Menyikapi Perbedaan dalam Pelafalan Bacaan Al-Quran

Menyikapi Perbedaan dalam Pelafalan Bacaan Al-Quran

PeciHitam.org Kitab suci al-Qur’an menggunakan Bahasa Arab, menjadi rujukan bagi seluruh umat Islam seluruh dunia yang sangat plural. Umat Islam bukan hanya berasal dari suku Arab, sebagai penutur asli bahasa Arab namun juga berasal dari berbagai suku ras dan bangsa berbeda. Kebudayaan dan Bahasa masing-masing bangsa tentunya juga berbeda mengikuti tradisi yang berkembang di dalamnya.

Perbedaan bahasa dan kebudayaan mendorong pula perbedaan dalam membaca al-Qur’an, dipengaruhi oleh dialek tuturan berbeda. Maka muncullah adanya Qira’ah (Ilmu metode membaca Al-Qur’an) yang berbeda-beda. Setidaknya ada 7 macam qira’ah yang disepakati oleh Ulama dan jika diperluas menjadi Qira’ah ‘Asyrah bahkan lebih.

Realitas ini dipahami oleh akun Media Sunnah yang merujuk kepada golongan salafi wahabi sebagai tindakan berlebihan. Akun Media Sunnah menuliskan bahwa mempelajari Langgam dan Mengindahkan Tilawah sebagai ‘Salah Jalan’. Benarkah demikian? Berikut penjelasannya!

Sejarah Qira’at, Perbedaan dalam Membaca Al-Qur’an

Persebaran Islam yang mencakup banyak peradaban, kebudayaan dan bahasa berbeda tentunya membawa dampak pada pembelajaran Al-Qur’an. Penyeragaman dalam membaca Al-Qur’an kiranya diusahakan dengan munculnya Ijtihad untuk memberikan tanda baca kepada Al-Qur’an seperti oleh Abul Aswad Ad-Duali sekitar tahun 60an Hijriyah.

Tidak berhenti dengan tanda baca, Abu Ubaid Qasim bin Salam mencetuskan keilmuan Tajwid pada tahun 150an Hijriyah. Tujuan Ilmu Tajwid adalah untuk memberikan panduan tata cara membaca Al-Qur’an yang berbahasa Arab kepada mereka yang masih awam mengucapkannya.

Rasulullah SAW memberikan indikasi dan pemakluman terhadap perbedaan pengucapan dalam membaca al-Qur’an yang menjadi dasar Qira’ah Sab’ah yaitu;

أَقْرَأَنِى جِبْرِيْلُ بِحَرْفٍ فَرَاجَعْتُهُ فَلَمْ أَزَلْ أَسْتَزِيْدُهُ وَيَزِيْدُنِى حَتىَّ انْتَهَى إِلىَ سَبْعَةِ أَخْرُفٍ زَادَ مُسْلِمً قَالَ ابْنُ شِهَابٍ بَلَغَنِى أَنَّ تِلْكَ السَّبْعَةَ فِى الْأَمْرِ اَلَّذِى يَكُوْنُ وَاحِدًا لَايَخْتَلِفُ فِى حَلَالٍ وَحَرَامٍ

Artinya: Rasulullah bersabda, “Jibril membaca Al-Qur’an dengan satu huruf kepadaku, maka aku senantiasa mengulang-ulangnya. Maka senantiasa aku minta kepada Jibril AS agar dia menambahkannya lagi, Jibril-pun berkehendak menambahkan kepadaku sampai berakhir kepada tujuh huruf. Muslim menambahkan dalam riwayatnya berkata Ibnu Sihab, “Disampaikan kepadaku yang tujuh huruf itu mengenai satu hal dan tidak berbeda dalam menetapkan hukum halal dan haram” (HR. Bukhari Muslim)

Indikasi dalam hadits di atas diterjemahkan oleh para Ulama Muhaqqiq sebagai pengakomodiran cara membaca sesuai dengan 7 model bahasa antara lain.

Dalam al-Qur’an disebutkan kata ‘Istibraq’ yang  berasal dari bahasa Yunani. Kata ‘Sijjil’ merupakan dialek yang berasal dari bahasa Persia. Kata ‘Haunan’ berasal dari bahasa Suryani dan ‘Sirath’ dari bahasa Rum (Romawi).

Realitas Membaca Al-Qur’an

Kecukupan ilmu pendukung untuk membaca al-Qur’an dengan benar sesuai Rasulullah SAW tidak sepenuhnya terpenuhi. Karena dialek yang beradasar sosio-kultural akan sangat susah mengubah untuk dirubah. Sebagaimana kesulitannya orang Jawa Tengah untuk mengucapkan ‘Ain dengan benar. seringkali terjebak dalam Ngain.

Pun orang Sunda akan susah mengucapkan huruf ‘ف’ Fa, dan sering terjebak dengan pengucapan huruf ‘Pa’. Belum lagi ketika Al-Qur’an dibaca oleh orang Sulawesi, orang Bali dan lain sebagainya yang meniscayakan adanya pergeseran sedikit-demi sedikit.

Kesulitan-kesulitan lain jika diinventarisir dalam sebuah rangkuman masalah akan sangat banyak, namun tidak menjadi alasan untuk menyalahkan dengan brutal kepada mereka. Tetap saja belajar Al-Qur’an berjalan dengan pelan namun mampu membekali pengetahuan sekuat  masyarakat memegangnya. Alasan Ushul Fikihnya adalah,

ما لا يدرك كله لا يترك كله 

Artinya; ‘apa yang tidak bisa dikerjakan dengan sempurna atau ideal, maka jangan sampai sama sekali tidak melakukan’

Jika masyarakat masih susah untuk merubah dialek, maka hendaknya terus diajar dengan penuh kesabaran dengan tanpa menyalahkan mereka. Apalagi menyebut mereka sebagai Salah Jalan hanya karena mempelajari Langgam, Lagu Tilawah sesuai dengan lidahnya.

Dakwah Sunnah apa yang diperjuangkan ketika menanggapi perbedaan dengan ‘Salah Jalan’. Anggapan ini hanya akan memperkeruh dakwah yang penuh hikmah dan keteladanan.

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG