Awas Terjebak Akidah Tajsim ala Salafi Wahabi

Awas Terjebak Akidah Tajsim ala Salafi Wahabi

PeciHitam.org – Allah SWT adalah dzat yang paling sempurna, tidak tertandingi dengan sesuatu apapun dan tidak memiliki kesamaan terhadap sesuatupun jua.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kesempurnaan Allah SWT sudah menjadi bahan pembicaraan para Ulama sejak perkembangan awal Ilmu Kalam berkembang. Arus utama dalam memahami dzatullah adalah argumentasi Syaikh Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi.

Argumentasi beliau kemudian dikenal dengan aliran Asy’ariyah dan Maturidiyah yang banyak menjadi rujukan golongan Ahlussunnah wal Jamaah. Penggunaan akal menurut Asy’ariyah diterima selama proporsional, dan tidak bertentangan dengan dua sumber hukum Islam.

Anti tesis paham Asy’ariyah dan Maturidiyah adalah paham penolak akal digunakan dalam Islam namun terjebak dalam confusionisme dan Tajassum. Berikut bahaya adanya Tajassum atau Tajsim!

Penolakan Wahabi dalam Takwil

Takwil dipahami oleh golongan salafi wahabi (setidaknya dalam laman IbnBaz.org) sebagai penyelewengan makna al-Qur’an. Pemahaman terhadap takwil yang dianggap sebagai penyelewengan makna sebenarnya berasal dari ketidak pahaman/ gagal paham terhadap kaidah takwil.

Kalangan Ulama wahabi menolak adanya takwil karena dianggap sebagai merubah kandungan al-Qur’an yang sudah baku sejak diturunkan pertama kali.

Bahkan penolakan takwil oleh kalangan salafi wahabi berasal dari Mufti Besar Kerajaan Arab Saudi Abdullah bin Baz. Kalangan salafi wahabi berdalil dengan ayat Al-Qur’an sebagai berikut;

Baca Juga:  Gerakan Wahabisme yang Tertolak dan Corak Islam di Indonesia

فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الأنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya; “(dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat” (Qs. Al-Syuura: 11)

Selain dalil dari Al-Qur’an, kalangan salafi wahabi ketika menolak adanya takwil terhadap sebagian sifat Allah SWT juga mengutip perkataan Imam Malik.

Bahkan Imam Ahmad menyamakan takwil dengan perbuatan Kaum Jahmiyyah. Pikiran utama salafi wahabi adalah anggapan bahwa takwil atau tawidh sebagai bentuk perubahan terhadap Al-Qur’an.

Akan tetapi, faktanya keterjebakan pemikiran Tajsim atau Tajassum banyak terjadi dalam kalangan salafi wahabi sendiri.

Walaupun propagandanya menolak takwil untuk mensucikan Asma’ Allah SWT, namun disatu sisi menggiring sifat Allah kepada Tajassum.

Bukti Ketajassuman Wahabi Salafi

Perdebatan Kalama tau Teologi adalah perdebatan yang banyak beredar dikalangan intelektual, bukan menjadi konsumsi masyarakat awam. Pada ranah ini, Ulama salafi wahabi menolak sama sekali penggunaan takwil dalam mengartikan sebagian ayat Al-Qur’an.

Baca Juga:  Kerancuan dan Kebingungan Salafi Wahabi dalam Memahami Bid'ah

Pun ketika memaknai sebuah ayat Al-Qur’an yang secara dzahir menggunakan part atau bagian yang sama dengan makhluk tetap tidak dipahami lebih dalam. Sebagai contoh adalah surat Al-Qashash ayat 88,

وَلا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لا إِلَهَ إِلا هُوَ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلا وَجْهَهُ

Artinya; “Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, Tuhan apapun yang lain. tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah” (Qs. Al-Qashash: 88)

Ayat di atas mengandung kata ‘إِلا وَجْهَهُ’ yang jika diterjemahkan secara tekstual khas salafi wahabi akan berbunyi (semua akan binasa) Kecuali Wajah Allah SWT. Karena kata ‘وَجْهَهُ’ dalam bahasa Arabnya memang wajah, muka. Bukti lain bahwa salafi wahabi melakukan Tajsim atau Tajassum adalah ayat,

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ

Artinya; “Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu Sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka” (Qs. Al-Fath: 10)

Orang-orang salafi wahabi tidak menyadari bahwa penolakan terhadap interpretasi al-Qur’an menggunakan takwil mendorong Muslim untuk Tashawwur (penggambaran dalam bentuk fisik). Sedangkan Allah SWT tidak mungkin memiliki bentuk fisik sebagaimana makhluk.

Hal inilah yang menjadikan sebagian besar Ulama Ahlussunnah wal Jamaah mengambil sikap berseberangan dengan salafi wahabi. Karena dalam beribadah bisa jadi salafi wahabi bukan menyembah Allah, namun menyembah bayangan dari proses Tashawwur Ketuhanan. (berlanjut Bag II). Ash-Shawabu Minallah

Mohammad Mufid Muwaffaq