Adakah Cara Mencintai Allah SWT dalam Bentuk Perilaku? Berikut Dalil-Dalilnya

Adakah Cara Mencintai Allah SWT dalam Bentuk Perilaku? Berikut Dalil-Dalilnya

Pecihitam.org- Ayat Al-Qur’an dan hadits Rasulullah SAW yang menyebutkan keutamaan cinta dan cara mencintai allah terbilang banyak. Dalil yang menganjurkan cinta kepada Allah adalah Surat At-Taubah ayat 24 dan hadits riwayat Bukhari.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Tetapi cinta adalah aktivitas batin yang tersembunyi. Lalu bagaimana cara mencintai Allah dalam bentuk perilaku.? Berdasarkan firman Allah SWT dalam Q.S. At-Taubah ayat 24:

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”

Ayat ini memperingatkan agar manusia memberikan cintanya untuk Allah pada peringkat pertama. Ayat ini mendorong umat Islam untuk mencintai Allah melebihi segala yang dimilikinya.

Baca Juga:  Teori Keseimbangan Antara Agama dengan Dunia Melalui Pendekatan Tasawuf

Sementara hadits riwayat Bukhari yang berisi hadits qudsi berikut ini menyebut wali sebagai orang yang dicintai Allah. Ketika seseorang sudah dicintai oleh-Nya, maka Allah akan menjadi pembela dan pelindungnya :

“Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah bersabda bahwa Allah berfirman, ‘Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku mengumumkan perang kepadanya. Tiada hamba-Ku yang mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu (amalan) melebihi dari apa yang Kuwajibkan kepadanya. Hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan sunnah sehingga Aku mencintai-Nya. Bila Aku mencintainya, maka Aku menjadi telinga sebagai alat pendengarannya, menjadi mata sebagai alat penglihatannya, menjadi tangan sebagai alat pemegang, dan menjadi kaki sebagai alatnya berjalan. Jika ia meminta sesuatu kepada-Ku, niscaya Aku memberinya. Jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, niscaya Aku melindunginya. Tiada ‘kebimbangan’ sesuatu yang Kulakukan selain mencabut nyawa orang beriman yang mana ia tidak menyukai kematian dan Aku tidak suka menyakitinya,” (HR Bukhari nomor 6137).

Baca Juga:  Mengenal Puang Makka, Mursyid Tariqah Khalwatiyah Syekh Yusuf Al Makassary

Dalam kitabnya (Qami’ al-Thughyan) ini, Syekh Nawawi al-Bantani menyatakan, ”Cintailah Tuhanmu, takutlah akan kepedihan siksa-Nya, berharaplah engkau akan rahmat Allah, dan bertawakallah benar-benar wahai orang Muslim. Cintailah nabimu, kemudian agungkan derajatnya; dan kikirlah dengan agamamu selama dilihat perbuatan dosa bagimu.

Bagaimana caranya mencintai Allah? Syekh Nawawi menjelaskan, ”Tanda mencintai Allah adalah dengan mencintai Al-quran. Tanda mencintai Allah dan Alquran adalah mencintai Nabi Muhammad saw. Tanda mencintai Nabi Muhammad SAW adalah mencintai sunah (ucapan, tingkah laku, dan sikap) beliau. Tanda mencintai sunah adalah mencintai akhirat. Tanda mencintai akhirat adalah membenci dunia (pujian orang, penampilan, kemewahan, dan lain-nya). Tanda membenci dunia adalah tidak mempergunakan harta benda dunia kecuali sebagai bekal menuju akhirat.”

Syekh Hatim bin Alwan berkata: ”Barang siapa mengaku tiga hal tanpa tiga hal lainnya maka ia adalah pembohong. (1) Orang yang mengaku mencintai Allah tanpa menjauhi larangan-Nya; (2) Orang yang mengaku mencintai Nabi Muhammad saw tanpa mencintai kefakiran; dan (3) Orang yang mengaku mencintai surga tanpa mau menyedekahkan hartanya.”

Baca Juga:  Sufisme dalam Islam, Sebuah Jalan Lain Menuju Allah

Dari penjelasan di atas dapat kita fahami bahwa, sebetulnya cara simple mencintai Allah SWT adalah dengan bertaqwa. Mengingat makna dari taqwa itu adalah menjalani perintah Allah dan menjauhi larangan-larangannya.

Walaupun simple, taqwa itu memang tidak begitu mudah dilakukan, apalagi kita yang tingkatan imannya masih rendah. Maka dari itu mari kita berusaha bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa, agar kita bisa mencintai Allah SWT.

Mochamad Ari Irawan