Begini Tata Cara Melaksanakan Shalat Sunnah Safar

Tata Cara Melaksanakan Shalat Sunnah Safar

Pecihitam.org – Telah menjadi maklum dan masyhur bahwa di antara jajaran shalat yang sunnah dikerjakan adalah shalat sunnah safar. Shalat sunnah ini dilaksanakan saat hendak melakukan perjalanan, bepergian ke suatu tempat. Seperti ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji.

Shalat sunnah safar masuk kedalam kategori shalat sunnah yang tidak disunnahkan dilaksanakan dengan berjamaah. Adapun jika dilakukan dengan berjamaah, tidak menjadi masalah. Sebagaimana termaktub dalam kitab al-Majmu’ Syarh Muhadzdzab juz 4 halaman 5, yaitu:

ﻗﺎﻝ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ ﺗﻄﻮﻉ اﻟﺼﻼﺓ ﺿﺮﺑﺎﻥ (ﺿﺮﺏ) ﺗﺴﻦ ﻓﻴﻪ اﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻭﻫﻮ اﻟﻌﻴﺪ ﻭاﻟﻜﺴﻮﻑ ﻭاﻻﺳﺘﺴﻘﺎء ﻭﻛﺬا اﻟﺘﺮاﻭﻳﺢ ﻋﻠﻰ اﻷﺻﺢ (ﻭﺿﺮﺏ) ﻻ ﺗﺴﻦ ﻟﻪ اﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻟﻜﻦ ﻟﻮ ﻓﻌﻞ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﺻﺢ ﻭﻫﻮ ﻣﺎ ﺳﻮﻯ ﺫﻟﻚ

Artinya: Ashab kami berkata: shalat sunnah terbagi kedalam dua bagian, pertama disunnahkan berjamaah dalam mengerjakannya, yaitu shalat ied, shalat kusuf (gerhana matahari), shalat istisqa (minta hujan) dan shalat tarawih menurut pendapat yang paling shahih. Kedua tidak disunnahkan berjamaah dalam mengerjakannya, namun kalaupun dikerjakan dengan berjamaah maka sah-sah saja, tidak masalah, yaitu shalat selain shalat yang sunnah dikerjakan berjamaah yang telah disebutkan di atas.

Baca Juga:  Perbedaan Hukum Makan Ikan Beserta Kotorannya Menurut Ulama Ahli Fiqih

Dengan demikian jelaslah bahwa shalat sunnah safar tidak disunnahkan berjamaah dalam mengerjakannya. Namun tidak masalah jika dilakukan dengan berjamaah pula, hanya saja tetap tidak mendapat pahala berjamaah. Berbeda halnya jika bertujuan untuk memberikan motivasi atau mengajak dan memberi pelajaran, maka akan mendapat pahala.

Kesunnahan shalat safar juga dikuatkan oleh Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu juz 4 halaman 387, yaitu sebagai berikut:

ﻳﺴﺘﺤﺐ ﺇﺫا ﺃﺭاﺩ اﻟﺨﺮﻭﺝ ﻣﻦ ﻣﻨﺰﻟﻪ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﺭﻛﻌﺘﻴﻦ

Artinya: Bagi seseorang yang hendak melakukan perjalanan disunnahkan untuk menunaikan shalat sunnah safar 2 rakaat terlebih dahulu.

Selanjutnya Imam Nawawi menjelaskan dasar kesunnahan ini adalah hadis riwayat Imam Hakim dari Anas bin Malik.

Adapun tata cara melaksanakan shalat sunnah safar sebagaimana dicaturkan oleh Imam Nawawi dalam al-Majmu’ miliknya juz 4 halaman 387 adalah sebagai berikut:

ﻳﻘﺮﺃ ﻓﻲ اﻷﻭﻟﻰ ﺑﻌﺪ اﻟﻔﺎﺗﺤﺔ (ﻗﻞ ﻳﺎ ﺃﻳﻬﺎ اﻟﻜﺎﻓﺮﻭﻥ) ﻭﻓﻲ اﻟﺜﺎﻧﻴﺔ (ﻗﻞ ﻫﻮ اﻟﻠﻪ ﺃﺣﺪ)

Artinya: Rakaat pertama setelah Fatihah yaitu membaca surah al-Kafirun (Qul yaa ayyuhal kaafiruun), sedangkan para rakaat kedua setelah Fatihah yaitu membaca surah al-Ikhlas (Qul Huwa Allaahu ahad).

Baca Juga:  Apakah Yang Dimaksud Mahram Radha'ah? Ini Penjelasannya

Selanjutnya, Imam Nawawi mengungkapkan bahwa setelah salam, mushalli disunnahkan untuk tidak langsung menuntaskan aktivitas shalatnya melainkan membaca wiridnya terlebih dahulu.

ﻭﻳﺴﺘﺤﺐ ﺃﻥ ﻳﻘﺮﺃ ﺑﻌﺪ ﺳﻼﻣﻪ (ﺁﻳﺔ اﻟﻜﺮﺳﻲ ﻭﻻﻳﻼﻑ ﻗﺮﻳﺶ) ﻓﻘﺪ ﺟﺎء ﻓﻴﻬﻤﺎ ﺁﺛﺎﺭ اﻟﺴﻠﻒ ﻣﻊ ﻣﺎ ﻋﻠﻢ ﻣﻦ ﺑﺮﻛﺔ اﻟﻘﺮﺁﻥ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺷﺊ ﻭﻛﻞ ﻭﻗﺖ

Artinya: Setelah salam, mushalli disunnahkan untuk membaca ayat Kursi (surah al-Baqarah: 255) dan surah al-Quraisy (Li iilaafi quraisy). Hal ini sebagimana yang dilakukan oleh para ulama terdahulu dengan mengetahui keberkahan Alquran di setiap saat dan setiap tempat.

Setelah membaca wirid tersebut, hendaklah mushalli membaca doa untuk kebaikan dunia dan akhirat serta mendoakan umat Islam juga memohon perlindungan kepada Allah dalam melaksanakan perjalanannya.

ﺛﻢ ﻳﺪﻋﻮا ﺑﺤﻀﻮﺭ ﻗﻠﺐ ﻭﺇﺧﻼﺹ ﺑﻤﺎ ﺷﺎء ﻣﻦ ﺃﻣﻮﺭ ﺁﺧﺮﺗﻪ ﻭﺩﻧﻴﺎﻩ ﻭﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻛﺬﻟﻚ ﻭﻳﺴﺄﻝ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ اﻹﻋﺎﻧﺔ ﻭاﻟﺘﻮﻓﻴﻖ ﻓﻲ ﺳﻔﺮﻩ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻣﻦ ﺃﻣﻮﺭﻩ ﻓﺇﺫا ﻧﻬﺾ ﻣﻦ ﺟﻠﻮﺳﻪ

Artinya: Kemudian berdoa dengan menghadirkan hati (khusyu) dan rasa ikhlas dengan doa sekehendaknya, baik perkara akhirat maupun perkara dunia, termasuk doa untuk muslimin. Demikian pula berdoa untuk keselamatan dan pertolongan Allah dalam perjalanan dan lainnya setelah ia beranjak dari tempat duduknya.

Baca Juga:  Tahukah Kamu Cara Mengajukan Gugatan Cerai?

Setelah itu, akhiri rangkaian doa dengan doa ini:

اﻟﻠﻬﻢ ﺇﻟﻴﻚ ﺗﻮﺟﻬﺖ ﻭﺑﻚ اﻋﺘﺼﻤﺖ اﻟﻠﻬﻢ اﻛﻔﻨﻲ ﻣﺎ ﻫﻤﻨﻲ ﻭﻣﺎ ﻻ ﺃﻫﺘﻢ ﻟﻪ اﻟﻠﻬﻢ ﺯﻭﺩﻧﻲ اﻟﺘﻘﻮﻯ ﻭاﻏﻔﺮ ﻟﻲ ﺫﻧﺒﻲ

Artinya: Ya Allah, hanya kepada Mu aku menghada dan hanya kepada Mu aku berpegang teguh. Ya Allah, cukupilah maksudku dan cukupilah sesuatu yang aku tidak memperdulikannya. Ya Allah, bantulah aku untuk meningkatkan ketaqwaanku dan ampunilah dosaku.

Demikian, semoga bermanfaat. Wallaahu a’lam bishshawaab.

Azis Arifin
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG