Assalamualaikum; Tulisan Arab, Asal Usul dan Hukum Mengucapkannya Kepada Non-Muslim

Assalamualaikum; Tulisan Arab, Asal Usul dan Hukum Mengucapkannya Kepada Non-Muslim

PeciHitam.org – Simbol Islam sebagai Agama rahmatan lil ‘alamain, salah satunya dengan saling mengucapkan salam kepada sesama saudara seiman.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dengan mengucapkan salam kepada sesama Muslim akan menjadikan keakraban dan mempererat tali persaudaraan sesama umat islam.

Pasalnya, dalam lafadz Assalamualaikum mempunyai makna mendalam dalam mendoakan orang yang disapa. Doa yang terkandung semoga selalu dalam lindungan Allah SWT.

Keagungan dan Keistimewaan assalamualaikum sebesar apa, bagaimana penulisan yang benar sesuai dengan kaidah bahasa Arab serta diperuntukan bagi siapa lafadz ini, mari kita bahas satu persatu.

Daftar Pembahasan:

Tulisan Assalamualaikum dalam Bahasa Arab dan Jawabannya

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ —- ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tulisan lafadz Assalamualaikum memiliki 2 varian penulisan, yakni versi lengkap dan penulisan keseharian/ takfiyah (kecukupan dalam penulisan). Lafadz ini adalah simbol perekat ukhuwah islamiyyah (persaudaraan umat islam seluruh dunia.

Tulisan lafadz Salam yang paling sederhana adalah (السَّلَامُ عَلَيْكُمْ), jika ditulis dengan bahasa Indonesia menjadi Assalamu ’Alaikum yang mengandung makna “Semoga Keselamatan selalu tercurah Kepada Kalian”. Kalimat dengan indikasi doa sangat kuat, serta menggemberikan bagi orang yang mendengar.

Sedangkan jika kita tulis secara lengkap (ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ) dengan transliterasi menjadi “Assalamu ‘Alaikum wa Rahmatu Allahi wa Baarakatuhu” yang mencakup didalamnya 3 doa sekaligus. Doa-doa tersebut antara lain;

  1. (ٱلسَّلَامُ) adalah doa keselamatan diperuntukan bagi orang yang mendapatkan “Salam”. Dengan doa kepada Allah SWT semoga selalu melimpahkan faidah keselamatan bagi orang muslim.
  2. (رَحْمَةُ) merupakan doa, semoga kita selalu dalam naungan kasih sayang/ rahmat Allah SWT dan tidak terputus-putus
  3. (بَرَكَاتُ) dimaknai sebagai Keberkahan Allah SWT selalu tersemat kepada orang Islam. Berkah adalah serapan dari bahasa Arab yang bermakna (زيادة الخير)-bertambahnya kebaikan yang tidak terputus. Keberkahan hidup memang selalu dinanti oleh orang islam.

Universalitas/ cakupan sangat luas pada lafadz Salam ini, mengindikasikan tentang kasih sayang yang harus selalu ditebarkan oleh orang Islam kepada sesamanya. Lafadz ini juga menjadi penanda bahwa setiap derap langkah seorang hamba muslim harus disandarkan kepada Allah SWT.

Baca Juga:  Ragam Makna Kata Syahwat dalam Al-Quran

Jawaban dari ucapan Salam (السَّلَامُ عَلَيْكُمْ) atau versi lengkap (ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ) adalah kita harus  megucapkan lafadz;

وَعَلَيْكُمُ السَّلَامُ ——وَعَلَيْكُمُ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

Artinya; “Dan kepada Engkau semoga selalu tercurah Keselamatan, Rahmat dan Berkah Allah SWT”

Jika kita mengucapkan salam dengan versi singkat, maka jawaban orang Islam juga boleh dengan jawaban singkat. Jikalau seseorang mengucapkan salam dengan versi lengkap, maka kiranya harus dijawab dengan jawaban lengkap juga. Karena itulah yang menjadi Sunnah Rasulullah SAW.

Kapan Harus Mengucapkan Assalamualaikum?

Kapan kita sebagai seorang Muslim mengucapkan lafadz Assalamualaikum?

  1. Jika bertemu dengan Saudara Muslim lainnya maka kita disunnahkan mengucapkan Salam dalam bentuk singkat atau lengkap
  2. Hendak memasuki suatu rumah dengan Penghuni, maka ucapannya sama dengan bertemu dengan orang Muslim
  3. Apabila hendak memasuki suatu rumah Tanpa Penghuni, maka ada dua bentuk tindakan yang harus diketahui. Pertama jika masuk kedalam rumah kosong milik Muslim Assalamu ‘Alaikum wa ‘ala Iibadillahi Shalihin” (Semoga Allah Memberi keselamatan kepada kita dan hamba-hambaNya yang Saleh). Kedua; jika masuk kedalam rumah kosong milik non-Muslim maka “Assalamu ‘Ala Man ittaba’al Huda” (Semoga keselamatan diberi bagi kepada siapa yang dipetunjuki oleh Allah). Ucapan ini merupakan pendapat dalam Kitab Fathl Bari karya Imam Ibnu Hajar al-Asqalani.

Asal Usul Lafadz Assalamualaikum

Orang yang mengucapkan Salam pada dasarnya berhukum “Sunnah”, yaitu sebuah hukum “Jika kita melakukan akan mendapat pahala, jika kita meninggalkan tidak mengapa”.

Dan bagi orang yang menjadi Obyek Salam (orang yang disalami) berhukum “Wajib” untuk menjawan Salam. Wajib berkonsekuensi ”jika kita menjawab akan mendapat pahala, jika kita meninggalkan dan tidak menjawab Salam akan mendapat dosa”.

Hikmah dari kita diwajibkan menjawab Salam adalah sebagai bukti bahwa kita dalam keadaan tidak sedang bermasalah atau kita meleburkan Nafsu Amarah kepada orang yang memberi salam kepada kita. Karena sungguh Aneh jika kita diberi ucapan salam dan tidak menjawab dengan kebaikan.

Baca Juga:  Ilmu-Ilmu Islam yang Harus Dipahami Pengkaji Pemula

Dasar dari keagungan ucapan lafadz Assalamualaikum adalah firman Allah SWT yang termaktub dalam Surat Al-Hasyr ayat 23;

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Artinya; “Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, yang Maha Suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala Keagungan, Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan” (Qs. Al-Hasyr: 23)

Pada ini, As-Salaam (Maha Sejahtera) adalah satu dari Nama-nama Agung (asmaul Husna) Allah SWT.

Asal usul dari ucapan lafadz Assalamualaikum adalah terjadi pada masa Nabi SAW. Nabi mendapati bahwa masyarakat Arab selalu saling mengucapkan Salam. Akan tetapi ucapan Salam orang-orang Pra-Islam bersifat parsial dan Temporer.

Ucapakan tersebut hanya untuk momentum tertentu, seperti pada saat bertemu Hayakallah (حياك الله) yang artinya “Semoga Allah menjagamu tetap hidup” atau Ungkapan lainnya.

Kemudian Islam memperkenalkan ungkapan Assalamualaikum yang bersifat Universal dalam setiap keadaan dan setiap saat. Seorang Ulama menerangkan dalam kitab Al-Ahkamul Qur’an mengatakan bahwa “Salam” adalah salah satu ciri-ciri Allah SWT dan berarti “Semoga Allah menjadi Pelindungmu”.

Hukum Mengucapkan Salam Untuk Non-Muslim

Ucapan dalam perjalanan budaya manusia sangat luas serta dikenal hampir seluruh masyarakat dimanapun berada. Walaupun dengan redaksi berbeda-beda. Pun demikian di Nusantara banyak sekali variasi yang terdapat dalam “Salam”.

Beberapa redaksi Salam dalam Budaya seperti “kula nuwun”, “sampurasun”, “sugeng enjang”, dan lain sebagainya. Dalam era Islam, hal demikian diganti dengan ucapan Assalamualaikum untuk memperlihatkan sifat Universalitas salam dalam Islam. Akan tetapi jika kita mengucapkan Salam dalam bentuk budaya TIDAK ADA KEHARAMAN dalamnya.

Ucapan Salam juga digunakan oleh budaya Kristen di Timut Tengah yang artinya beririsan dengan makna dalam lafadz Assalamualaikum. Yaitu “Shalom Aleichem” yang menggunakan bahasa Ibrani. Akan tetapi bagaimana Hukumnya kita mengucapkan salam pada orang Non-Muslim dan Ahlu Kitab?

Baca Juga:  Ketika Umat Kristen Disebut Kafir: Ini Ujian Keimanan

Hadis Tentang Salam Kepada Yahudi dan Nasrani

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ تَبْدَأُوا اليَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلامِ فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِي طَرِيْقِ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ – رَوَاهُ مُسْلِم

Artinya; “Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian memulai salam kepada Yahudi dan Nasrani. Apabila kalian bertemu dengan salah satu dari mereka di jalan maka desaklah ia ke jalan yang sempit.” (HR. Muslim)

Maksudnya adalah kita dilarang mengucapkan salam kepada orang yang benar-benar memusuhi Islam, yaitu golongan dari orang Yahudi dan Nasrani Harbi.

Akan tetapi, kita wajib bermuamalah dengan baik dengan orang-orang Non-Muslim sebagaimana Rasulullah tetap melakukan transaksi dengan orang-orang Yahudi Madinah.

Hadis Tentang Menjawab Salam dari Ahlul Kitab

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أهْلُ الكِتَابِ فَقُولُوا : وَعَلَيْكُمْ – مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Artinya; “Anas RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila ahli kitab mengucapkan salam kepada kalian, maka katakanlah, ‘Wa ‘alaikum (Dan atas kalian)”. ([HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjadi dasar bahwa kita Mubah (Boleh) membalas Salam  dari Ahli Kitab dengan ucapan WA’ALAIKUM. Bentuk berbuat baik pada mereka adalah menghormati hingga mereka tidak mengganggu kaum muslimin. Ash-Shawabu Minallah

Mohammad Mufid Muwaffaq