dalam operasi saluran kencing , Az-Zahrawi adalah orang yang pertama kali menemukan cara mengeluarkan penumpukan zat kapur pada saluran kencing. Dalam bukunya, beliau menyampaikan kepada para ahli bedah agar melakukan bedah dengan cara yang sesuai untuk mengeluarkan tumpukan zat kapur yang telah menjadi batu, dan dipecahkan dengan kempa (apitan), lalu dikeluarkan sepotong demi sepotong.
  • Adapun Az-Zahrawi berhasil mengembangkan bedah rongga pernafasan (tracheotomy). Catak bedah seperti ini sebenarnya telah ditemukan oleh orang-orang Mesir kuno untuk mengobati orang yang sakit dan tercekik tenggorokannya.

    Cara ini kemudian ditiru oleh bangsa Yunani dan dimasukkan ke dalam buku-buku karangan mereka. Namun mereka tidak melakukan cara ini, karena sangat berbahaya dan banyaknya kematian yang disebabkan oleh cara bedah ini yang dilakukan oleh mereka.
  • Sedangkan dalam di bidang Farmasi, Az-Zahrawi adalah orang yang pertama kali menggunakan cetakan khusus dalam membuat tablet obat-obatan.
Baca Juga:  Gus Dur dan Gereja; Rela 'Kotor Bajunya' Demi Menjaga Tauhid Manusia

Karya Karya

Adapun karya karyanya, kita diperkenalkan dengan Kitab At-Tashrif li Man ‘Ajiza ‘an at-Ta’lif. Dalam buku ini terdiri dari 30 artikel, diantaranya yakni

Artikel (1): Berisi tentang masalah-masalah kedokteran secara umum, seperti; hasil penelitian, contoh contoh, pengetahuan tentang anatomi dan komposisi obat-obatan.

Artikel (2): Berisi tentang macam-macam penyakit, gangguan dan cara pengobatannya.

Artikel (19): Berisi tentang kedokteran dan kecantikan.

Artikel (23): Berisi tentang pakaian khusus yang harus dipakai oleh orang yang menderita sakit di sekujur badan.

Artikel (26): Berisi tentang makanan yang menyehatkan bagi orang yang sakit, dan Az-Zahrawi telah menyusunnya sesuai dengan berbagai jenis penyakit itu sendiri.

Artikel (27): Juga berisi tentang makanan pada sebagian aspeknya saja.

Baca Juga:  Syekh Datuk Kahfi dan Syekh Maulana Akbar; Penyebar Islam di Pesisir Utara Pulau Jawa

Artikel (29): Berisi tentang nama-nama obat dengan berbagai bahasa, fungsi dan manfaatnya dan ukuran atau timbangannya.

Artikel (30): Berisi tentang operasi (bedah), cara membalut tulang, dan apa yang dilakukan pada tangan, seperti; pemanasan, pembelahan, pengikatannya dan cara melepaskannya.

Itulah sekilas tentang Abu Qasim Az Zahrawi. Sungguh jika kita melmbaca karya dan sumbangsinya terhadap dunia kedokteran, tentulah beliau sangat berpengaruh. Semoga bermanfaat!

Sumber: 147 Ilmuwan Terkemuka dalam Sejarah Islam oleh Muhammad Gharib Jaudah.

Rosmawati