Ahmad Amin, Ulama dan Sastrawan Mesir dengan Pemikiran Kontroversinya

Ahmad Amin

Pecihitam.org – Ahmad Amin adalah seorang ulama modern dan sastrawan berkelahiran Mesir. Beliau lahir di Kairo (Mesir) pada tanggal 2 Muharram 1304 H atau awal Oktober 1886 M, dan wafat pada tanggal 30 Ramadhan 1373 H atau 30 Mei 1954.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Berbicara tentang latar belakang keluarga, rupanya beliau terlahir dari keluarga seorang hakim, yang mana juga beliau diharapkan dapat menggantikan kedudukan ayahnya sebagai seorang hakim.

Perjalanan Intelektual Ahmad Amin

Seperti yang telah diharapkan sebelumnya oleh kelurga untuk bisa menjadi seorang Hakim, Maka beliau melanjutkan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi dengan memilih fakultas hukum di Universitas Al-Azhar.

Dan sesuai dengan harapan,  cita-cita dengan menjadi seorang hakim pun terwujud selang beberapa tahun kemudian, tepatnya ketika beliau diangkat sebagai seorang hakim pada lembaga pengadilan negeri (Muhammad Syafiq Gharbal, 1956: 63).

Tidak sampai disana, Pada tahun 1922, Ahmad Amin beralih profesi menjadi seorang staf pengajar pada Universitas Kairo yang mana bidang yang diajarkan pada waktu itu adalah sastra Arab. Tak lama dari itu, beliau diangkat menjadi seorang Rektor di kampus yang sama.

Masih terus berlanjut, karir seorang Ahmad Amin semakin lancar terlebih ketika beliau menduduki jabatan sebagai Direktur Lembaga Kebudayaan pada Liga Bangsa-Bangsa Arab (Organisasi Negara-Negara Arab).

Selain itu beliau termasuk salah seorang pendiri lembaga penulisan, penerbitan dan penterjemahan yang sangat giat dan rajin. Dan salah satu aktivitas lembaga ini adalah mempublikasikan dan menerbitkan naskah-naskah Arab klasik serta buku-buku sejarah pada umumnya.

Baca Juga:  Terungkap, Inilah Rahasia Habib Quraish Shihab Bisa Menjadi Ulama Besar

Ahmad Amin dan Dunia Kepenulisan

Sebagai seorang pendiri salah satu lembaga kepenulisan, tentu hal yang tidak bisa dipungkiri lagi darinya ialah bahwa Beliau merupakan seorang Ulama dan cendekiawan yang aktif menulis, sama halnya dengan para ulama terdahulu dan sekarang.

Adapun Salah satu karya ilmiah Amin yang sangat penting adalah sebuah tulisan tentang kebudayaan Islam pada masa pertumbuhan sampai perkembangannya pada akhir abad ke-XX. Yang mana pemikirannya tentang sejarah perkembangan kebudayaan Islam itu ditulis dalam tiga judul buku yang berbeda, yang diantaranya:

  1. Fajr al-Islam (cetakan pertamanya diterbitkan di Kairo pada tahun 1928 M)
  2. Dhuha al-Islam (cetakan pertamanya diterbitkan di Kairo pada tahun 1933 sampai 1936 M)
  3. Zuhr al-Islam (dipublikasikan di Kairo pada tahun 1945-1953 M).

Selain itu, karya karya lainnya ialah:

  1. Beliau juga menulis tentang filsafat dalam sebuah buku yang berjudul Al-Akhlak (1923 M) dan menterjemahkan buku-buku filsafat karya tulis filsuf barat.
  2. Pada tahun 1933 M, Ahmad Amin aktif menulis sastra pada majalah mingguan ar Risalah dan al-Tsaqafah. Dan kumpulan tulisannya tentang sastra dan sosial yang tersebar di dua majalah itu diterbitkan dalam sebuah buku yang berjudul Faydh al-Khothir.
  3. Adapun Kamus sastra Mesir yang berjudul Qamus al ‘Adat wa al Taqalid wa al-Ta’bir al-Mishriyyah diterbitkan di Kairo tahun 1953 M.
  4. Serta Autobiografi yang berjudul Hayati diterbitkan pada tahun 1950 M. buku ini ditulis dengan menggunakan bahasa yang sederhana, jelas dan mudah dipahami.
Baca Juga:  Sunan Ampel, Guru Para Wali Songo dalam Dakwah Islam di Pulau Jawa

Pemikiran Ahmad Amin

Meskipun dikenal sebagai tokoh yang sangat berpengaruh terlebih dalam dunia sastra, namun pandangan terhadap beliau  pun tak lepas dari pandangan kontroversi. Sebagaimana pemikiran beliau yang tertuang dalam dunia hadits sebagaimana dalam dua bukunya yang berjudul Dhuha al-Islam dan Fajr al-Islam.

Dan salah satu pemikirannya yang sampai sekang masih terus dikritik oleh para ulama, salah satunya Musthafa al Siba’i ialah pandangannya terhadap Permulaan terjadinya pemalsuan hadis.

Berbeda dengan pandangan ulama hadis pada umumnya, Ahmad Amin berkesimpulan bahwa permulaan terjadinya pemalsuan hadis itu sesungguhnya terjadi pada masa Nabi saw., masih hidup dan pemalsuan itu semakin melebar setelah Nabi saw., wafat.

Dan dalil yang menjadi penguat Ahmad Amin bahwa pada masa Nabi saw., telah terjadi pemalsuan hadis adalah sabda Nabi saw., yang artinya: “Siapa saja yang dengan sengaja membuat kebohongan terhadapku, maka ambillah tempatnya di Neraka”.

Berangkat dari sinilah tentu dapat ditafsirkan bahwa Kemunculan hadis berkaitan dengan terjadinya peristiwa pemalsuan hadis pada masa Nabi saw., Sebab tidak mungkin Nabi saw., bersabda demikian jika sebelumnya tidak terdapat indikasi adanya pemalsuan hadis oleh para sahabat (Ahmad Amin, 1975: 211).

Lebih lanjut, Ahmad Amin beranggapan bahwa terjadinya pemalsuan hadis masa Nabi saw., dan masa sesudahnya selain karena tidak adanya usaha pembukuan hadis, sebagaimana yang dilakukan terhadap al-Qur’an, juga karena para sahabat lebih mengandalkan pada kekuatan hafalan ketimbang tulisan.

Baca Juga:  Abu Ubaid Qasim bin Salam; Ulama Ahli Hadis dan Pencetus Ilmu Tajwid

Perilaku sahabat yang demikian ini didorong oleh hadis yang melarang penulisan hadis. Dan Pemalsuan hadis yang terjadi pada masa Nabi saw., kemudian terus berlanjut setelah Nabi saw., wafat, bahkan aktivitas tersebut semakin meningkat.

Sehingga dari tingginya aktivitas pemalsuan hadis waktu itu, tentu sulit untuk memastikan apakah suatu hadis itu benar-benar datang dari Nabi saw.,? Maka untuk membuktikannya, beliau mengutip penjelasan Ibnu Abbas.

Bahwasanya Ibnu Abbas dahulu sering menuturkan hadis Nabi saw., karena tidak ada yang memalsukan hadis. Akan tetapi setelah semua orang mulai menempuh jalan kesusahan dan kehinaan, Ibnu Abbas meninggalkan hadis-hadis itu dan hanya mempercayai hadis Nabi saw., sebatas yang dia ketahui (Ahmad Amin: 210).

*Sumber: Ahmad Amin: Kritik dan Pemikirannya tentang Hadis oleh Nurmahni ( Jurnal Khatulistiwa: Journal of Islamic Studies, Vol.1, No. 1 Maret 2011)

Rosmawati