Asbabun Nuzul: Definisi, Pembagian, Fungsi dan Cara Mengetahuinya

asbabun nuzul

Pecihitam.org – Sebagai samudera ilmu, al-Qur’an tentu harus diselami, didalami kandungnnya dan dipelajari nilai-nilainya. Pengkajian dan penggalian nilai-nilai tersebut membutuhkan perangkat-perangkat ilmu. Adapun salah satu syarat untuk mengkaji al-Qur’an adalah menguasai perangkat-perangkat tersebut atau dalam bahasa teknisnya disebut ‘Ulumul Qur’an. Di antara pembahasan di dalam ‘Ulumul Qur’an adalah ilmu tentang Asbabun nuzul.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Definisi Asbabun Nuzul

Dalam kitab Lisanul Arab, Ibnu Al-Mandzur menyebutkan, bahwa secara etimologi kata asbab adalah bentuk plural dari kata sabab yang berarti sesuatu yang mengakibatkan pada suatu yang lain (cause). Atau dalam bahasa Arabnya disebut kullu syai-in yutawasshalu bihi ila ghairihi.

Sedangkan kata nuzul berarti menempati (hulul). Orang Arab mengistilahkan seseorang yang singgah di suatu kaum dengan istilah nazil. Selain itu, kata nuzul juga menurutnya memiliki arti turun, seperti kata turun dalam kalimat nazala min fauqi ila asfal (turun dari atas ke bawah). Sehingga menurut Ibnu Al-Mandzur, nuzul atau nazala memiliki dua arti, yakni menempati dan turun.

Sedangkan menurut Muhammad Abdul Adhim Az-Zarqani dalam kitabnya Manahil al-Irfan, asbabun nuzul secara terminologi merupakan suatu ayat yang diturunkan dengan berkenaan suatu kejadian atau peristiwa sebagai keterangan hukum pada hari kejadian.

Ali as-Shabuny dalam kitab At-Tibyan fii Ulumil Qur’an mendefinisikan asbabun nuzul yaitu ketika terjadi suatu kasus (kejadian), kemudian diturunkanlah satu atau beberapa ayat yang berhubungan dengan kasus tersebut.

Dari segi lain, terkadang ada suatu pertanyaan yang dilontarkan kepada Rasulullah Saw tentang suatu hukum syara’ atau penjelasan secara terperinci tentang urusan agama. Kemudian Allah menurunkan satu atau beberapa ayat yang berhubungan dengan pertanyaan tersebut.

Pembagian Asbabun Nuzul

Ayat-ayat al-Quran diklasifikasikan kepada dua kelompok; pertama ayat-ayat yang mempunyai sebab atau latar belakang turun dan kedua ayat-ayat yang diturunkan tidak didahului oleh suatu peristiwa atau pertanyaan. Ayat dalam kategori kedua ini lebih banyak dari bagian pertama.

Para mufassir membagi peristiwa asbabun nuzul itu kepada tiga macam, yaitu:

Baca Juga:  Alasan Nabi Saw Memilih Gua Hira sebagai Tempat Berkhalwat

1. Perdebatan (jadal)

Yaitu perdebatan antara sesama umat Islam atau antara umat Islam dengan orang-orang kafir. Misalnya perdebatan antara sahabat Nabi saw dengan orang yahudi yang kemudian menjadi penyebab turunnya surah Ali Imran (3) ayat 96.

Mujahid berkata; suatu ketika umat Islam dan Yahudi saling membanggakan kiblat mereka. Orang Yahudi berkata, Baitul Maqdis lebih utama dari Ka’bah karena ke sanalah tempat berhijrahnya para nabi dan ia terletak pada tanah suci. Sahabt berkata pula, Ka’bahlah yang paling mulia dan utama. Maka kemudian turun surah Ali Imran (3) ayat 96 tersebut, yaitu:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat (beribadah) manusia ialah baitullah yang ada di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.”

2. Kesalahan

Yaitu peristiwa yang merupakan perbuatan salah yang dilakukan oleh sahabat kemudian turun ayat guna meluruskan kesalahan tersebut agar tidak terulang lagi. Contohnya kejadian yang menyebabkan turunnya surah An-Nisa (4) ayat 43, yaitu:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu dekati shalat padahal kamu sedang mabuk.”

Pada suatu ketika Abdurrahman bin Auf melakukan jamuan makanan. Dia mengundang para sahabat Nabi dan menjamu mereka dengan makanan dan minuman khamr. Mereka pun berpesta dengan makanan dan minuman tersebut kemudian mabuk.

Kemudian setelah waktu maghrib pun tiba. Mereka shalat dengan di imami oleh seorang dari mereka. Sang imam dalam shalatnya membaca surah dengan bacaan yang salah. Sahabat membaca laa nafyi (kata yang bermakna tidak) pada kata Laa a’budu maa ta’budun tidak dipanjangkan, sehingga maknanya berubah. Peristiwa ini lantas disampaikan kepada Nabi, kemudian turunlah ayat di atas.

3. Harapan dan Keinginan

Hal ini sebagaimana digambarrkan dengan turunnya ayat berikut:

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ

“Sungguh Kami sering melihat wajahmu menengadah ke langit. Maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada palingkanlah mukamu ke arahnya.”

Al-Barra’ menyebutkan, bahwa setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah Saw shalat menghadap Baitul Maqdis selama 16 bulan, padahal beliau lebih suka berkiblat ke Ka’bah. Maka setiap kali shalat, Nabi Saw selalu berdoa mengharap turunnya wahyu yang memerintahkan beliau menghadap ke Ka’bah. Dan kemudian turunlah ayat di atas.

Baca Juga:  Tujuh Nama Anak Rasulullah yang Harus Kita Ketahui, Siapa Sajakah Mereka?

Dari sini juga dapat dipahami bahwa peristiwa yang menyebabkan turunnya suatu ayat pada hakikatnya adalah hadis Nabi. Oleh sebab itu, asbabun nuzul termasuk dalam kategori ilmu riwayah bukan dirayah. Ia ada yang shahih dan ada pula yang tidak shahih.

Kemudian yang boleh dijadikan pedoman dalam menentukan asbabun nuzul adalah perkataan para sahabat yang langsung menyaksikan peristiwa tersebut, atau diterimanya berita tentang peristiwa itu dari sahabat lain.

Pentingnya Asbabun Nuzul

Memahami Al-Qur’an tidak semudah membalikkan telapak tangan. Hal ini tidak hanya dirasakan oleh kalangan non-Arab yang secara kasat mata bukan bahasa aslinya. Bahkan kesulitan ini juga melanda masyarakat Arab sendiri meski keseharian mereka menggunakan bahasa Arab.

Permasalah utamanya ialah karena Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang mempunyai nilai suci, sehingga tidak ada seorang pun yang dapat memahami kebenaran mutlak tanpa adanya petunjuk dan hidayah dari Allah.

Imam al-Wahidi menyebutkan bahwa asbabun nuzul begitu penting dalam memahami ayat Al-Qur’an. Beliau menyampaikan:

لا يمكن معرفة تفسير الأية دون الوقوف على قصتها وبيان نزولها

“Seorang tidak akan mengetahui tafsir (maksud) dari suatu ayat tanpa berpegang pada peristiwa dan konteks turunnya ayat. (Jalalud Din as-Syuyuti, Lubâb an-Nuqûl fî Asbâbin Nuzûl, Beirut: Darl al-Kutub al Ilmiah, 1971, hal. 3)

Pandangan al-Wahidi memberikan pengertian bahwa asbabun nuzul adalah salah satu komponen penting yang harus diperhatikan bagi orang yang ingin memahami maksud Al-Qur’an. Selain itu juga peringatan bahwa belajar Al-Qur’an tidak cukup hanya membaca terjemahan. Karena tidak semua terjemahan atau kitab tafsir memuat asbabun nuzul secara keseluruhan, sehingga potensi untuk salah akan sangat besar.

Dalam kitab al-Muwafaqat fi Ushul asy-Syari’ah Imam al Syathibi memberikan peringatan keras kepada orang yang belajar dan memahami al Qur’an hanya dari teksnya saja tanpa melihat atau memperhatikan konteks turunnya ayat, karena asbab al nuzul adalah komponen dasar dalam memahami al Qur’an (Abi Ishaq al Syathibi, al-Muwâfaqât fî Ushûl asy-Syari’ah, vol. III Beirut: Bar al-Kutub al-Ilmiah, 2005, hal. 258).

Baca Juga:  Dari Sumur, Punya Rekening dan Hotel Mewah, Inilah Wakaf Utsman bin Affan

Kemudian pendapat Imam al Wahidi diperkuat oleh pernyataan Imam Ibnu Daqiq al-Aid yang berpendapat bahwa salah satu hal penting dalam memahami Al-Qur’an adalah dengan mengetahui asbabun nuzul dari ayat itu sendiri. Sebab hal tersebut adalah cara untuk memperkuat dalam mengetahui makna Al-Qur’an. Beliau mengatakan:

بيان سبب النزول طريق قوي في فهم معاني القرأن

“Keterangan konteks turunnya ayat merupakan cara untuk memperkuat dalam memahami makna Al-Qur’an.” (Jalalud Din as-Syuyuti, al-Itqan fi Ulum al-Qur’an, Beirut: Darl al Fikr, 2012, hal. 41)

Dari penjelasan para ulama tersebut memberrikan rambu-rambu kepada kita agar senantiasa berhati-hati dalam menafsirkan ayat Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an bukan kitab biasa dan tidak boleg dipahami dengan sembarangan, melainkan harus kepada ahlinya.

Cara Mengetahui Asbabun Nuzul dari Suatu Ayat

Dalam kitab Lubab an-Nuqul fî Asbabin Nuzul karya Imam Suyuthi menyebutkan, bahwa para ulama bersepakat ada dua metode untuk mengetahui asbabun nuzul.

  • Pertama, melalui jalur riwayat (transmisi).
  • Kedua, melalui jalur mendengarkan riwayat langsung dari para sahabat yang menyaksikan peristiwa turunnya wahyu.

Metode pertama menunjukkan bahwa setiap orang dapat mengetahui peristiwa konteks turunnya Al-Qur’an namun dengan periwayatan yang panjang, dan hanya bisa didapatkan dari orang yang tsiqah, dlabith dan ‘adil.

Sedangkan metode kedua, hanya orang tertentu yang dapat mengetahuinya, karena berkaitan dengan masa sahabat. Sehingga dapat dipastikan hanya sahabat awal yang mengetahui peristiwa turunnya wahyu. Misalnya seperti sebab turunnya Surrat al-Baqarah ayat 120 yang menjelaskan tentang jima’.

Sahabat Jabir meriwayatkan bahwa orang Yahudi mempunyai anggapan bahwa laki-laki yang mendatangi (bersetubuh dengan) istrinya dari belakang akan mendapatkan anak cacat (mata juling), kemudian turun ayat tersebut. Demikian, wallahua’lam bisshawab

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik