Begitulah… Di Hadapan Istri, Bahkan Seorang Wali Pun Tetap Hina

Begitulah... Di Hadapan Istri, Bahkan Seorang Wali Pun Tetap Hina

Pecihitam.org– Para Wali Allah merupakan hamba-hamba pilihan yang istimewa. Derajat mereka disisi Allah adalah setelah para malaikat. Begitu agungnya derajat mereka di sisi Allah, hingga apa yang diminta oleh para wali akan dikabulkan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Tidak hanya itu, jika mereka memohon perlindungan kepada Allah pun maka Allah akan menjaga mereka. Semua ini merupakan salah satu bukti bahwa mereka sangat dimuliakan di sisi Allah.

Bahkan dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, hal yang paling tidak disukai Allah adalah mencabut nyawa para wali. Tetapi itu akan tetap dilakukan oleh Allah karena setiap makhluk pasti ada awal dan akhirnya.

وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِيْ عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ

Aku tidak pernah ragu-ragu terhadap sesuatu  yang Aku kerjakan seperti keragu-raguan-Ku tentang pencabutan nyawa orang mukmin. Ia benci kematian dan Aku tidak suka menyusahkannya.

Akan tetapi, seagung dan semulia apapun derajat seorang wali, kadang di mata manusia terlebih bagi yang tidak memahami akan kadar posisinya di sisi Allah, tak jarang para wali justru dianggap hina dan disebut sebagai orang gila.

Baca Juga:  Hukum Meminta-minta dengan Cara Memaksa dan Merendahkan Diri

Selain kisah tentang Syaik Abdurrahman Bajalhaban, seorang wali yang hampir tiap hari dimarahi oleh istrinya yang cerewet, ada kisah lain tentang seorang wali yang diperlukan oleh istrinya bahkan nyaris seperti orang yang sangat hina.

Begini kisahnya. Seorang ulama yang sekaligus bergelar wali dimuliakan dan dikeramatkan oleh banyak orang. Karena istrinya selalu meremehkannya, terpikirlah dalam benak sang wali untuk mengajak istrinya dalam salah satu pengajian akbar di mana sang wali akan menyampaikan ceramah.

Sang Wali melakukan ini bertujuan agar istrinya tahu bahwa orang-orang begitu ta’dzim dan menaruh hormat padanya.

Dalam acara itu, benar saja sang Wali betul-betul dihormati oleh orang-orang. Kehadirannya disambut dengan keramahan, tangannya dicium dan ceramahnya didengarkan dengan penuh khusyuk.

Melihat itu, apakah lantas sang istri menjadi lunak hatinya dan menyadari bahwa suaminya yang seorang wali begitu dimuliakan oleh banyak orang?

Sayangnya, ternyata tidak. Justru istrinya yang melihat kerumunan orang yang mencium tangan sang suami menjadi heran dan geleng-geleng kepala.

Baca Juga:  Mengenang Jejak Waliyullah, Ulama dan Pejabat Hadiri Haul Ke-16 Puang Ramma

“Apakah orang-orang itu pada gila sehingga suamiku yang seperti itu dicium sebegitunya tangannya”, gumamnya dalam hati.

Begitulah, semulia dan seagung apapun derajat seorang wali, kadang dihadapan istrinya sendiri seorang wali tak ubahnya seperti para suami pada umumnya. Kadang diremehkan bahkan dimarahi. Apakah ini sebagai isyarat atau pertanda bahwa hakikatnya Wali itu tidak semulia yang dimuliakan orang di sisi Allah? Jawabannya, tidak. Istri seorang wali yang kadang tidak begitu menyadari atau memahami akan agungnya posisi sang suami di hadapan Allah bisa terjadi karena banyak faktor. Salah satunya adalah karena kedekatan atau keakraban.

Keakraban tersebut pastinya membuat sang istri tahu beberapa kekurangan manusiawi yang dimiliki oleh seorang wali. Karena itulah, kadang seeorang istri menganggap biasa atau bahkan meremehkan seorang suami walaupun derajatnya merupakan seorang wali.

Faktor lainnya mungkin karena istrinya yang cerewet dan dihadapi dengan penuh kesabaran itu justru yang membuat derajatnya terangkat menjadi wali seperti yang terjadi pada Syaik Abdurrahman Bajalhaban.

Atau seperti yang pernah disampaikan oleh Gus Baha, istri seorang ulama kyai atau ulama rata-rata cerewet, karena mereka itu sudah kadung banyak pahala, ya salah satu kesempatannya mendapatkan pahala melalui sabar menghadapi istri yang cerewet.

Baca Juga:  Eksistensi Wali dalam al-Quran

Dan, ini mengandung hikmah dan pelajaran yang luar biasa bagi kita. Jika seorang wali saja, masih sering diperlakukan tidak hormat oleh istrinya, apalagi kita yang bukan siapa-siapa. Maka berdabarlah menghadapi omelan istri.

Di balik marah dan cerewetnya mereka tersimpan rasa cinta dan tulusnya perhatian sebagai penyeimbang bagi kita para suami yang mungkin lengah dan kurang disiplin dalam beberapa hal. Wallahu a’lam.

Faisol Abdurrahman