Biografi Singkat Imam Malik bin Anas, Pendiri Mazhab Maliki

biografi imam malik bin anas

Pecihitam.org – Imam Malik bin Anas, pendiri mazhab Maliki, dilahirkan di Madinah, pada tahun 93 H. Beliau berasal dari Kabilah Yamaniah. Sejak kecil beliau telah rajin menghadiri majelis-majelis ilmu pengetahuan, sehingga sejak kecil itu pula beliau telah hafal Al-Qur’an. Selain daripada itu, ibu beliau sendiri pun memang sangat kuat mendorong Imam Malik agar senantiasa giat dalam menuntut ilmu.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Pada mulanya beliau belajar dari Rabi‘ah, seorang ulama yang sangat terkenal pada waktu itu. Selain itu, beliau juga memperdalam ilmu hadis kepada Ibn Syihab, di samping juga mempelajari ilmu fiqih dari para sahabat.

Karena ketekunan dan kecerdasannya, Imam Malik tumbuh sebagai seorang ulama yang terkemuka, terutama dalam bidang ilmu hadis dan fiqh.

Bukti atas hal itu, adalah ucapan Al-Dahlami ketika dia berkata: “Malik adalah orang yang paling ahli dalam bidang hadis di Madinah, yang paling mengetahui tentang keputusan-keputusan Umar, yang paling paham mengenai pendapat-pendapat dari Abdullah bin Umar, Aisyah ra, dan sahabat-sahabat mereka yang lain, atas dasar itulah dia memberi fatwa. Apabila diajukan kepada suatu masalah, dia menjelaskan dan memberi fatwa”.

Baca Juga:  Kontribusi Imam Malik dalam Perkembangan Ilmu Hadis

Dengan pencapaian tingkatan ilmu yang tinggi tersebut, Imam Malik pun akhirnya mulai mengajar, karena beliau merasa memiliki kewajiban untuk membagi dan menyebarkan pengetahuannya kepada orang lain yang membutuhkan.

Meski begitu, beliau dikenal sangat berhati-hati dalam memberi fatwa. Sebelum mengeluarkan Fatwa atas suatu masalah, Beliau terlebih dahulu meneliti hadis-hadis Rasulullah saw lalu beliau Musyawarahkan dengan ulama lain.

Diriwayatkan, bahwa beliau mempunyai tujuh puluh orang yang biasa diajak bermusyawarah untuk mengeluarkan suatu fatwa.

Imam Malik dikenal memiliki kemampuan daya ingat yang sangat kuat. Pernah, beliau mendengar tiga puluh satu hadis dari Ibn Syihab tanpa menulisnya. Dan ketika kepadanya diminta mengulangi seluruh hadis tersebut, tak satu pun dilupakannya. Imam Malik benar-benar mengasah ketajaman daya ingatannya, terlebih lagi karena pada masa itu masih belum terdapat suatu kumpulan hadis secara tertulis. Karenanya karunia tersebut sangat menunjang beliau dalam menuntut ilmu.

Selain itu, beliau dikenal sangat ikhlas di dalam melakukan sesuatu. Sifat inilah kiranya yang memberi kemudahan kepada beliau di dalam mengkaji ilmu pengetahuan. Imam Malik pernah berkata: “Ilmu itu adalah cahaya; ia akan mudah dicapai dengan hati yang takwa dan khusyu”.

Baca Juga:  Ibn al-Haytham, Ilmuwan Muslim di Bidang Optik

Beliau Juga menasehatkan untuk menghindari keraguan, ketika beliau berkata: “Sebaik-baik pekerjaan adalah yang jelas, apabila engkau menghadapi dua hal, dan salah satu di antaranya meragukan, maka kerjakanlah yang lebih meyakinkan menurutmu”.

Karena sifat ikhlasnya yang besar itulah, maka Imam Malik tampak enggan memberi fatwa yang berhubungan dengan soal hukuman. Salah Seorang murid Imam Malik yang bernama Ibnu Wahab, berkata: “Saya Mendengar Imam Malik (jika ditanya mengenai hukuman), beliau berkata: Ini adalah urusan pemerintahan.”

Imam Syafi‘i (pendiri Mazhab Syafi’i) sendiri pernah berkata: “Saat aku tiba di Madinah, aku bertemu dengan Imam Malik. Ketika mendengar suaraku, beliau memandang diriku beberapa saat, kemudian bertanya: Siapa namamu? Aku pun menjawab: Muhammad! Dia berkata lagi: Wahai Muhammad, bertaqwalah kepada Allah, Jauhilah maksiat karena ia akan membebanimu terus, hari demi hari”.

Baca Juga:  Snouck Hurgronje, Penyusup yang Memecah Belah Islam di Indonesia

Tak dapat dipungkiri lagi bahwa, Imam Malik bin Anas adalah seorang ulama yang sangat terkemuka, terutama dalam ilmu hadis dan fiqh. Beliau mencapai tingkat yang sangat tinggi dalam kedua cabang ilmu tersebut.

Salah satu Karya Imam Malik yang terkenal adalah kitab Al-Muwaththa’. Kitab tersebut merupakan kitab hadis dan fiqh, yaitu kitab fiqh yang berdasarkan himpunan hadis-hadis pilihan.

Imam Malik bin Anas meninggal dunia pada usia 86 tahun. Mazhab Maliki pun tersebar luas dan dianut Umat Islam di banyak bagian di seluruh penjuru dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *