BJ Habibie, Ilmuwan Islam Paling Berpengaruh di Bidang Penerbangan

BJ Habibie, Ilmuwan Islam Paling Berpengaruh di Bidang Penerbangan

PeciHitam.org – Sejak masa kejayaannya, Islam selalu memiliki banyak ilmuwan yang sangat mahir dalam bidangnya, mulai dari kedokteran, matematika, fisikawan dan lain sebagainya. Namun, kita harus sadar bahwa ada salah satu ilmuwan Islam abad modern yang pernah ada dan hidup di Indonesia, dia adalah B.J. Habibie.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Bacharuddin Jusuf Habibie, lahir di Pare-pare, pada tanggal 25 Juni 1936. Ayahnya bernama Alwi Abdul Jalil Habibie adalah seorang ahli pertanian dan berasal dari Gorontalo. Sedangkan sang Ibu bernama R.A. Tuti Marini Puspowardojo adalah seorang spesialis mata yang berasal dari Yogyakarta. Habibie adalah anak keempat dari total delapan bersaudara.

Habibie saat muda menempuh pendidikannya di SMAK Dago. Kemudian melanjutkan kuliah di ITB yang saat itu bernama Universitas Indonesia Bandung dengan jurusan Teknik Mesin. Selanjutnya, baru satu tahun ia memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di Jerman, bersama pelajar-pelajar Indonesia lain yang dikirim ke sana.

Di tahun 1955, mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di sana diberikan beasiswa penuh dan di antara teman yang lain, hanya Habibie yang memiliki paspor swasta atau paspor hijau. Kuliahnya di Jerman ini tidak menggunakan beasiswa dari negara, melainkan atas dukungan biaya sang Ibu bernama R.A. Tuti Marini Puspowardojo

Di tahun 1960, beliau mampu mendapatkan gelar Diploma Ing di Jerman dari Technische Hochschule dengan predikat Cum Laude atau sempurna dan nilai rata-ratanya adalah 9,5. Kemudian ia juga memperoleh gelar Doktor Ingenieur dari Technische Hochschule Die Facultaet de Fuer Maschinenwesen Aachen dengan nilai summa cumlaude dan rata-rata nilainya adalah 10 sehingga sangat sempurna.

Baca Juga:  Mengenal Mustafa Al Azami dan Kritiknya terhadap Orientalis

Di tahun 1967, BJ Habibie mendapatkan gelar Profesor Kehormatan atau Guru Besar dari ITB. Selain itu, dari ITB juga BJ Habibie mendapatkan penghargaan tertinggi yakni Ganesha Praja Manggala.

Sejak mudanya ia terinspirasi pesan Bung Karno tentang pentingnya penguasaan Teknologi yang berwawasan nasional yaitu teknologi maritim dan teknologi dirgantara dikala Indonesia waktu itu masih berkembang. Ini merupakan salah satu alasan mengapa dirinya amat antusias dengan pesawat hingga akhirnya mampu menciptakan pesawat N-250 Gatot Kaca.

Pesawat yang diciptakannya ini mampu terbang tanpa oleng berlebihan dengan teknologi paling canggih dan terdepan di zaman itu dan bahkan sengaja dibuat mampu bertahan hingga 30 tahun ke depan. Untuk melengkapi desain awalnya saja, BJ Habibie butuh waktu selama 5 tahun.

Pesawat ini juga menjadi satu-satunya pesawat yang turboprop di dunia dimana menggunakan teknologi Fly By Wire. Teknologi Pesawat N250 Gatot Kaca ini didesain agar mampu terbang dalam kondisi apapun berdasarkan letak geografis pulau-pulau di Indonesia yang terpisah dari Sabang sampai Merauke.

Ia merupakan tokoh Ilmuwan Islam yang paling berpengaruh di dunia penerbangan. Ia mengabdikan hidupnya pada dunia ilmu pengetahuan dan teknologi. Ditemukannya teori crack propagation point atau letak titik awal retakan pada pesawat oleh Habibie menjadi awal kemajuan industri pesawat di seluruh dunia.

Baca Juga:  Sufyan Ats Tsauri, Muhaddits dan Waliyullah yang Terkenal dengan Kewara'annya

Teorinya ini mampu menjadi solusi atas masalah yang ditimbulkan oleh retaknya sayap dan badan pesawat yang mampu menimbulkan guncangan ketika take off maupun landing. Rumus yang ditemukannya ini mampu menghitung keretakan hingga ke atom pesawat terbang sekalipun.

beliau mendapatkan banyak pengakuan dari lembaga kelas internasional mulai dari Gesselschaft fuer Luft und Raumfahrt, yakni lembaga penerbangan di Jerman, The Royal Aeronautical Society London yang ada di Inggris, The Academie Nationale de l’Air et de l’Espace dari Prancis, The Royal Swedish Academy of Engineering Sciences dari Swedia dan bahkan The US Academy of Engineering dari Amerika Serikat.

BJ Habibie juga pernah mendapatkan penghargaan yang amat bergengsi yaitu Edward Warner Award serta Award von Karman dimana penghargaan ini hampir setara penghargaan Hadiah Nobel.

Atas torehan prestasi yang amat luar biasa ini, ia dipercaya menjadi Menteri Riset dan Teknologi. Saat menjadi menteri pada pemerintahan Soeharto inilah, ia menggemakan pentingnya IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) pada pendidikan Indonesia. Menurutnya, IPTEK ini juga harus selaras dengan IMTAQ (Iman dan Taqwa) agar manusia Indonesia bukan hanya menjadi manusia yang menguasai pengetahuan, namun juga memiliki spiritual dan Budi pekerti yang mumpuni.

Beliau kemudian diangkat menjadi Wakil Presiden di tanggal 14 Maret 1998 untuk mendampingi Presiden Soeharto. Namun hanya beberapa bulan setelah beliau menjabat, gejolak politik pun tak bisa terhindarkan dan mencapai puncaknya. Presiden Soeharto yang sudah bertahta di kursi presiden selama puluhan tahun akhirnya lengser dengan pengunduran dirinya pada 21 Mei 1998.

Baca Juga:  Taha Hussein, Sastrawan dan Pemikir Islam yang Mengalami Kebutaan

Lengsernya Presiden Soeharto pun secara otomatis menjadikan BJ Habibie secara resmi menggantikannya menempati kursi nomor satu di Indonesia. Beliau menjadi Presiden ketiga di RI. BJ Habibie hanya menjabat sekitar satu tahun saja dimana beliau justru mewarisi kondisi saat Indonesia sedang dalam masa rusuh dan banyak wilayah yang ingin melepaskan diri dari Indonesia.

Kini Indonesia begitu kehilangan sosok Ilmuwan Islam paling berpengaruh di dunia penerbangan ini. Habibie meninggal dunia di RSPAD Gatot Subroto pada tanggal 11 September 2019 pukul 18.05 WIB karena gagal jantung. Sebelumnya, Habibie telah menjalani perawatan intensif sejak 1 September 2019.

Mohammad Mufid Muwaffaq