Biografi KH Hasyim Muzadi, Ulama yang Nasionalis dan Pluralis

kh hasyim muzadi

Pecihitam.org – Di Indonesia, KH Hasyim Muzadi dikenal sebagai seorang ulama dan tokoh yang selalu menjunjung nasionalisme dan pluralise sama seperti Gus Dur pendahulunya. Perjuangan KH. Hasyim Muzadi untuk Indonesia dan Nahdhatul Ulama tentu kita semua sudah mengetahuinya, terutama dalam menjaga dan merawat NKRI. Kelebihan beliau adalah selalu punya cara pandang yang menenangkan dalam menghadapi persoalan bangsa.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dalam perjalanan karirnya, KH. Hasyim Muzadi tidak bisa dilepaskan dari Nahdlatul Ulama. Beliau semenjak masih muda sudah berkecimpung di ke NU-an, dan ini kelihatannya sudah mendarah daging. Keilmuan beliau mengenai Islam tentu kita sepakat bahwa beliau adalah Ulama besar yang sangat mumpuni di berbagai bidang ilmu agama.

Sepak terjangnya diakui oleh dunia internasional dan beliau juga pernah menjabat Ketua Umum PBNU yang notabene adalah organisasi Islam terbesar bukan saja di Indonesia, namun juga di dunia. Pemikiran-pemikiran KH. Hasyim Muzadi begitu brilian dan sangat relevan dengan perkembangan Islam kekinian. Selalu banyak yang menantikan ulasan dan pendapat beliau terkait masalah yang sedang dihadapi oleh masyarakat maupun negara, terutama mengenai radikalisme.

Berikut Biodata Lengkap KH. Hasyim Muzadi

Nama lengkapnya KH Achmad Hasyim Muzadi (KH Hasyim Muzadi), beliau lahir 8 Agustus 1944 di kota Bangilan, Tuban. Beliau pernah menjabat ketua Umum PB Nahdlatul Ulama (1999-2004 dan 2004-2009). Istri beliau Hj. Mutammimah dan dikaruniai enam orang anak (3 putra dan 3 putri). Nama ayah beliau H. Muzadi dan Ibunya Hj. Rumyati. Sebagai seorang ulama yang juga banyak berkiprah di kancah nasional maupun internasional Kh Hasyim Muzadi punya kemampuan tiga bahasa yaitu: bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris.

Riwayat Pendidikan KH. Hasyim Muzadi

  • Madrasah lbtidaiyah Tuban-Jawa Timur 1950-1953
  • SD Tuban-Jawa Timur 1954-1955
  • SMPN I Tuban-Jawa Timur 1955-1956
  • KMI Gontor, Ponorogo-Jawa Timur 1956-1962
  • PP Senori, Tuban-Jawa Timur 1963
  • PP Lasem-Jawa Tengah 1963
  • IAIN Malang-Jawa Timur 1964-1969
  • Bahasa 1972-1982

Perjalanan Karir KH. Hasyim Muzadi

  • Pesantren Al-Hikam di Kodya Malang
  • Anggota DPRD Kotamadya Malang dari PPP
  • Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN), Malang
  • Anggota DPRD Tingkat I Jawa Timur 1986-1987
  • Karir Organisasi KH. Hasyim Muzadi
  • Ketua Ranting NU Bululawang-Malang, 1964
  • Ketua Anak Cabang GP Ansor Bululawang-Malang 1965
  • Ketua Cabang PMII Malang 1966
  • Ketua KAMMI Malang 1966
  • Ketua Cabang GP Ansor Malang 1967-1971
  • Wakil Ketua PCNU Malang 1971-1973
  • Ketua DPC PPP Malang 1973-1977
  • Ketua PCNU Malang 1973-1977
  • Ketua PW GP Ansor Jawa Timur 1983-1987
  • Ketua PP GP Ansor 1987-1991
  • Sekretaris PWNU Jawa Timur 1987-1988
  • Wakil Ketua PWNU Jawa Timur 1988-1992
  • Ketua PWNU Jawa Timur 1992-1999
  • Ketua Umum PBNU 1999-2004
  • Ketua Umum PBNU 2004-2009
  • Anggota DPRD Tingkat II Malang-Jawa Timur
  • Anggota Dewan Pertimbangan Presiden
Baca Juga:  Syekh Datuk Kahfi, Ulama Asal Malaka Penyebar Islam di Cirebon

Karya Tulis KH. Hasyim Muzadi Berupa Buku

  • Membangun NU Pasca Gus Dur, Grasindo, Jakarta, 1999.
  • NU di Tengah Agenda Persoalan Bangsa, Logo, Jakarta, 1999.
  • Menyembuhkan Luka NU, Jakarta, Logos, 2002.

Kehidupan Beliau

Kyai Hasyim, begitu beliau akrab disapa, menempuh jalur pendidikan dasarnya di Madrasah Ibtidaiyah di Tuban pada tahun 1950, dan menuntaskan pendidikannya tingginya di Institut Agama Islam Negeri IAIN Malang, Jawa Timur pada tahun 1969. Pria yang lahir di Tuban pada tahun 1944 ini, nampaknya memang terlahir untuk mengabdi di Jawa Timur. Berbagai aktivitas organisasi beliau lakukan juga di daerah basis NU terbesar ini.

Organisasi kepemudaan semacam Gerakan Pemuda Ansor (GP-Ansor) dan organisasi kemahasiwaan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pernah beliau pimpin. Hal inilah yang menjadi struktural menjadi modal kuat Kyai Hasyim untuk terus berkiprah di NU.

Beliau mulai banyak dikenal ketika pada tahun 1992 terpilih menjadi Ketua Pengurus Wilayah NU (PWNU) Jawa Timur yang terbukti kemudian itu menjadi batu loncatan bagi Kh Hasyim Muzadi menjadi Ketua PBNU pada tahun 1999.

Sudah bukan rahasia lagi, sebagai organisasi agama yang punya massa besar, NU selalu punya daya tarik tersendiri bagi partai politik untuk mendapatkan basis dukungan. Kyai Hasyim pun tak mengelak dari kenyataan tersebut. Tercatat, suami dari Hj. Muthomimah ini pernah menjabat sebagai anggota DPRD Tingkat I Jawa Timur tahun 1986, yang saat itu masih bernaung di bawah Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Namun, jabatan sebagai Ketua Umum PBNU lah yang membuat Kyai Hasyim mendadak menjadi pembicaraan publik dan laris diundang ke berbagai wilayah. Dapat dikatakan, aktifitas alumni Pesantren Gontor Ponorogo ini tidak hanya Jawa Timur saja, namun telah menasional. Basis struktural yang kuat itu, masih pula ditopang oleh modal kultural yang sangat besar, karena beliau memiliki pesantren Al-Hikam, Malang, yang menampung ribuan santri.

Kh Hasyim Muzadi dikenal sebagai sosok yang memposisikan dirinya sebagai seorang pemimpin Indonesia. Sebagai ulama yang dikenal “nasionalis dan pluralis”, itu mengapa, saat terjadi tragedi Black September, yaitu peristiwa runtuhnya gedung WTC di Amerika Serikat akibat serangan bom, yang menempatkan umat Islam sebagai pelaku teroris, kyai Hasyim Muzadi tampil dengan memberikan penjelasan kepada dunia internasional, bahwa umat muslim Indonesia adalah umat muslim yang moderat, kultural, dan tidak ada korelasi jaringan dengan organisasi kekerasan internasional. Beliau adalah sekian dari tokoh umat di Indonesia yang dijadikan referensi oleh dunia barat dalam menjelaskan karakteristik umat Islam di Indonesia.

NU Menurut Beliau: Nu Bukan Untuk Kekuasaan

Sebagai ormas terbesar dengan anggota mencapai 35 juta orang waktu itu, warga NU tidak boleh dijadikan taruhan untuk kepentingan yang sesaat. Kebesaran nama baik NU, bagi Kh Hasyim Muzadi, tidak boleh dipertaruhkan demi kepentingan kekuasaan. Beliau juga ingin menjaga agar Umat Islam, terutama kaum nahdliyin, tidak terkotak-kotak dalam politik aliran. Tetapi, jika ada warga NU yang ingin maju dan aktif di politik, sama sekali tidak dihalangi. Asalkan, tidak membawa bendera NU secara kelembagaan dalam kiprah politiknya.

Baca Juga:  Biografi Gus Baha', Mufassir dan Faqihul Qur'an Indonesia

Namun menurutnya, sepanjang mereka membawa visi nasional Indonesia secara utuh, akan disambut baik. NU akan merespons siapa saja saat yang dibicarakan itu masalah nasional dan utuh. Kala menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Muzadi dalam menjalankan organisasinya memiliki prinsip bahwa NU tidak akan berpolitik praktis dengan mengubah diri menjadi partai politik (parpol) pada Pemilu 2004. Menurut beliau, pengalaman selama 21 tahun sebagai partai politik cukup menyulitkan posisi NU.

Pengalaman berat selama lebih dari 20 tahun menjadi partai politik periode 1952 sampai 1973, kata Kyai Hasyim Muzadi menjadi pertimbangan signifikan dari pengurus besar untuk mengubah bentuk haluan organisasi tersebut. Saat menjelang Pemilu 2004, NU didorong oleh berbagai pihak untuk menjadi partai politik. Desakan untuk jadi parpol juga datang dari kalangan internal NU, namun sikap NU tetap tidak goyah.

Politik merupakan salah satu kiprah dari sekian banyak sayap NU. Di mata KH Hasyim Muzadi, partai politik erat kaitannya dengan kekuasaan dan kepentingan, sementara sifat kekuasaan itu sesaat. Di lain sisi NU dituntut menjaga kelanggengan dan kiprah sosialnya di masyarakat. Itulah mengapa, NU akan menolak setiap upaya perubahan menjadi partai politik.

Mengenai pemimpin bangsa, menurut Kh Hasyim Muzadi, NU itu tidak berpikir bagaimana mengajukan calon dari NU, Namun yang dipikirkan, adakah calon dari mana saja yang mampu melakukan recovery, penyembuhan terhadap Indonesia? Hal itu menurutnya harus lebih dulu dipikirkan daripada intern NU, apalagi ramai-ramai membuat NU terjun langsung di dunia politik.

Banyaknya konflik di Indonesia, apalagi yang membawa-bawa nama agama, hingga pemerintah dan aparat kesulitan menanganinya adalah masalah serius yang harus segera diselesaikan. Jika menyangkut konflik antaragama, beliau mengatakan NU telah melakukan dialog lintas agama. Karena, tidak mungkin masalah itu selesai hanya dengan peran satu kelompok saja. Harus melibatkan keduanya. Itu caranya jika konflik ingin dituntaskan.

Kiprah Internasional dan Jasa KH Hasyim Muzadi

Kyai Hasyim dikenal sebagai sosok yang sangat tulus memosisikan dirinya sebagai seorang pemimpin Indonesia. Apa saja yang dianggap perlu bagi agama, Indonesia, dan NU, beliau ikhlas melakukan. Itu sebabnya, dalam kunjungan di Amerika Serikat setelah kejadian Black September kala itu, Kyai Hasyim benar-benar seperti mengabdikan diri bagi kepentingan yang lebih besar. Salah satunya beliau tunjukkan dalam bentuk memberikan penjelasan kepada dunia internasional bahwa umat Islam Indonesia adalah umat Islam yang moderat, kultural, dan tidak memiliki jaringan dengan organisasi kekerasan internasional.

Ketika terjadi peristiwa ditabraknya gedung WTC 11 September 2001, di mana AS langsung menuduh gerakan Al Qaeda sebagai pelakunya dan menangkapi orang-orang dan kelompok Islam yang diduga terkait dengan jaring Al Qaeda, posisi Islam moderat Indonesia luput dari tuduhan. Namun hal itu bukan berarti persoalan selesai. KH Hasyim punya pandangan, bahwa dunia internasional perlu tau kondisi Islam di Indonesia dan perilakunya yang tidak menyetujui tindak kekerasan.

Baca Juga:  Masya Allah, Inilah Karomah Al Bani Yang Tak Dimiliki Ulama Lain

Untuk itu perlu upaya komunikasi dengan dunia luar secara intensif. Tak terkecuali dengan AS. Dengan banyaknya komunikasi yang intens ormas-ormas moderat Indonesia dengan dunia internasional dan AS, itu semakin positif. Apalagi, di tengah keterpurukan ekonomi, sosial, dan keamanan di Indonesia waktu itu, kerja sama internasional jauh lebih berfaedah daripada keterasingan internasional.

Kyai Hasyim pun menjadi tokoh yang mendapat undangan khusus oleh pemerintah AS untuk memberi penjelasan tentang paham masyarakat muslim di Indonesia. Beliau cukup gamblang menjelaskan peta dan struktur Islam Indonesia. AS beruntung mendapat gambaran itu langsung dari seorang Ulama dan ormas muslim terbesar Indonesia. Indonesia juga bersyukur karena seorang ulama dan tokoh bangsanya menjelaskan tentang Islam Indonesia kepada pihak luar. “Saya gambarkan, umat Islam di Indonesia itu pada dasarnya moderat, bersifat kultural, dan domestik. Tak kenal jaringan kekerasan internasional,” ujar Kyai Hasyim.

Soal kelompok-kelompok garis keras di Indonesia, betapapun jumlah dan kekuatannya, hanyalah segelintir dan Kyai Hasyim mengingatkan AS bahwa mengatasinya tidak boleh sembarangan. Jangan sekali-kali menggunakan represi. Bukan hanya kontraproduktif, tapi bisa memunculkan radikalisme betulan. Sekali AS bertindak, seperti dilakukannya di Afghanistan atau negara-negara Timur Tengah, dengan intervensi langsung, hasilnya bisa runyam. Karena Indonesia tidak bisa dipukul rata dengan Timur Tengah atau negara-negara lain.

Apa alternatif pendekatannya jika represi ditanggalkan? “Saya minta agar upaya pendekatannya dengan pendidikan, kultural, dan social problem solving. Dijamin, gerakan-gerakan kekerasan akan hilang,” tutur Kyai Hasyim.

Di lain sisi, AS juga menyadari pentingnya menggalang pengertian dan kerja sama dengan Islam moderat berbagai belahan dunia. Di AS sendiri, ada sekitar 5 juta penganut Islam dan menjadi agama yang paling cepat pertumbuhannya dibandingkan agama-agama lain. Kyai Hasyim Muzadi juga mengakui, pejabat AS memang memiliki pandangan sendiri tentang masa depan, dunia Islam, dan terorisme. Akan tetapi banyak senator AS juga yang mengharap Indonesia menjadi komunitas muslim yang di masa depan dapat bersahabat dengan dunia. Itu istilah dari mereka, katanya.

Sedangkan ukuran AS adalah Indonesia bisa mengatur diri, sehingga tak menjadi sarang kekerasan. Namun, menurut Kyai Hasyim, yang cukup menggembirakan adalah tidak ada rencana AS sedikit pun untuk menyerang Indonesia.

Itulah biografi dan sosok KH Hasyim Muzadi, seorang ulama dan tokoh bangsa yang bisa “mengayomi seluruh kalangan, menenangkan dan juga menjadi sorotan dunia internasional. Baktinya untuk agama, bangsa dan Negara serta tak lupa untuk NU patutlah kita teladani.
Khususon ila KH Hasyim Muzadi … al Fatihah ….

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published.