Akhlak Terpuji: Yang Sirna dari Muslim Media Sosial

Akhlak Terpuji Yang Sirna dari Muslim Media Sosial

Pecihitam.org – Gus Dur termasuk ulama Indonesia yang menolak formalisasi Islam, lebih jauh menjadikan Islam sebagai ideologi politik. Ia lebih memilih sebagai muslim yang menerima Islam apa adanya, yakni sebagai agama wahyu yang menjunjung etika dan moral. Namun begitu, Gus Dur tak risau dan mencela muslim lain pengusung formalisasi Islam atau menjadikan Islam sebagai azas partai politik.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Penolakan Gus Dur atas formalisasi Islam, upaya politik pengusung perda syariah, dan gerakan khilafah atau upaya pendirian Negara Islam berada dalam bingkai ilmiah dan kritik-dialektis. Atau apa yang disebut Gus Dur dengan jalan “penerangan”. Melalui forum diskusi, seminar, dan menulis artikel, Gus Dur meniti jalan penerangan itu.

Tampaknya itu pula yang tengah dilakukan oleh berbagai situs web yang dimobilisasi oleh generasi muda Nadhlatul Ulama belakangan ini. Melalui situs web mereka menjaring sindikasi penulis moderat. Penulis-penulis moderat itu kemudian memproduksi berbagai artikel ilmiah populer atau opini sebagai kontrawacana gagasan formalisasi Islam. Dengan harapan warisan ide dan pemikiran tokoh NU seperti Gus Dur mengenai tidak wajibnya mendirikan khilafah, Negara Islam, atau yang terbaru ‘NKRI Bersyariah’, bisa terus lestari dan mencerahkan umat Islam.

Baca Juga:  Ketika Gus Dur Menolak Eksklusivisme Hukum Islam

Sebagaimana Gus Dur dan tokoh NU lain, apa yang dilakukan generasi muda NU melalui situs web tidaklah mulus. Tentangan dan opini-kontra tidak bisa dihindari dan itu merupakan kekayaan dari sebuah dialektika pemikiran. Saling mengkritik dan meruntuhkan basis logika dan hujjah adalah keniscayaan dalam dunia kritis-dialektis.

Secara sederhana, ada posisi, ada oposisi, dan ada komposisi; ada tesis, antitesis, dan sintesis. Begitu seterusnya, hingga pada akhirnya publik yang menilai gagasan mana yang paling rasional dan bisa diterima nalar. Sejarahlah yang akan menjawabnya, itu yang sering Gus Dur utarakan.

Ramai mengitari ruang dialektik itu adalah komentar-komentar tidak elok dan tidak rasional. Masih amat banyak muslim di media sosial yang mencela dan mencaci-maki pemikiran sesama muslim yang berseberangan gagasan atas satu hal. Misalnya di laman pecihitam.org ini. Ketika mempublikasikan tulisannya di media sosial semacam facebook, tak jarang komentar amoral terlontar begitu saja dari isi kepala seorang muslim.

Hal demikian umumnya jika pecihitam[dot]org menerbitkan satu artikel tentang ide khilafah atau NKRI Bersyariah. Bahkan ketika pecihitam[dot]org merilis satu warta ihwal kegiatan Nahdlatul Ulama pun seringkali caci-maki memenuhi kolom-kolom komentar.

Ironisnya, caci-maki itu dilakukan pula oleh mereka yang menyepakati ide-ide keislaman dan kebangsaan NU. Artinya fenomena berbahasa amoral di dunia sosial media tidak hanya dilakukan oleh mereka yang kontra terhadap NU, tapi juga oleh mereka yang pro-NU. Memang tidak semuanya, tapi jumlahnya tidak bisa dibilang sedikit.

Baca Juga:  Tahun 2020 Menjadi Nuqthatul Inthilaq (Titik Tolak) Globalisasi NU

Padahal, isi artikel yang ditayangkan sama sekali tidak menggunakan bahasa yang mencela atau menista. Pecihitam[dot]org berupaya maksimal menerbitkan artikel bebahasa santun dan rasional. Tapi, di kolom komentar mereka tampak menikmati berbalas cacian dan makian.

Caci-maki, kata-kata kasar, bahasa amoral, serta tuduhan negatif tak berdasar dalam dunia media sosial, disadari atau tidak sebetulnya mencerminkan kualitas ilmu dan akhlak. Orang berilmu tak mungkin berkata kasar dan melabeli negatif sesamanya tanpa bukti. Lebih jauh, orang punyai akhlak terpuji tak bakal berkomentar menggunakan kata-kata yang jauh dari cerminan manusia berakhlak karimah.

Sesungguhnya ini merupakan kebiasaan buruk yang harus segera disadari dan diminimalisir. Itu pun jika memang pelaku menyadari bahwa hakikat diutusnya Rasul Muhammad bin Abdullah adalah sebagai penyempurna akhlak karimah.

Alasan apa pun tidak bisa dijadikan dasar pembenaran perilaku tercela. Perilaku tercela, termasuk berkata kotor dan caci-maki adalah didorong oleh hawa nafsu. Orang-orang penurut dan penikmat hawa nafsu sukar dinasihati sebab baginya nasihat itu berasa amat pahit. Sebagaimana Imam Hujjatul Islam al-Ghazali berkata;

Baca Juga:  Perlukah Demonstrasi? Bagaimana Pandangan Islam Tentang Perkara Ini?

النصيحة سهلة والمشكل قبولها لانها في مذاق متبعى الهواء مرّة

“Nasihat adalah mudah, yang sukar itu menerimanya. Sebab, bagi seorang penurut hawa nafsu nasihat itu sungguh berasa pahit.”

Jika dikatakan bahwa ulama adalah pewaris Nabi. Maka sungguh seorang ulama akan melanjutkan perjuangan Nabi, yakni mendakwahkan pentingnya etika dan moralitas sebagai konsekuensi berislam. Sebab itu, baiknya kita belajar ke ulama yang benar-benar mencerminkan akhlak karimah.

من فارق العلماء مات قلبه عن طاعة الله تعالى

“Siapa orang memisahkan, menjauhkan diri dari ulama, maka hatinya buta, mati dari taat kepada Allah Ta’ala.”

Wallahul muwaffiq.

Mutho AW

Leave a Reply

Your email address will not be published.