Biografi Hasan al-Basri, Ulama Hadits pada Masa Tabi’in

Hasan al Basri

Pecihitam.org – Beliau adalah al-Hasan Abu Sa’id putra dari Yassar atau lebih deikenal dengan nama Hasan al Basri. Yassar (ayah Hasan al-Basri) merupakan budak (hasil rampasan perang) dari daerah Maisan (daerah antara kota Bashrah dan Wasith) yang terdampar di Madinah, kemudian dibeli oleh ar-Rubayyi’ binti an-Nadhar bibi dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, lalu dimerdekakan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Adapun kata al-Basri yang disandangnya adalah penisbatan kepada kota dimana ia tinggal dan menghabiskan umurnya. Nama ibunya adalah Khairah, beliau merupakan maulah (budak) dari Ummu Salamah (isteri Rasulullah).

Kelahiran dan Masa Pertumbuhannya

Beliau lahir dari pernikahan Yassar dan Khairah, yang bertepatan dengan 2 tahun terakhir dari masa kekhalifahan Umar bin al-Khathab, yang mana bayi mungil itu akan  menjadi ulama besar pada zamannya.

Bayi tersebut diberkahi oleh Allah, disebabkan do’a sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu  do’a khalifah Umar bin al-Khathab. dalam do’anya beliau berkata,

“Ya Allah jadikan anak ini sebagai orang yang faqih dalam perkara agama, dan jadikan ia sebagai orang yang disayangi banyak orang.”

Ditambah regukkan susu dan asuhan isteri baginda Nabi yang mulia Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, karena memang ibu Hasan al-Basri adalah pembantu isteri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang bertugas menyusukan anaknya.

Baca Juga:  Biografi Singkat Imam Ibnu Majah Pengarang Kitab Sunan Ibnu Majah

Sehingga, ketika Ummu  Salamah memberinya tugas untuk suatu keperluan diluar rumah, maka beliaulah yang mengasuh Hasan al-Basri, lalu saat ia menangis karena ditinggal ibunya, maka Ummu  Salamah menyusukannya sambil membawanya berkeliling-keliling untuk meredahkan tangisannya.

Hasan al-Basri rahimahullah tumbuh di tengah-tengah lautan orang-orang yang berilmu, sebab Allah masih memberinya kesempatan untuk bertemu dengan para sahabat nabi, generasi yang langsung berhadapan dengan cahaya wahyu, serta luhurnya akhlak dan kepribadian Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam.

Beliau turut menyaksikan peristiwa besar yang terjadi dikalangan sahabat, turut serta  dalam melaksanakan shalat jum’at bersama Utsman, dan mendengar langsung Utsman berkhutbah; juga turut menyaksikan peristiwa fitnah yang dahsyat kala itu, yaitu pengepungan yang terjadi di rumah khalifah Utsman bin Affan, yang dikenal dengan Yaum ad-Dar, tatkala itu beliau berusia empat belas tahun.

Para Guru dan Murid-Muridnya

Al-Hasan al-Basri belajar al-Quran dari Hitthan bin  Abdullah ar-Raqasy dan para tabi’in lainnya. Sedangkan dalam bidang hadits, beliau banyak meriwayatkan dari sahabat-sahabat nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti Anas bin Malik, Amr bin Taghlib, Abdurrahman bin Samurahdan dari Ahmar (bin Juz’ as-Sadusi), dan Abdullah bin Mughaffal.

Baca Juga:  Abu Nawas dan Gembok Makamnya yang Sebesar Ember

Karena beliau merupakan seorang yang sangat alim pada zamannya, maka tidak sedikit dari murid-muridnya dan para ulama yang sejaman dengannya meriwayatkan hadits dari jalurnya.

Diantara muridnya yang  masyhur adalah: Humaid at-Thawil, Abdullah bin ‘Aun, Hisyam bin Hassan, Syaiban bin Abdurrahman an-Nahwi, Yunus bin Ubaid, Tsabit al-Bunani, Malik bin Dinar, Abu Huraiz Abdullah bin al-Husain Qadhi Sijistan, Ayub (As-Sikhtiyani), dan lainnya. Sehingga beliau termasuk ahli hadits pada masanya.

Sifat dan Keutamaan Hasan al-Basri

Beliau adalah salah satu Ulama pada masa Tabi’in, Beliau bukan hanya seorang ulama, guru, dan mufti penduduk Bashrah saja, akan tetapi beliau juga seorang mujahid yang dikenal pemberani pada zamannya.

Beliau juga sosok yang tawadhu, berwibawa, dan sempurna fisiknya, sehingga dikenal sebagai orang yang sangat mirip pendapatnya dengan Umar bin al-Khathab radhiyallahu ‘anhu.

Sampai-sampai sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mensifatinya sebagai orang yang sangat kuat hafalannya. Dan berkata, “Belum pernah aku melihat orang yang paling faqih daripada al-Hasan.”

Sekalipun ia bukan seorang sahabat tetapi dengan ketinggian ilmunya menjadikannya sebagai tempat rujukan dalam suatu permasalahan. Sehingga salah seorang dari muridnya, yaitu  Auf berkata, “Aku tidak pernah bertemu seorangpun yang lebih mengetahui jalan menuju syurga dari pada Hasan al-Basri.”

Wafatnya Hasan al-Basri                                                      

Beliau wafat pada hari kamis ba’da ashar, yang bertepatan dengan bulan rajab tahun ke-110 H. Kota Bashrah dan seluruh umat Islam pada saat itu berduka cita atas perginya seorang ulama besar, seorang ulama yang menjadi tempat mengadu segala permasalahan agama kala itu.

Baca Juga:  Abdullah bin Umar, Putra Khalifah Umar Yang Menjadi Perawi Hadits

Beliau pergi dengan meninggalkan goresan tinta emas sejarah ilmu agama. Saat itu beliau berusia 88 tahun. Semoga Allah memberi rahmat kepadanya serta membalas segala kebaikannya dengan balasan yang berlimpah.

Dari uraian tentang biografi Hasan al-Basri diatas, semoga kita dapat menjadikan beliau sebagai suri tauladan dalam kesungguhannya memperdalam beberapa ilmu, serta menjadi peribadi yang tawadhu’ dalam menuntut ilmu. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam.

Refrensi: Siyar A’lam an-Nubala, karya Imam ad-Dzahabi.

Nur Faricha

Leave a Reply

Your email address will not be published.