Berimanlah Tanpa Perlu Menghina Iman Orang Lain

Berimanlah Tanpa Perlu Menghina Iman Orang Lain

Pecihitam.org – Bagaimana pandangan islam terhadap kebebasan beragama? Kebebasan beragama adalah hak setiap orang untuk menentukan keyakinan mereka dan beribadah menurut yang ia pahami dan ia yakini.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

QS al-Kafirun:6 dengan jelas memberi kebebasan terhadap semua orang untuk memilih agamanya tanpa ada paksaan sedikitpun bahkan tidak beragama sekalipun Tuhan tidak marah selama itu didasarkan pada argumentasi yang logis, toch pada akhirnya mereka akan bertanggung jawab terhadap diri mereka masing-masing dihadapan Tuhan yang Maha Adil.

Tugas kita sebagai manusia adalah menyampaikan apa dipahami kepada sesama manusia, soal ia terima atau tidak itu persoalan kedua, sebab yang dituntut diri manusia adalah saling mengingatkan bukan saling menjelek-jelekkan apalagi saling menghina karena perbedaan pemahaman atau perbedaan agama.

Islam itu Indah kawan lebih indah daripada yang kita pahami. Selain alquran memberi kebebasan dalam menentukan pilihan keyakinan atau keyakinan dalam beragama, islam pun tidak serta merta memaksakan orang lain untuk memilih agama islam, sebagaimana dalam QS. Al-Baqarah:256. Apa sebabnya islam tidak membolehkan paksaan terhadap keyakinan orang lain?

Pada hakikatnya bila manusia menggunakan potensi akalnya untuk melakukan kajian terhadap agama-agama yang ada, maka ia akan menemukan cahaya kebenaran Islam. Bukankah begitu banyak bukti para ahli melakukan penelitian terhadap agama islam justru menyatakan dan mengakui kebenaran islam?

Baca Juga:  Ta'rif Iman Menurut Syeikh Nawawi Al Bantani

Lebih tegas lagi Allah swt berfirman dalam QS. al-An’am: 108: “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah, kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali. Lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.”

Hinaan, makian, dendam ataupun kebencian yang dilemparkan terhadap keyakinan agama lain pada hakikatnya akan dibalas bahkan mungkin lebih parah daripada yang kita lakukan.

Namun bagi orang-orang yang memahami agamanya dengan baik, ia akan selalu berpegang bahwa Logika agama adalah logika damai bukan dendam, logika agama adalah kasih bukan laknat. Menunjukkan keimanan bukan dengan menghina agama lain, menunjukkan kesalehan tidak dengan menghina amalan orang lain, membuktikan kebenaran agama islam bukan dengan merendahkan agama orang lain.

Seharunya dan semestinya semakin orang beriman maka ia akan semakin memberi kedamaian kepada orang lain, semakin saleh ia maka semakin bermanfaat ia pada sesamanya, semakin ia beragama semakin ia menghormati keyakinan agama lain.

Baca Juga:  Hakikat Ilmu dan Agama dalam Wadah Bernegara

Kasus viralnya seorang Ustadz saat menghina dan mengejek keyakinan orang lain dengan mengatakan ada jin kafir, apakah memang ia dapat melihat bahwa di patung Yesus itu memang ada Jin kafir, apakah karena ia seorang Ustadz seenak perutnya mengomentari dan mengejek simbol keyakinan agama lain? Apakah ustadz ini tidak membaca QS al-Kafirun: 6; QS Al-Baqarah: 256 serta QS al-An’am:108 serta ayat-ayat lainnya?

Rasanya tidak mungkin beliau tidak membaca dan memahami ayat-ayat tersebut bila melihat latar belakang pendidikannya, Strata Satunya didapatkan di Mesir, Strata Duanya didapatkan di Maroko. Memang sangat mustahil bila beliau tidak membaca dan memahami ayat tersebut.

Kalau ia membaca dan memahami ayat itu, lalu apa yang terjadi pada diri beliau sehingga ia menghina dan mengejek simbol keyakinan orang lain?

Paling tidak ada dua kemungkinan yang terjadi pada diri beliau:

  • Pertama, Ia bisa jadi lupa diri, ia bukanlah seorang manusia yang maksum. Karena beliau lupa (anggaplah demikian) maka kewajiban kita untuk mengingatkannya, bahwa ia tidak mengenal konsep demikian
  • Kedua, beliau masih perlu belajar banyak pada ulama sekelas Habib Qurais Shihab, Habib Luthfi yang ilmunya dan kealimannya diakui oleh ulama-ulama dunia.
Baca Juga:  77 Cabang Iman yang Terdapat Dalam Kitab Qomi'ut Thughyan

Figur Ustadz ini sejujurnya sejak awal munculnya di medan Dakwah, saya secara pribadi menaruh harapan besar padanya apalagi dengan penguasaan ilmu yang lebih dari cukup, namun harapan itu hilang saat ia melakukan beberapa offside dan anehnya sang ustadz dengan begitu bangganya merasa tidak bersalah sehingga permintaan maaf sampai saat ini belum juga ia lakukan.

Terakhir, saya cuma ingin berpesan bahwa, jika kita tidak bersaudara dengan agama lain dalam keimanan maka ketahuilah kita bersaudara dengan agama lain dalam kemanusiaan. Jika tidak bisa menghormati agama orang lain, maka hormatilah mereka sebagai manusia.

Muhammad Tahir A.

Leave a Reply

Your email address will not be published.