Belajar dari Pengalaman Menjadi Minoritas, Saat Jadi Mayoritas Jangan Diskriminatif

Belajar dari Pengalaman Menjadi Minoritas, Saat Jadi Mayoritas Jangan Diskriminatif

Pecihitam.org – Sabtu malam lalu (1/2) sejumlah aktivis muda nahdhiyyin yang tergabung dalam Aktivis Muda Nahdhiyyin Banua (Amanna) menggelar acara Diskusi dan Refleksi 94 Tahun Nahdhatul Ulama di halaman Gedung PCNU Kabupaten Banjar di Martapura. Kegiatan yang terbuka untuk khalayak umum itu menghadirkan para alumni dan aktivis NU yang membagikan pengalaman mereka dalam berislam di Eropa, di Amerika, dan di negeri sendiri.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dalam Diskusi dan Refleksi bertajuk “NU Banua, NU Jawa, NU Eropa” itu, Azzam Anwar, mahasiswa S3 di Groningen Belanda yang juga aktivis PCNU Belanda, menceritakan betapa tidak enak jadi minoritas muslim di negeri yang sekuler. Sebagai minoritas, keleluasaan beribadah dan mengekspresikan keberagamaan tentunya menjadi sesuatu yang mahal bagi umat Islam di sana.

Untuk berwudhu saja, tutur Azzam Anwar, begitu sulit. Fasilitas umum yang tersedia memang tidak dirancang untuk ibadah, sampai-sampai ia terpaksa bersuci di westafel yang ada di kamar mandi kampus tempatnya kuliah.

Mendirikan masjid adalah persoalan lain lagi. Pendirian tempat ibadah di Belanda akan dihadapkan pada rumitnya proses mendapatkan izin dan ketatnya aturan berkegiatan keagamaan.

Hal senada diuraikan Wakil Ketua PWNU Kalimantan Selatan yang mendapatkan gelar doktornya di Amerika Serikat, Abrani Sulaiman. Meskipun perkembangan Islam di Amerika berbeda dengan Belanda, dirinya mengaku masih agak sulit mengekspresikan keislamannya di sana. Bahkan, berbicara mengenai ajaran normatif agama terbilang sesuatu yang tabu di ruang publik.

Abrani mengalami hal yang serupa seperti halnya Azzam, jadi minoritas memang tidak menyenangkan. Terlebih pasca peristiwa 9/11 citra minoritas muslim di Amerika semakin buruk dan membuat posisinya semakin tersudutkan.

Baca Juga:  Pancasila Memang Bukan Wahyu Ilahi, Namun Ia Fikrul Islami

Meski demikian, negara-negara seperti Belanda dan Amerika Serikat menghormati hak-hak privasi semua orang, termasuk umat beragama. Hak beribadah dan berkeyakinan dijaga, sehingga ekspresi keberagamaan tidak mendapat gangguan yang berarti. Namun karena keduanya negara sekuler hak-hak tersebut hanya diberikan di ruang privat.

Pengalaman sebagai minoritas muslim yang tidak menyenangkan itu, menurut Azzam dan Abrani, memberi pelajaran moral penting. Jika kita tahu bagaimana rasanya menjadi minoritas, maka saat menjadi mayoritas janganlah bersikap diskriminatif terhadap kelompok minoritas.

Di masa ketika kesadaran akan kebebasan individu dan kelompok dijunjung tinggi, sudah sepatutnya setiap orang menyadari bahwa orang lain punya hak yang sama seperti dirinya sendiri. Dalam konteks hubungan mayoritas-minoritas, penting kiranya mayoritas belajar dari pengalaman minoritas.

Prinsip ini erat kaitannya dengan konsep etika kebebasan. Berakhirnya Perang Dunia II dan pengalaman yang begitu menyakitkan selama perang memicu kesadaran akan kebebasan setiap individu.

Mengutip Jean Paul Sartre (1905-1980), filosof abad ke-20 asal Jerman, K. Bertens dalam Etika (cet. XI, 2011) manusia adalah makhluk yang “dikutuk untuk hidup bebas” atau “ditakdirkan untuk hidup bebas”. Kebebasan merupakan nasib kita yang tak terhindarkan, sehingga mau tidak mau kita hidup sebagai manusia bebas.

Namun karena manusia hidup berdampingan dengan sesamanya, kebebasannya itu dibatasi oleh kebebasan orang lain. Sartre dalam hal ini mengatakan bahwa tak ada batasan lain untuk kebebasan daripada batas-batas yang ditentukan oleh manusia itu sendiri.

Baca Juga:  Sejarah Modernisasi Agama dan Kebangkitan Politik di Dunia Islam

Saya sebagai manusia yang bebas, misalnya, bisa saja menyakiti anda, tapi anda juga manusia yang bebas dan memiliki hak untuk hidup secara sehat dan tenang. Maka, kebebasan saya dibatasi oleh kebebasan dan hak anda. Konsekuensinya adalah menyakiti orang lain itu buruk dari sudut pandang etika.

Prinsip senada juga didengungkan oleh Ibnu Rusyd, filosof muslim yang masyhur itu, jauh-jauh hari. Majid Fakhry dalam Averroes: His Life, Works and Influence (2001) mendedah Ibnu Rusyd berargumen bahwa untuk mencapai kebaikan manusia dapat bertindak secara bebas dalam kapasitasnya sebagai zoon politikon (hewan politis) sebagaimana diungkapkan Aristoteles.

Manusia disebut sebagai hewan yang politis berarti kebutuhan-kebutuhan sehari-harinya memerlukan pertolongan dari sesama manusia. Dalam upaya memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu manusia harus bernegosiasi dengan sesamanya dalam hal sejauh mana kebebasan dirinya dapat diterapkan ketika dihadapkan dengan kebebasan orang lain.

Bagi Ibnu Rusyd, kebaikan sempurna tidak terbatas pada diri sendiri, tetapi menjangkau hubungan kita dengan lingkungan-lingkungan kita dalam interaksi sosial.

Ibnu Rusyd bahkan dengan tegas mengatakan bahwa kesempurnaan manusia yang seharusnya ditinjau dari kebaikan dalam dirinya sendiri, sebagaimana dalam hubungannya dengan orang lain. Jadi, kebebasan bukan berarti tidak terbatas sama sekali.

Lalu bagaimana mengukur batasan-batasan kebebasan kita? Dalam interaksi sosial batas-batas kebebasan itu dapat diketahui lewat pengalaman. Saya mengetahui bahwa disakiti itu tidak menyenangkan. Dengan disakiti maka hak saya dan kebebasan saya untuk hidup nyaman telah direnggut. Karena itulah, saya tidak mau disakiti, begitu pula orang lain.

Baca Juga:  Memperingati Hari Toleransi Internasional 2019

Bagi para aktivis muda NU yang berkuliah di negeri-negeri yang mayoritas penduduknya sekuler itu, pengalaman tidak menyenangkan sebagai minoritas menjadi pelajaran berharga tatkala keduanya menjadi bagian dari kelompok mayoritas di negeri sendiri. Pengalaman itu membantu membentuk kepekaan sosial di tengah dunia yang menjunjung hak dan kebebasan setiap orang.

Tidak semua kita mengalami hal yang sama seperti dialami para aktivis itu. Cukuplah bagi kita untuk melatih kepekaan sosial kita dengan menganalogikan hubungan mayoritas-minoritas dengan kehidupan kita sehari-hari.

Jika kita tidak suka dihina, maka janganlah kita menghina orang lain. Jika kita tak ingin didiskriminasi, maka tak pantaslah kita mendiskriminasi orang atau kelompok lain. Dalam konteks hubungan mayoritas-minoritas, perlu kiranya mayoritas belajar dari pengalaman minoritas.

Arkian, prinsip etika itu sederhana: Janganlah melakukan sesuatu yang kita tidak suka jika orang lain melakukannya kepada kita. Di tengah maraknya tindak intoleransi yang dilakukan kelompok mayoritas (pada ruang lingkup tertentu) terhadap kelompok minoritas selama ini dan membesar dalam beberapa waktu terakhir ini, prinsip etika tersebut layak menjadi bahan renungan kita.

Akar pemicu tindakan intoleransi memang tidaklah sederhana. Tapi bukankah ber-tafakkur lebih besar nilainya daripada beribadah seribu tahun?!

Yunizar Ramadhani