Batulayang, Pemakaman Khusus Kesultanan Kadariah yang Menjadi Destinasi Wisata Religi

Batulayang, Pemakaman Khusus Kesultanan Kadariah yang Menjadi Dsestinasi Wisata Religi

Pecihitam.org – Batulayang, orang Pontianak dan Kalbar umumnya, tentu mengenal tempat bersejarah ini. Batulayang, Pemakaman Kesultanan Pontianak ini merupakan satu dari tiga aset warisan Kesultanan Pontianak setelah Istana Kadriah dan Masjid Sultan Abdurrahman.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Konon ketiga lokasi ini mempunyai letak dengan garis lurus dari istana, dari arah Timur ke Barat. Komplek pemakaman dikhususkan bagi para Sultan Pontianak dan keluarganya. Makam Sultan Pontianak terletak di tepian Sungai Kapuas yang dahulunya hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki, namun saat ini akses menuju lokasi tersebut sudah dapat mengunakan kendaraan.

Hampir tiap hari, nakam Sultan Pontianak ini dikunjungi oleh peziarah dan wisatawan untuk mengetahui lebih lengkap tentang riwayat para Sultan Pontianak, dengan segala bukti keberadaannya.

Dari sekian pengunjung, ada juga yang mengharapkan keberkahan dan bertawassul di tempat ini. Karena masyrakat muslim Kalbar, mengenal Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie sebagai salah seorang waliyullah di tanah Borneo.

Mulai dari perorangan, sering datang penziarah ke tempat yang di sekitarnya terdapat batu-batu ini. Dari situlah, kemudian tempat ini dikenal dengan Batulayang yang bermakana ‘batu terbang.

Karena menurut yang dituturkan sesepuh, dulu batu-batu itu berada di Keraton yang berada di wilayah Timur. Kemudian terbang dan jatuh di wilayah barat, yakni di Batulayang.

Baca Juga:  Islam Di Tiongkok, Sejarah Awal Mula Masuk dan Perkembangannya

Pada awalnya lokasi ini merupakan sebagai makam Sultan Abdurrahman yang wafat pada tahun 1808. Sultan dan kerabatnya telah memilih makam mereka di pinggir sungai Kapuas di daerah Batu Layang. Tidak ada alasan yang kuat mengapa dipilih tempat pemakaman para Sultan itu dipinggir Sungai Kapuas.

Kebiasaan raja-raja Jawa atau Sumatera membuat tempat pemakaman di suatu bukit atau disekitar mesjid. Mungkin Sultan Syarif Abdurrahman mempunyai makna khusus yang bernilai sejarah baginya.

Makam Sultan Syarif Abdurrahman terbuat dari kayu belian bertingkat dua. Diukir dengan motif tumbuhan bersulur yang selalu ditutupi dengan kelambu berwarna terang. Makam Sultan yang sudah berusia hamper 200 tahun itu telah banyak mendapat perbaikan dan perubahan.

Disampingnya terdapat makam isterinya Puteri Utin Chandramidi yang wafat tahun 1246 H atau tahun 1830. Makam Sultan Syarif Kasim yang wafat tahun 1819 berpagar kayu dan berkelambu kuning.

Di sampingnya terdapat makam seorang isteri dan anaknya. Begitupun makam Sultan Syarif Usman yang wafat ahun 1860, dimakamkan bersama isteri dan keluarganya. Makam Sultan Syarif Usman dalam satu ruang berpagar khusus. Nisan para Sultan yang berbentuk gada, menunjukkan bahwa itu adalah makam seorang lelaki. Nisan keluarga perempuan berbentuk pipih

Baca Juga:  Ibrahim; Induk Agama Samawi dan Kebingungan Yahudi Atas Kedatangan Nabi Muhammad

Demikian pula dengan makam Sultan Hamid I, Sultan Syarif Yusuf, Sultan Syarif Muhammad, Sultan Syarif Thaha dan Sultan Hamid II dalam kelompok tersendiri.

Makam Sultan Syarif Muhammad yang naik tahta tahun 1895, wafat sebagai akibat keganasan tentara pendudukan Jepang bersama dengan Sultan dan Panembahan di Kalimantan dan puluhan ribu pemuka dan rakyat Kalimantan Barat tahun 1944. la ditangkap Jepang tanggal 24 Juni 1944.

Setelah disiksa, dkuburkan di Pemakaman Kristen dekat gereja Katholik (Jl. Kartini sekarang) Pontianak. Baru pada tahun 1945, puteranya Sultan Hamid II memindahkan jenazahnya ke pemakaman Batu Layang. Di samping makam Sultan Syarif Muhammad dimakamkan isterinya Syecha Jamilah binti Mahmud Syarwani bergelar Maha Ratu Suri yang meninggal tanggal 14 April 1977.

Terdapat pula makam Syarifah Fatimah binti Syarif Muhammad bergelar Ratu Anom Bendahara.

Sultan Syarif Thaha Alkadri bin Syarif Usman bergelar Pangeran Negara wafat pada hari Kamis 27 September 1984. Di sebelahnya makam isterinya Raden Ajeng Sriyati bergelar Ratu Negara yang wafat hari Sabtu 12 Juni 1982. Sultan Hamid II yang wafat tanggal 30 Maret 1978 di Jakarta juga dimakamkan di pemakaman Batu Layang. Inilah prosesi pemakaman Sultan Pontianak terakhir. Semua upacara pemakaman para Sultan Pontianak dilakukan dengan upacara kebesaran oleh rakyat Pontianak. Kebesaran seorang Sultan dimakamkan dengan penuh upacara dengan perarakan perahu Lancang Kuning melalui sungai Kapuas.

Baca Juga:  Gerakan Kaum Sufi dalam Melawan Penjajah Kolonial

Begitulah Batulayang, komplek pemakaman keturunan Sultan Pontianak yang menjadi salah satu destinasi wisata religi di Kalbar.

Pada hari raya, ratusan warga datang dengan mengendarai bus. Ada juga yang menggunakan motor air. Selain pada Hari raya, ada juga yang datang ke Batulayang pada saat ingin berangkat atau pulang menunaikan haji.

Bahkan para mahasiswa sering terlihat berziarah dengan membaca Yasin dan Tahlil pada malam Selasa atau Jumat. Semoga salah satu cagar budaya peninggalan pendiri Kota Pontianak ini senantiasa lestari terjaga.

Faisol Abdurrahman