Agar Benar-Benar Menghibur, Perhatikanlah Adab Bertakziyah Ini

Agar Benar-Benar Menghibur, Perhatikanlah Adab Bertakziyah Ini

Pecihitam.org – Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa lepas dari interaksi antar sesamanya. Dia harus bergaul untuk saling bahu membahu menyelesaikan masalah dan saling menghibur ketika ada yang berduka. Salah satunya adalah dengan bertakziyah. Berikut kami sajikan adab bertakziyah yang benar.

Pada umumnya, manusia tidak akan bisa lepas dari lingkaran musibah. Kesulitan-kesulitan itu akan selalu datang sebagai salah satu cobaan yang diberikan Allah swt. Apalagi musibah kematian, cepat atau lambat pasti akan datang kepada manusia karena, sebagaimana firman Allah SWT


كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya. (QS. Ali Imran [3]: 185)

Bagi keluarga yang ditinggalkan, pasti sangat terpukul dengan kepergian salah satu anggota keluarganya, apalagi bila posisi almarhum sebagai tulang punggung keluarga, pasti beban yang dirasa akan lebih bertambah lagi.

Baca Juga:  Indonesia Sebagai Negeri Islam dalam Kajian Fiqih

Untuk itu, sebagai orang Islam, kita sangat dianjurkan mengunjungi atau bertakziyah dalam rangka menghibur saudara kita yang terkena musibah. Tentu kehadiran kita akan sangat membantu mengurangi beban pikiran yang ditanggungnya.

Selain menghibur, takziyah (berkunjung) mempunyai keutamaan yang besar di sisi Allah swt. Hal ini dijelaskan dalam hadits Ibnu Majah dan At-Tirmidzi

مَا مِنْ مُؤْمِنٍ يُعَزِّي أَخَاهُ بِمُصِيبَةٍ إِلاَّ كَسَاهُ اللَّهُ مِنْ حُلَل الْكَرَامَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tidaklah seorang Mukmin bertakziyah kepada saudaranyayang terkena musibah kecuali Allah akan memakaikan pakaian kemulian kepadanya di hari kiamat.” ( HR. Ibn Majah)

مَنْ عَزَّى مُصَابًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ

Barangsiapa yang berta’ziyah kepada orang yang tertimpa musibah, maka baginya pahala seperti pahala yang didapat orang tersebut.” (HR Tirmidzi)

Islam sangat cerdas membina persaudaraan antar sesama. Solidaritas akan cepat terbangun jika saling membantu ketika dalam keadaan sulit. Karena dalam keadaan sulit itulah manusia akan memandang setitik kebaikan saudaranya sebagai kebaikan yang sangat berharga.

Dengan begitu, ia tidak akan ragu untuk menolong saudaranya jika saudaranya sedang memerlukan bantuannya. 

Namun adab bertakziyah yang juga harus diperhatikan supaya kedatangan kita membawa kebahagiaan bagi keluarga yang sedang kesusahan.

Baca Juga:  Fastabiqul Khairat: Berlombalah dalam Kebaikan Sebelum Datangnya 7 Hal Ini

Pertama, dengan memotivasi keluarga untuk tidak sedih berlarut-larut atas kepergian almarhum.

Kedua, hindari bercakap kasar dengan keluarga, karena perkataan itu bisa menambah beban derita keluarga.

Ketiga, mendoakan keluarga dan orang yang meninggal agar mendapatkan kebaikan dari Allah swt.

 Adapun doa yang bisa dibaca sewaktu takziyah, salah satunya:

أَعْظَمَ اللهُ أَجْرَكُمْ وَأَحْسَنَ عَزَاءَكُمْ وَغَفَرَ لِمَيِّتِكُمْ

Semoga Allah besarkan pahalamu, Dia perbaiki perihal kematianmu, dan semoga Dia ampuni jenazahmu.

Keempat, Perhatikan Waktu. Adapun mengenai waktu takziyah, para ulama berbeda pendapat. Jumhur ulama mengatakan bahwa waktu takziyah dapat dilaksanakan baik sebelum ataupun sesudah mayit dikebumikan.

Alasannya, kedua waktu tersebut keluarga yang ditinggalkan benar-benar dalam keadaan sedih, sehingga membutuhkan pentakziah untuk menghibur dan mengurangi kesedihannya.

Namun menurut Imam Al-Tsauri makruh takziyah setelah mayit dikuburkan. Alasannya, setelah mayit dikuburkan semua permasalahan yang terkait dengan mayit dianggap telah selesai.

Oleh karena itu, Imam Tsauri menganjurkan bertakziah di waktu sebelum dikuburkannya mayit tersebut.

Sedangkan lamanya takziyah disyariatkan dalam jangka waktu tiga hari setelah mayit dikebumikan. Dan jumhur ulama menganggap makruh apabila bertakziah melebihi tuga hari setelah mayit dikuburkan.

Baca Juga:  Qailulah Amalan Tidur Sebentar Untuk Menambah Kesegaran Seharian

Hal ini didasarkan pada hadits

لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُحِدَّ عَلَى مَيِّتٍ فَوْقَ ثَلَاثِ أَيَّامٍ إِلَّا عَلَى زَوْجٍ فَإِنَّهَا تُحِدُّ عَلَيْهِ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا

“Tidaklah dihalalkan bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari Kiamat, untuk berkabung lebih dari tiga hari, terkecuali berkabung karena (ditinggal mati) suaminya, yaitu selama empat bulan sepuluh hari (H.R. Bukhari dan Muslim).”

Demikian tulisan tentang adab bertakziyah yang disarikan dari hadis-hadis Nabi Muhammad SAW. Wallahu a’lam bisshawab!

Muhammad Nur Faizi
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG