Biografi Imam An Nasai Pengarang Kitab Sunan An Nasai

biohrafi imam an nasai

Pecihitam.org – Imam an-Nasai nama lengkapnya beliau adalah Ahmad bin Syu’aib bin Ali bin Sinan bin Bahr bin Dinar, dan diberi gelar dengan Abu Abd ar-Rahman an-Nasai. Beliau lahir pada tahun 215 H di kota Nasa’ yang masih termasuk wilayah Khurasan. Kepada tempat kelahiran beliau inilah namanya dinisbatkan. Di kota Nasa’ ini beliau tumbuh melalui masa kanak-kanaknya, dan memulai aktifitas pendidikannya dengan menghafal al-Quran dan menerima berbagai disiplin keilmuan dari guru-gurunya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Tatkala beliau menginjak usia remaja timbulah keinginan dalam dirinya untuk mencari hadits Nabi. Maka ketika usianya menginjak 15 tahun, mulailah beliau mengadakan perjalanan ke hijaz, Irak, Syam, dan daerah-daerah lainnya yang masih berada di Jazirah Arab untuk mendengarkan dan mempelajari Hadits Nabi dari para ulama yang di kunjunginya. Dengan usaha yang sungguh-sungguh itu, tidaklah heran jika beliau sangat piawai dan unggul dalam disiplin ilmu hadits, serta sangat menguasai dan ahli dalam ilmu tersebut.

Perjalanan Study Imam an Nasai

Perjalanan study yang panjang sejak usia Imam Al-Nasa’i baru menginjak 15 tahun dan mencakup wilayah Hijaz, Iraq, Siria, dan Mesir dan Al-Jazair menghasilkan ilmu yang matang. An Nasai berguru pada Qutaibah bin Sa’id (guru besar hadits Imam Abu Dawud dan Imam at-Tirmidzi) saat berusia 15 tahun itu selama lebih dari 2 tahun. Berguru pada Ishaq bin Rahawaih (guru besar hadits Imam Bukhari dan Imam Muslim). Berguru juga pada Humaid bin Mas’adah, Haris bin Miskin (pejabat qadi Mesir bermadzhab Maliki , Ali bin Kasiram, Imam al-Darimi, Imam Abu Dawud dan Imam at-Tirmdizi.

Spesialisasi keilmuan Imam an-Nasai tampak pada fiqhu al hadits, ilmu rijalul-hadits ‘illat hadis dan jarah wa al-ta’dil. Untuk spesialsasi jarah dan ta’dil itu menjadi semacam referensi bagi ulama muhadditsin sesudah generasi Imam al-Nasai.

Ibnu al-Asir al-Jazari dalam kitabnya Jami’ al-Ushul melihat pandangan fiqih Imam An Nasai cenderung pada aliran syafi’iyyah. Berlatar belakang keahlian hadits (riwayah yang didukung oleh perangkat kritik hadis itu maka al-zahabi memberi gelar kebesaran Abu Abd. Rahman al-Nasai dengan “al-Imam”, “al-Hafidz” dan “Syaikhul Islam”.

Baca Juga:  AGH. Muhammad Nur, Ulama Ahli Hadits NU dari Tanah Bugis

Imam an-Nasa’i telah berhasil membina kader ulama generasi berikutnya, antara lain : Abu Basyar al-Daulabi (perawi utama Sunan al-Nasa’i), Abu Ja’far al-Thahawi (pengulas kitab-kitab hadis), Abu al-Qasim al-Tabrani (kolektor hadis dengan judul al-Mu’jam), Imam Abu ‘Awanah (kolektor Shahih Abu ‘Awanah), Husein bin al-Hadir al-Sayuthi, Abu Bakar al-Suni (perawi Sunan al-Sittah), Muhamad bin Mu’awiyah al-Andalusi, dan lain-lain. Keseluruhan kader ulama hadis tersebut berguru kepada Imam an-Nasa’i ketika beliau menetap di Mesir.

Sampai memasuki tahun 302 H Imam an-Nasai tetap tinggal di Mesir, selaku ulama hadits (fiqh). Dan kecenderungan ijtihad yang dilakukan tampak memihak kepada paham Imam As-Syafii.

Pengakuan Ulama Hadits atas Kapasitas Keilmuannya

Keutamaan, keahlian dan kepemimpinannya Imam an Nasai dalam bidang ilmu hadits diakui oleh murid-muridnya dan ulama-ulama lain yang datang sesudahnya. Diantaranya sebagai berikut:

  1. Abu Ali al-Nisaburi al-Hafiz suatu saat ia berkata: an-Nasai adalah seorang Imam yang tidak diragukan lagi keahliannya dalam bidang ilmu hadits.
  2. Al-Dar al-Qutni mengatakan bahwa Imam an-Nasai adalah orang yang didahulukan selangkah dalam bidang ilmu hadits pada masanya ketika orang membicarakan keilmuan hadits.
  3. Hamzah al-Sahmi yang bertanya pada al-Qutni tentang siapa yang harus didahulukan antara Abdurrahman an-Nasai dan Ibnu Huzaimah ketika keduanya sama-sama membacakan sebuah hadits?” Lalu al-Dar al-Qutni menjawab : “Tidak ada orang yang menyamai dan didahulukan dari pada Abu Abdurrahman (an-Nasai) dalam bidang ilmu hadits, tidak ada orang yang wara’ seperti dia, dia adalah syekh di Mesir yang paling pintar pada masanya dan yang paling mengetahui dan mengerti tentang ilmu hadits”.
    3.Ibnu kasir: an-Nasai adalah seorang Imam pada masanya dan orang yang paling utama dalam bidangnya.

Kitab-Kitab Karyanya

Imam al-Nasai dikenal sebagai ulama hadits yang sangat teliti terhadap hadits dan para rawi. Ini terbukti dalam menetapkan kriteria sebuah hadits yang dapat diterima atau ditolak sangat tinggi,begitu juga halnya dengan penetapan kriteria seorang rawi mengenai siqoh atau tidaknya. Dalam hal ini, al-Hafiz Abu Ali memberikan komentar bahwa persyaratan yang dibuat oleh imam an Nasai bagi para perawi hadis jauh lebih ketat jika dibandingkan dengan persyaratan yang dibuat oleh imam Muslim. Al-Hakim dan al-Khatib memberi komentar yang kurang lebih sama dengan al-Hafiz Abu Ali. Sehingga ulama Magrib lebih mengutamakan sunan an-Nasai daripada Sahih al-Bukhari.

Baca Juga:  Kitab Sunan An Nasai Karya Imam An Nasai

Begitu selektifnya Imam an-Nasai berhasil menyusun beberapa kitab, diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Al-Sunan al-Kubra
  2. Al-Sunan al-Sugra, yang dinamakan juga dengan kitab al-Mujtaba yang merupakan ringkasan dari kitab sunan al-kubra.
  3. Musnad Malik.
  4. Manâsik al-Hajj
  5. Kitâb al-Jum’ah
  6. Igrab Syu’bah ‘Ali Sufyan ‘Ali Syu’bah
  7. Khasâis ‘Ali bin Abi Talib Karam Allah Wajhah,
  8. ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah

Imam Nasai mengarang kurang lebih 15 buku bidang ilmu hadits, dan yang paling masyhur diantaranya adalah kitab al-Sunan, yang akhirnya terkenal di masyarakat dengan sebutan Sunan an-Nasai. Dan kitab-kitab yang tersebar luas di tengah-tengah masyarakat hanya 5 buah kitab, yaitu:

  1. Sunan al-Kubra, kitab hadits yang pertama Imam al-Nasa’i, di dalamnya masih tercampur antara hadits shahih (termasuk shahih menurut kriteria penilikan al-Nasa’i) dan hadits-hadits ber ‘illat (ma’lul) sejauh diketahui unsur ‘illatnya.
  2. Sunan al-Sughra, disebut juga al-Muntakhab, al-Mujtana min al-Sunan, populer kemudian dengan nama “al-Mujtaba” yang oleh kalangan muhaddisin dikenal dengan Sunan al-Nasa’i ;
  3. Al-Khasais disusun ketika beliau menetap sementara di Damaskus, berisi rangkuman reputasi keilmuan, kepribadian, pemerintahan dan prestasi kemiliteran Ali bin Abi Thalib beserta para ahlul bait Rasulullah SAW.
  4. Fadha-il al-Sahabat ;
  5. Al-Manasik (artikel bermateri fiqh yang mendasarkan orientasinya kepada sunnah/hadis dan cenderung memasyarakatkan hukum amaliah persi syar’iyyah).

Akhir Hayat Imam an Nasai

Pada usia senja 88 tahun atau tepatnya memasuki tahun 303 H. Imam an-Nasai berada di Syiria, sebuah wilayah yang mayoritas penduduknya fanatik mendukung dinasti Umaiyah (raja-raja keturunan Mu’awiyah bin Abi Sufyan). Dikarenakan buku karangan beliau yang berjudul al-Khasais tentang rangkuman reputasi kepribadian, keilmuan dan prestasi kepahlawanan militer Ali bin Abi Thalib serta ahlul-bait (keluarga besar Nabi Muhammad SAW) beliau dituduh sebagai agen politik syi’ah. Lebih-lebih ketika diminta sikap keterbukaannya mengenai penilaian prestasi dan reputasi mu’awiyah bin Abi Sufyan, justru beliau bersikap sinis. Dengan tuduhan dan peristiwa itu masyarakat Syiria menekan bahkan sampai melakukan penganiayaan fisik seperti yang berlangsung di halaman Masjid Jami’ ibu kota Syiria.

Baca Juga:  AGH Sanusi Baco; Kyai Kharismatik NU yang Mewakafkan Hidupnya untuk Umat

Dalam kondisi kritis Imam an-Nasai diboyong ke kota Ramlah (Palestina) dan akhirnya meninggal hari Senin, 13 Syafar 303 H. dan tempat pemakamannya di Bait al-Maqdis. Demikian persi al-Thahawi dan al-Zahabi. Versi lain seperti ditulis oleh Abu Abdillah Ibnu Mandah, sejarawan al-Khilikan dan Jalaluddin al-Sayuthi menunjuk permintaan Imam an-Nasai agar dirinya yang dalam kondisi kritis itu di boyong ke Makkah dan di sanalah beliau meninggal dunia pada hari/tanggal/tahun seperti di atas dan dikebumikan antara Safa dan Marwah.

Sebenarnya, naluri kultus Imam an-Nasai kebetulan saja karena sesuai dengan kebutuhan yang tertuju kepada karangan Imam al-Nasai berjudul “al-Khasais” yaitu kitab tentang rangkuman pribadi Ali bin Abi Thalib beserta ahlul-bait Nabi, bukan tertuju kepada aliran Syi’ah. Kitab itu ditulis dalam rangka menetralisir persepsi buruk masyarakat muslim di wilayah Damaskus yang membenci dan mencaci Ali.

Dengan informasi data pribadi Ali bin Abi Thalib beserta pribadi menonjol di lingkungan ahlul-bait Nabi, diharapkan sifat positif masyarakat Damaskus dalam menilai para leluhur umat Islam secara hati-hati. Simpati pribadi Imam al-Nasa’i sebenarnya berlaku sama pada sahabat Nabi Muhammad SAW, terbukti karangan beliau yang lain berjudul “Fadha-il al-Sahabah” menjadi semacam perluasan dari karangan terdahulu berjudul al-Khasais itu. Dengan demikian beliau menjadi korban kebrutalan massa pendukung Dinasti Umayah.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published.