AGH Mustari, Ulama Fiqih Kharismatik dari Sulawesi Selatan

AGH Mustari, Ulama Fiqih Kharismatik dari Sulawesi Selatan

Pecihitam.org – Pada Muktamar NU di Semarang tahun 1978, AGH Mustari (1917-1982) masuk dalam Komisi Bathsul Masail. Namun panitia dari Makassar tidak memberitahukan sebelumnya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Malam menjelang pembahasan masalah-masalah keagamaan di lingkungan NU itu, AGH Mustari meminta AGH Abdul Rahim Puang Makka untuk membelikan kertas berikut 2 bungkus rokok Kansas.

Sesudah Isya hingga menjelang subuh, beliau menulis tangan sebanyak 12 halaman pandangannya berikut rujukan dan halamannya.

Keesokannya, AGH Mustari presentasi yang kemudian mengundang kekaguman ulama-ulama NU di Jawa. Tidak terkecuali KH. Bisri Syansuri, kakek Gus Dur dari jalur ibu itu turut memujinya.

Kemudian beliau diberitahukan kalau AGH Mustari adalah saudara kandung AGH. Muh. Ramli, salah seorang pendiri NU Sulsel.

KH. Bisri Syansuripun Semakin yakin karena lebih awal mengenal keulamaan AGH. Muh Ramli. Demikian diceritakan AGH. Puang Makka beberapa waktu.

AGH Mustari merupakan ulama kharismatik Sulsel kelahiran Bone tahun 1917. Beliau bersama saudara-saudaranya yang kelak menjadi ulama besar, yakni AGH. Muh. Ramli dan AGH. Busthami, tetapi lain ibu, menempuh pendidikan agama di Bone dengan mengaji kitab kuning.

Baca Juga:  Ibrahim Al-Khawwash, Kisah Waliyullah; Karomah Dan Kalam Hikmahnya

Berbekal ilmu dari orang tua dan para gurunya, AGH Muh Mustari menimba ilmu kepada Hadratus Syekh AGH Muh. As’ad di Sengkang.

Kemudian kecintaan AGH. Muh. Mustari pada ilmu dan semangat untuk memperdalam pemahamannya tentang Islam, kelak diwujudkan dengan hijrah dan mukim untuk mengaji kitab pada sejumlah ulama di Mekkah. Di antara gurunya, As-Syekh Makkah dengan mendalami berbagai disiplin ilmu keislaman, terutama fiqhi.

Dalam keterangan Zuhri Shaleh Buthami dan Yazid Shaleh Busthami, keduanya keponakan AGH. Mustari pada penulis pada 12 Juli 2014 lalu di kediamannya.

Menurutnya, selama di Mekkah, AGH Mustari juga menerima ijazah sekaligus mursyid tariqah al-Muhammadiyah as-Sanusiyah.

Setelah pulang ke tanah air, AGH. Mustari tercatat pernah mengabdikan diri sebagaj imam Masjid Jami’ Palopo, salah satu masjid tertua di Sulsel.

Kemudian aktif mengajar kitab kuning terutama mengajarkan bahasa Arab. Kegiatan yang sama juga dilakukan sejak hijrah ke Makassar.

Selama mukim di Makassar, AGH Mustari aktif menjadi imam di Masjid Raya kemudian di Masjid Raodatul Muflihin Pasar Terong.

Baca Juga:  KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), Profil, Pendidikan dan Karir

Selain itu, beliau mendirikan Taman Pendidikan Islam (TPI) serta aktif mengajar di kediamannya terutama bahasa Arab yang ramai dikunjungi para santrinya.

Diantara santrinya adalah Prof. Dr. H. Syuhudi Ismail ahli hadis dan Prof. Dr. H. Umar Shihab, MA. ahli tafsir. Selain itu, secara rutin di kediamannya digelar pengajian yang dihadiri para ulama.

Pertemuan para ulama menjadi rutinitas berpindah dari Satu rumah ke rumah diantara ulama yang tergabung dalam pengajian khususnya tariqat.

Selain pertemuan pengajian dan tariqat, juga rutin pertemuan rapat partai NU. Diantara ulama yang aktif itu, sebut misalnya, AGH. Nur Basalamah dan AGH. Ali Ba’bud, Imam Masjid Raya Makassar dan AGH. Sanusi Baco Lc.

Keulamaan AGH. Mustari semakin diakui setelah mempresentasikan makalah berbahasa Arab disertai maraji atau literasi yang sangat kuat dalam Bahtsul Masail pada Muktamar NU di Jawa.

Para ulama NU Jawa mengakui kedalaman keilmuan dan pemahamannya tentang fikih kontemporer. Tentunya hal itu sangat dikuasai karena ilmu Fiqh merupakan disiplin ilmu beliau, sejak berguru ke AGH. Muh. As’ad hingga ke Mekkah.

Baca Juga:  Mengenal Ibnu Majah, Ahli Hadits dari Irak

Beliau tercatat sebagai ulama NU yang cukup disegani karena keilmuannya. Demikian halnya, saat NU masih menjadi partai, beliau aktif di partai politik dengan menjadi pengurus Partai NU dan terpilih menjadi anggota DPRD Kota Makassar bersama dengan AGH. Jamaluddin Puang Ramma.

Meskipun menjadi anggota legislatif tetapi beliau tetap tampil sederhana dengan ciri khas berjas dan bersorban. Aktif di DPRD semata untuk pengabdiannya sebagai penyalur aspirasi umat dan sepanjang hidupnya dihabiskan untuk berdakwah dan mengajar kitab kuning hingga wafat pada tanggal 29 Januari 1982 dimakamkan berdampingan AGH. Abduh Safa di pekuburan Arab Bontoala, Makassar.

Referensi:
Dr Firdaus Muhammad, Anregurutta (2017)

M Resky S

Leave a Reply

Your email address will not be published.