Biografi Syaikh Ja’far al-Barzanji, Pengarang Maulid al-Barzanji

Ja'far Al Barzanji

Pecihitam.org – Syaikh Ja’far Al-Barzanji nama lengkapnya Syaikh Ja’far ibn Hasan ibn Abdul Karim ibn Muhammad al-Barzanji. Beliau lahir pada hari Kamis awal bulan Zulhijjah tahun 1126 H di Madinah Al-Munawwaroh.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sayyid Ja’far Al-Barzanji merupakan seorang ulama besar keturunan Rasulullah SAW dari keluarga Sa’adah Al Barzanji yang masyhur, yaitu berasal dari Barzanj di Irak. Datuk-datuk Sayyid Ja’far semuanya ulama terkemuka yang terkenal dengan ilmu dan amalnya, keutamaan, dan kesalihannya.

Beliau mempunyai akhlak yang sangat terpuji, hati yang bersih, sangat pemaaf, zuhud, selalu berpegang dengan Al Quran dan Sunnah, wara’, banyak berzikir, sentiasa bertafakkur, mendahului dalam membuat kebajikan, gemar bersedekah,dan pemurah.

Garis keturuanannya dengan Nabi Muhammad memlalui jalur Sayyid Husain, Sayyid Ja’far ibn Hasan ibn Abdul Karim ibn Muhammad ibn Sayid Rasul ibn Abdul Syed ibn Abdul Rasul ibn Qalandar ibn Abdul Syed ibn Isa ibn Husain ibn Bayazid ibn Abdul Karim ibn Isa ibn Ali ibn Yusuf ibn Mansur ibn Abdul Aziz ibn Abdullah ibn Ismail ibn Al-Imam Musa Al-Kazim ibn Al-Imam Ja’far As-Sodiq ibn Al-Imam Muhammad Al-Baqir ibn Al-Imam Zainal Abidin ibn Al-Imam Husain ibn Sayidina Ali r.a. dan Sayidatina Fatimah binti Rasulullah SAW.

Baca Juga:  Hingga Nabi Wafat, Rahasia Ini Benar-benar Disimpan Hudzaifah bin al Yaman

Masa Kecil

Beliau menghafal Al Quran 30 Juz kepada Syaikh Ismail Alyamany dan Tashih Quran (mujawwad) kepada syaikh Yusuf Asho’idy kemudian belajar ilmu naqliyah (Quran dan Hadis) dan ‘Aqliyah kepada ulama-ulama masjid nabawi Madinah Al Munawwarah dan tokoh-tokoh qabilah daerah Barjanzi.

Kemudian belajar ilmu Nahwu, Sharaf, Mantiq, Ma’ani, Badi’, Faraidh, Khat, Hisab, Fiqih, Ushul Fiqh, Falsafah, ilmu Hikmah, ilmu Teknik, Lughah, ilmu Mustalah Hadis, Tafsir, Hadis, ilmu Hukum, Sirah Nabawi, ilmu Sejarah.

Semua ilmu tersebut beliau pelajari bersama ulama-ulama masjid Nabawi. Dan bertepatan 1159 H umurnya mencapai 31 tahun, barulah beliau menjadi seorang yang ‘Alim al ‘Allaamah dan ulama besar.

Karya

Kitab ‘Iqd al-Jawahir (artinya kalung permata) yang sebagian ulama menyebut dengan nama kitab I’qdul Jawhar fi mawlid an Nabiyyil Azhar. Yang bertujuan untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, dan saat ini lebih populer dengan dengan nama kitab al-Barzanji.

Kitab ini banyak disyarah oleh ulama lainnya, di antaranya al-’Allaamah al-Faqih asy-Syaikh Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad atau yang biasa dipanggil Ba`ilisy yang wafat tahun 1299 H. Dengan satu syarah yang dinamakan “al-Qawl al-Munji ‘ala Maulid al-Barzanji” yang telah banyak dicetak di Mesir.

Baca Juga:  Mengenal Suhrawardi Al-Maqtul, Sang Ulama Berbasis Tasawuf dan Filsafat

Di samping itu, kitab Maulid al-Barzanji ini telah disyarahkan pula oleh para ulama kenamaan yaitu Syaikh Muhammad bin Ahmad ‘Ilyisy al-Maaliki al-’Asy’ari asy-Syadzili al-Azhari dengan kitab “al-Qawl al-Munji ‘ala Maulid al-Barzanji”.

Selain itu ulama kita kelahiran Banten, Pulau Jawa, Syaikh Nawawi al-Bantani yang turut menulis syarah yang Lathifah bagi “Maulid al-Barzanji” dan karyanya itu dinamakan “Madaarijush Shu`uud ila Iktisaa-il Buruud”.

Kemudian, Sidi Ja’far bin Sayyid Isma`il bin Sayyid Zainal ‘Abidin bin Sayyid Muhammad al-Hadi bin Sayyid Zain yang merupakan suami dari satu-satunya anak Sayyid Ja’far al-Barzanji, telah juga menulis syarah bagi “Maulid al-Barzanji” tersebut yang dinamakannya “al-Kawkabul Anwar ‘ala ‘Iqdil Jawhar fi Mawlidin Nabiyil Azhar”.

Kembali lagi pada Sayyid Ja’far al-Barzanji, tidak hanya dipandang sebagai seorang mufti, beliau juga menjadi khotib di Masjid Nabawi dan mengajar murid-muridnya di sana.

Beliau terkenal bukan saja karena ilmu, akhlak, dan takwanya, tapi juga dengan kekeramatan dan kemakbulan doanya. Penduduk Madinah sering meminta beliau berdoa untuk hujan pada musim-musim kemarau.

Diceritakan bahawa suatu ketika di musim kemarau, beliau sedang menyampaikan khutbah Jumaatnya, seseorang telah meminta beliau beristisqa`memohon hujan.

Baca Juga:  Abu Aziz Samalanga, Mengenal Sosok Ulama Kharismatik Aceh

Dan ketika dalam khotbahnya itu, Sayyid Ja’far al-Barzanji berdoa memohon hujan. Tak selang berapa lama dengan serta merta doa beliau terkabul. Hujan turun dengan lebatnya hingga seminggu, persis seperti yang pernah terjadi pada zaman Rasulullah SAW dahulu.

Wafatnya

Beliau wafat di Kota Madinah dan dimakamkan di Jannatul Baqi`, sebelah bawah makam beliau dari kalangan anak-anak perempuan junjungan Nabi SAW. Karyanya hingga kini membawa umat ingat terhadap Nabi dan membuat umat rindukan Nabi.

Setiap kali karyanya dibaca, pasti shalawat dan salam dilantunkan buat Nabi. Beliau telah kembali ke rahmatullah pada hari Selasa, setelah Asar, 4 Sya’ban, tahun 1177 H (1766 M). Jasad beliau di makamkan di Baqi’ bersama keluarga Rasulullah SAW.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *