Penjelasan Ulama Tafsir tentang Surat An-Nur Ayat 35: Allahu Nurus Samawati wal Ardh

Allahu Nurus Samawati wal Ardh

Pecihitam.org– Allah adalah Dzat yang tiada sesuatu pun yang serupa dengannya. Namun, pada Surat An-Nur ayat 35, ada kalimat Allahu Nurus Samawati wal Ardh yang terjemahan literalnya Allah adalah Cahaya Langit dan Bumi.

Sekali lagi, di sini kalau dipahami secara dzahir, bukan dengan pendekatan tafsir, seakan-akan Allah itu berupa cahaya. Dari sini, akan ada tasybih atau menyerupakan Allah dengan makhluk yang bisa membawa pada kesalahan keyakinan tentang dzat Allah Yang Maha Suci.

Karenanya, dalam rangka menjelaskan maksud Allahu Nurus Samawati wal Ardh (Allah Cahaya Langit dan Bumi), dalam tulisan ini, kami akan mengutip pandangan para mufassir tentang maksud sebenarnya dari kalimat tersebut.

Surat An-Nur

Surat An-Nur merupakan surat ke-24 dalam urutan mushaf Al-Qur’an. Berada setelah Surat Al-Mu’minun dan sebelum Surat Al-Furqan.

Surat yang terbentang pada Juz 18 merupakan Surat Madaniyah yang terdiri dari 64 ayat.

Dinamai Surat An-Nur yang berarti Cahaya, karen diambil dari kata An-Nur yang terdapat pada ayat ke 35, sebagaimana yang akan menjadi fokus tulisan ini.

Dari segi kandungannya, surat ini sebagian besar isinya memuat petunjuk-petunjuk Allah yang berhubungan dengan sosial kemasyarakatan dan rumah tangga.

Surat An-Nur Ayat 35: Allahu Nurus Samawati wal Ardh

Agar lebih mudah mengurai makna pada ayat 35 ini, mungkin lebih pas jika saya tampilkan terlebih dahulu bunyi lafadz dan terjemahannya.

Sekaligus, agar diketahui lanjutan dari lafadz Allahu Nurus Samawati wal Ardh yang makna dan maksudnya merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Lafadz Arab

Inilah lafadz atau teks Arab dari Surat An-Nur ayat 35

اَللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ مَثَلُ نُوْرِهٖ كَمِشْكٰوةٍ فِيْهَا مِصْبَاحٌۗ اَلْمِصْبَاحُ فِيْ زُجَاجَةٍۗ اَلزُّجَاجَةُ كَاَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُّوْقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُّبٰرَكَةٍ زَيْتُوْنَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَّلَا غَرْبِيَّةٍۙ يَّكَادُ زَيْتُهَا يُضِيْۤءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌۗ نُوْرٌ عَلٰى نُوْرٍۗ يَهْدِى اللّٰهُ لِنُوْرِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ۙ

Terjemah

Dan inilah makna atau terjemah bahasa Indonesianya.

Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Tafsir Allahu Nurus Samawati wal Ardh

Setelah beberapa poin pengantar di atas, sepertinya sekarang sudah tepat untuk mulai menyajikan penjelasan para ulama tafsir tentang maksud dari Allahu Nurus Samawati wal Ardh (Allah Cahaya Langit dan Bumi).

Kitab tafsir yang saya kutip dalam hal ini memang hanya satu kitab saja, yakni Tafsir Jalalain karya Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan muridnya, Imam Jalaluddin As-Suyuthi.

Namun, walaupun hanya satu kitab, di dalamnya mengutip dari ahli tafsir lainnya, baik di tingkatan sahabat, seperti Ibnu Abbas dan Ubay bin Ka’ab maupun mufassir generasi berikutnya, semisal Ibnu Jarir At-Thabari, Imam Fakhruddin Ar-Razi dan yang lainnya.

Dan mari simak berikut tafsir dari Allahu Nurus Samawati wal Ardh (Allah Cahaya Langit dan Bumi) dalam Tafsir Jalalain!:

(Allah cahaya langit dan bumi) yakni pemberi cahaya langit dan bumi dengan matahari dan bulan.

(Perumpamaan cahaya Allah) sifat cahaya Allah di dalam kalbu orang Mukmin (adalah seperti misykat yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca) yang dinamakan lampu lentera atau Qandil.

Yang dimaksud Al-Mishbah adalah lampu atau sumbu yang dinyalakan. Sedangkan Al-Misykaat artinya sebuah lubang yang tidak tembus.

Sedangkan pengertian pelita di dalam kaca, maksudnya lampu tersebut berada di dalamnya (kaca itu seakan-akan) cahaya yang terpancar darinya (bintang yang bercahaya seperti mutiara) kalau dibaca Diriyyun atau Duriyyun berarti berasal dari kata Ad Dar’u yang artinya menolak atau menyingkirkan, dikatakan demikian karena dapat mengusir kegelapan, maksudnya bercahaya.

Jika dibaca Durriyyun dengan mentasydidkan huruf Ra, berarti mutiara, maksudnya cahayanya seperti mutiara (yang dinyalakan) kalau dibaca Tawaqqada dalam bentuk Fi’il Madhi, artinya lampu itu menyala.

Menurut suatu qiraat dibaca dalam bentuk Fi’il Mudhari’ yaitu Tuuqidu, menurut qiraat lainnya dibaca Yuuqadu, dan menurut qiraat yang lainnya lagi dapat dibaca Tuuqadu, artinya kaca itu seolah-olah dinyalakan (dengan) minyak (dari pohon yang banyak berkahnya, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah Timur dan pula tidak di sebelah Barat) akan tetapi tumbuh di antara keduanya, sehingga tidak terkena panas atau dingin yang dapat merusaknya (yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api) mengingat jernihnya minyak itu.

(Cahaya) yang disebabkannya (di atas cahaya) api dari pelita itu. Makna yang dimaksud dengan cahaya Allah adalah petunjuk-Nya kepada orang Mukmin, maksudnya hal itu adalah cahaya di atas cahaya iman (Allah membimbing kepada cahaya-Nya) yaitu kepada agama Islam (siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat) yakni menjelaskan (perumpamaan-perumpamaan bagi manusia) supaya dapat dicerna oleh pemahaman mereka, kemudian supaya mereka mengambil pelajaran daripadanya, sehingga mereka mau beriman (dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu) antara lain ialah membuat perumpamaan-perumpamaan ini.

Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan perkataan Abdullah bin Abbas tentang firman Allah : Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi, yakni, Allah pemberi petunjuk bagi penduduk langit dan bumi.

Ibnu Juraij berkata, Mujahid dan Abdullah bin Abbas berkata tentang firman Allah : Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi, yaitu yang mengatur urusan di langit dan di bumi, mengatur bintang-bintang, matahari, dan bulan.
 
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Anas bin Malik , ia berkata: Sesungguhnya Allah berfirman: Cahaya-Ku adalah petunjuk. Inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir.

Abu Ja’far ar-Razi meriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab tentang firman Allah : Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, yaitu orang Mukmin yang Allah resapkan keimanan dan al-Qur-an ke dalam dadanya. Lalu Allah me­nyebut­kan permisalan tentangnya, Allah berfirman: Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi, Allah memulai dengan menyebutkan cahaya-Nya, kemudian menyebutkan cahaya orang Mukmin: Perumpamaan cahaya orang yang beriman kepada-Nya.

Ubay membacanya: Perumpamaan cahaya orang yang beriman kepada-Nya, yaitu seorang Mukmin yang Allah resapkan keimanan dan al-Qur-an ke dalam dadanya.

Demikianlah diriwayatkan oleh Sa’id bin Jubair dan Qais bin Sa’ad dari Abdullah bin Abbas, bahwa beliau membacanya: Perumpamaan cahaya orang yang beriman kepada Allah.
 
Sebagian qari’ membacanya: Allah Penerang langit dan bumi. Adh-Dhahhak membacanya: Allah yang menerangi langit dan bumi.

Dalam menafsirkan ayat ini, as-Suddi berkata: Dengan cahaya-Nya langit dan bumi menjadi terang benderang. Dalam kitab ash-Shahihain diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas , ia berkata: Apabila Rasulullah bangun di tengah malam, beliau berdoa: “

“Ya Allah, segala puji bagi-Mu, Engkau adalah cahaya langit dan bumi serta segala sesuatu yang ada di dalamnya. Segala puji bagi-Mu, Engkau Yang Mengatur langit dan bumi serta segala sesuatu yang ada di dalamnya.” (Al-Hadits).
 
Firman Allah : Perumpamaan cahaya-Nya, ada dua pendapat berkaitan dengan dhamir (kata ganti orang ketiga) dalam ayat ini: Dhamir tersebut kembali kepada Allah, yakni perumpamaan petunjuk-Nya dalam hati seorang Mukmin seperti misykaah (lubang yang tak tembus).

Demikian dikatakan oleh Abdullah bin Abbas . Dhamir tersebut kembali kepada orang-orang Mukmin yang disebutkan dalam konteks kalimat, yakni perumpamaan cahaya seorang Mukmin yang ada dalam hatinya seperti misykaah.

Hati seorang Mukmin disamakan dengan fitrahnya, yaitu hidayah dan cahaya al-Qur-an yang diterimanya yang sesuai dengan fitrahnya. Seperti disebutkan dalam ayat lain: Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang yang mempunyai bukti yang nyata (al-Qur-an) dari Rabbnya, dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah. (QS. Huud ayat 17)
 
Allah menyamakan kemurnian hati seorang Mukmin dengan lentera dari kaca yang tipis dan mengkilat, menyamakan hidayah al-Qur-an dan syariat yang dimintanya dengan minyak zaitun yang bagus lagi jernih, bercahaya dan tegak, tidak kotor dan tidak bengkok.

Firman Allah : Seperti sebuah lubang yang tak tembus, Ibnu Abbas, Mujahid, Muhammad bin Kaab, dan lainnya mengatakan: Misykaah adalah tempat sumbu pada lampu, itulah makna yang paling masyhur.

Firman Allah : Yang di dalamnya ada pelita besar, yaitu cahaya yang terdapat di dalam lentera. Ubay bin Kaab mengatakan: Mishbaah adalah cahaya, yaitu al-Qur-an dan iman yang terdapat dalam dada seorang Mukmin.
 
Firman Allah : Pelita itu di dalam kaca, cahaya tersebut memancar dalam kaca yang bening. Ubay bin Kaab dan para ulama lainnya mengatakan: Maksudnya adalah perumpamaan hati seorang Mukmin.

Firman Allah : (Dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara,sebagian qari membacanya tanpa hamzah di akhir kata, yakni seakan-akan bintang seperti mutiara.

Sebagian lainnya membaca dan atau dengan kasrah dan dhammah huruf daal dan dengan hamzah, diambil dari kata , artinya lontaran.

Karena bintang apabila dilontarkan akan lebih bercahaya daripada kondisi-kondisi lainnya. Bangsa Arab menyebut bintang-bintang yang tidak diketahui namanya dengan sebutan. Ubay bin Kaab mengatakan: Yakni bintang-bintang yang bercahaya.
 
Firman Allah :Yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, yaitu berasal dari minyak zaitun, pohon yang penuh berkah, yakni pohon zaitun.

Dalam kalimat, kedudukan kata adalah badal atau athaf bayan. Firman Allah : Yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), tempat tumbuhnya bukan di sebelah timur hingga tidak terkena sinar matahari di awal siang dan bukan pula di sebelah barat hingga tertutupi bayangan sebelum matahari terbenam, namun letaknya di tengah, terus disinari matahari sejak pagi sampai sore. Sehingga minyak yang dihasilkannya jernih, sedang dan bercahaya.
 
Abu Jafar ar-Razi meriwayatkan dari Ubay bin Kaab tentang firman Allah : Pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), beliau berkata:

Yakni pohon zaitun yang hijau dan segar yang tidak terkena sinar matahari, bagaimanapun kondisinya, baik ketika matahari terbit maupun matahari terbenam.

Beliau melanjutkan: Demikianlah seorang Mukmin yang terpelihara dari fitnah-fitnah. Adakalanya ia tertimpa fitnah, namun Allah meneguhkannya, ia selalu berada dalam empat keadaan berikut:

Jika berkata ia jujur, jika menghukum ia berlaku adil, jika diberi cobaan ia bersabar dan jika diberi, ia bersyukur. Keadaannya di antara manusia lainnya seperti seorang yang hidup berjalan di tengah-tengah kubur orang-orang yang sudah mati.

Zaid bin Aslam mengatakan: Maksud firman Allah : Tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yaitu negeri Syam.
 
Firman Allah : (Yaitu), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api, Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Al-�Aufi meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas , bahwa maksudnya adalah iman seorang hamba dan amalnya.

Ubay bin Kaab berkata tentang firman Allah : Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengatakan: Yakni, disebabkan kilauan minyak yang ber­cahaya.

Firman Allah : Cahaya di atas cahaya, yakni tidak lepas dari lima cahaya, perkataannya adalah cahaya, amalnya adalah cahaya, tempat masuknya adalah cahaya, tempat keluarnya adalah cahaya, tempat kembalinya adalah cahaya pada hari Kiamat, yakni Surga.

As-Suddi mengatakan: Maksudnya adalah, cahaya api dan cahaya minyak, apabila bersatu akan bersinar, keduanya tidak akan bersinar dengan sendirinya jika tidak berpasangan.

Demikian pula cahaya al-Qur-an dan cahaya iman manakala bersatu, tidak akan bercahaya kecuali bila keduanya ber­satu.
 
Firman Allah : Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, Allah membimbing kepada hidayah bagi siapa yang Dia kehendaki, seperti yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Abdullah bin Amr , bahwa ia mendengar Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk-Nya dalam kegelapan, kemudian Allah memberi cahaya-Nya kepada mereka. Barang siapa mendapat cahaya-Nya pada saat itu, berarti ia telah mendapat petunjuk dan barang siapa tidak mendapatkannya berarti ia telah sesat. Oleh karena itu, aku katakan: Al-Qur-an (penulis takdir) dari ilmu Allah telah kering”.
 
Firman Allah : Dan Allah mem­perbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Mahamengetahui segala sesuatu.

Setelah menyebutkan perumpamaan cahaya-Nya dan hidayah-Nya dalam hati seorang Mukmin, Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya: Dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Mahamengetahui segala sesuatu. Yaitu, Dia Mahamengetahui siapa yang berhak mendapat hidayah dan siapa yang berhak disesatkan.

Kesimpulan

Demikian penjelasan panjang dan dan lengkap dari para ahli tafsir baik dari kalangan sahabat maupun tabiin dan tabiin tabiin tentang maksud firman Allah dalam Surat An-Nur ayat 35 Allahu Nurus Samawati wal Ardh yang bermakna Allah Cahaya Pemberi Cahaya langit dan bumi.

Sungguh penjelasan di atas, sekali lagi, cukup lengkap. Ttidak hanya berkaitan dengan maksud Allahu Nurus Samawati wal Ardh, tetapi juga penjelasan tentang kalimat-kalimat lain setelahnya.

Semoga bermanfaat dan menambah Khazanah pengetahuan kita dalam Ilmu Tafsir. Wallahu a’lam bisshawab.

Faisol Abdurrahman
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG