Kisah Toleransi Asma Binti Abu Bakar, Si Pemilik Dua Selendang

asma binti abu bakar

Pecihitam.org – Islam mengajarkan toleransi sejak berabad-abad yang lalu, termasuk sikap toleran kepada non-muslim. Sikap itu dipraktikkan oleh salah satu sahabat perempuan yang mulia bernama Asma binti Abu Bakar.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Secara bahasa, toleransi berasal dari bahasa latin “tolerare”. Toleransi berarti sabar dan menahan diri. Toleransi juga dapat berarti suatu sikap saling menghormati dan menghargai antarkelompok atau antarindividu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya. Sikap toleransi dapat menghindari terjadinya diskriminasi, walaupun banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatu kelompok masyarakat.

Contoh sikap toleransi secara umum antara lain: menghargai pendapat mengenai pemikiran orang lain yang berbeda dengan kita, serta saling tolong-menolong antar sesama manusia tanpa memandang suku, ras, agama, dan antar golongan. Istilah toleransi mencakup banyak bidang. Salah satunya adalah toleransi beragama, yang merupakan sikap saling menghormati dan menghargai antar penganut agama lain.

Toleransi sudah dipaparkan dalam Al-Qur’an secara komprehensif, diantaranya bagaimana Tuhan menjelaskan dalam surat Al-Kafirun dari ayat 1 sampai ayat 6.

Asbabun-nuzulnya adalah tentang awal permintaan kaum Quraisy terhadap Nabi Muhammad bahwa untuk saling menghormati antar-agama, maka pemuka Quraisy meminta supaya nabi menginstruksikan kepada penganut muslim untuk bergiliran penyembahan terhadap dua Tuhan: hari ini menyembah Tuhan Nabi Muhammad dan esok hari menyembah Tuhan kaum Quraisy.

Baca Juga:  Fadhilah Taubat yang Terdapat dalam Kisah Kaum Nabi Yunus

Dengan adanya keadilan dalam pelaksanaan ibadah dari kedua agama tersebut, maka menurut pemuka Quraisy akan terjadi toleransi antar-agama. Keputusan ini tentunya ditentang oleh Allah Swt., dengan menurunkan surat Al-Kafirun ayat 1-6.

Ternyata dalam agama tidak boleh ada pencampuradukan keyakinan, lapangan toleransi hanya ada di wilayah muamalah. Hal ini bisa dilihat dari rujukan kitab-kitab tafsir, di antaranya Tafsir Al-Maraghi, juz 30 tentang penafsiran surat Al-Kafirun.

Berikut adalah kisah Asma binti Abu Bakar tentang sikap toleran dalam Islam: Asma binti Abu Bakar dilahirkan 27 tahun sebelum hijrah. Ia berusia 10 tahun lebih tua dari saudara perempuan tirinya, Siti Aisyah r.a. Ia dikenal dengan julukan dzatu niqothoin (pemilik dua selendang).

Pada saat Islam datang, ibu kandung Asma yang bernama Qutaibah binti Abdil ‘Uzza al-Amiriyah memilih untuk tetap setia pada agama nenek moyangnya. Maka, Abu Bakar pun menceraikannya.

Baca Juga:  Karamah Seorang Wanita yang Istiqamah Membaca Surat Al-Ikhlas di Bulan Rajab, Inilah Kisahnya

Pada saat umat Islam hijrah ke Madinah, Asma ikut bersama ayahnya Abu Bakar dan meninggalkan ibu kandungnya. Kisah Asma binti Abu Bakar bermula ketika pada suatu hari ibunda Asma mendatanginya ke Madinah saat belum memeluk agama Islam.

Sang ibu tak bisa menahan kerinduan pada anaknya. Ia pun membawakannya makanan berupa kismis, mentega dan qaradh yaitu semacam daun untuk menyamak. Tapi, Asma justru menolak kehadiran ibunya sebab sang ibu belum memeluk agama Islam.

Asma lalu menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah Saw. Ia bertanya, “Ya Rasulullah, sesungguhnya ibuku mendatangiku sedangkan ia belum menyukai Islam, bolehkah aku bersilaturahim dengannya? Rasulullah Saw. pun menjawab “Ya, bersilaturahimlah dengannya.”

Setelah kejadian itu turunlah firman Allah Swt dalam Surat Al-Mumtahanah ayat 8 sebagai berikut:

لَّا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمْ يُقَٰتِلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوٓا۟ إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ

Artinya: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Setelah diizinkan bersilaturahim dengan ibunya, sikap Asma pun berubah dan akhirnya ia selalu berbuat baik kepada ibunya. Asma bahkan mengizinkan ibunya datang kapan pun meskipun ibunya bukan seorang muslimah.

Baca Juga:  Kisah Qays bin Saad, Sahabat Nabi Yang Dermawan

Kisah Asma ini menunjukkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi toleransi. Islam juga senantiasa memerintahkan seorang anak selalu berbakti dan menjaga silaturahim kepada orang tuanya, meskipun kepada orang tua yang nonmuslim. Demikian kisah Asma binti Abu Bakar tentang toleransi. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam.

Ayu Alfiah