Inilah Bekal Ibu dalam Mendidik Anak yang Harus Diapahami

Bekal Ibu dalam Mendidik Anak

Pecihitam.org – Berbicara tentang bekal, itulah sesuatu yang Harus kita persiapkan. Khusus bagi para ibu, bekal apa yang sudah kita persiapkan untuk mendidik anak kita nanti? Salah satu yang harus dipersiapkan oleh seorang ibu adalah agama dan pendidikan. Inilah bekal ibu dalam mendidik anak setelah ia berkeluarga nanti, agar dapat melahirkan generasi yang Islami dan berakhlak mulia.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Mendidik anak apakah hanya dikhususkan kepada ibu saja? Tentu saja tidak. Mendidik anak juga tugas dan tanggung jawab seorang ayah. Namun dalam kesehariannya, anak lebih dekat dan lebih banyak berinteraksi dengan ibunya.

Oleh karena itu, baik buruknya anak sangat tergantung dengan pendidikan yang diberikan dan ditanamkan oleh kedua orang tuanya, terutama ibu.

Memilih ibu yang baik bagi anak merupakan tanggung jawab seorang ayah kepada anaknya. Ini berarti anak berhak untuk mendapatkan ibu yang shalehah. Kalau ini tidak terpenuhi, maka ayah telah merampas hak anaknya untuk memilih ibu yang shalehah.

Bagi kaum laki-laki yang ingin memiliki keturunan yang shaleh, maka ia berkewajiban mencari dan memilih pasangan yang terdidik dalam lingkungan yang Islami. Rasulullah saw. selalu menuntun kita dalam memilih pasangan yang tepat.

“Wanita dinikahi karena empat perkara, karena kecantikannya, nasab (keturunannya), hartanya, dan agamanya. Maka pilihlah berdasarkan agamanya, niscaya kamu akan beruntung.”

Sebelum seorang wanita mendidik, ia juga sudah harus melewati masa-masa dididik oleh kedua orang tuanya. Ini merupakan mata rantai yang sangat panjang. Karena akan menentukan bagaimana generasi yang akan lahir dari rahim seorang wanita tersebut.

Baca Juga:  Macam-Macam Talak, Yang Hendak Berumah Tangga Wajib Tahu

Ibu adalah sosok yang telah melahirkan anak-anaknya dari seorang suami yang dicintainya. Istri yang terbina pasti akan memahami posisi dirinya sebagai mitra suami dalam menjalankan tugas dakwahnya.

Istri yang shalehah akan senantiasa mendukung dan memotivasi suaminya untuk selalu istiqamah di jalan dakwah, saling membantu untuk mendidik dan membesarkan anak-anaknya.

Seorang ibu membutuhkan banyak keterampilan dalam menjalankan seluruh aktivitas kehidupannya, baik dalam lingkungan rumah tangga, maupun dalam lingkungan kehidupan sosial bermasyarakat.

Mulai dari keterampilan mengurus diri dengan manajemen waktu, keterampilan dalam kehidupan rumah tangga dengan tugas-tugas merawat dan mendidik anak, dan menjaga kerapian dan keindahan rumah.

Seorang ibu dituntut untuk dapat bekerja dengan cerdas, ikhlas dan tuntas, sehingga ia dapat mendukung tugas dakwah suami dan melaksanakan tugas mendidik anaknya.

Allah swt berfirman:

“Dan katakanlah, ‘bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah: 105)

Pemahaman nilai strategis seorang anak sebagai investasi pahala yang tak pernah putus bagi orang tuanya, akan memotivasi orang tua untuk senantiasa memperhatikan dan bersemangat dalam mendidik anak-anaknya menjadi generasi yang shaleh.

Baca Juga:  Mempersiapkan Pendidikan Terbaik untuk Anak Sesuai Perkembangan Zaman dan Islami

Berawal dari pemahaman dan kesadaran inilah seorang ibu akan berjuang sungguh-sungguh dalam mendidik anak-anaknya.

Tetapi wanita di zaman sekarang ini, lebih banyak memilih bekerja di luar rumah daripada mengurus rumah tangganya dan anak-anaknya.

Status ibu yang disandangnya hanya sebatas gelar karena telah melahirkan anak-anaknya, sementara perannya sebagai seorang ibu diserahkan kepada baby sister atau pembantu. Bahkan sering kali ada anak yang lebih dekat dengan baby sister daripada ibunya.

Seorang ibu di dalam keluarga berperan mengajarkan dan mendidik anak berkenaan dengan pembentukan karakter agar emosi dan spiritual anak berkembang optimal.

Pola asuh dan cara ibu dalam mengajarkan suatu hal akan lebih mengendap dalam pikiran dan hati anak dengan komponen kasih sayang di dalamnya. Karena hal tersebut tidak dapat diberikan utuh di sekolahnya.   

Anak yang dididik dengan melibatkan emosi (perasaan) positif akan mampu bersosialisasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya nanti. Sementara pengasuhan anak secara spiritual akan membuat anak memiliki pegangan dalam hidupnya. Karenanya, para ibu dan  calon ibu harus terdidik secara ilmu, emosi, dan spiritualnya.

Ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya. Karena kepada ibulah seorang anak banyak belajar. Begitu lahir, anak belajar menyusui dari ibu, belajar tengkurap, duduk, merangkak, berdiri, berjalan, mengucapkan kata pertama, semuanya dengan bantuan ibu. Ibulah yang paling banyak menghabiskan waktu untuk mengurus anak dan memperhatikan pertumbuhan dan perkembangannya dari hari ke hari.

Baca Juga:  Model Komunikasi Pernikahan Jarak Jauh

Kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya merupakan kodrati yang tak tergantikan. Ajaran agama juga telah banyak mengungkapkan arti penting keberadaan ibu dalam membentuk karakter anak.

Rasulullah saw. pernah bersabda:

“orang yang tidak memiliki tidak akan bisa memberi.”

Karena itu jika ingin memberikan pendidikan agama yang baik kepada anak-anak, maka kita harus memiliki dan menjalankan ajaran agama tersebut terlebih dahulu. Inilah salah satu bekal ibu dalam mendidik anak agar menjadi anak yang shaleh dan shalehah di dunia dan di akhirat.  

Kita berharap semoga kita semua terdidik dalam lingkungan yang islami sehingga kita bisa menerapkan segala kebaikan yang telah diajarkan oleh orang tua kita tersebut kepada anak cucu kita.

Demikianlah uraian singkat ini semoga bermanfaat bagi saya dan pembaca semuanya. Amin. Wallahu ‘alam.

Mehri Andani MB