Bulan Sya’ban, Shalawat Nabi, dan Wabah Virus Corona

Wabah Virus Corona

Pecihitam.org – Dalam pandangan Islam setiap bulan terdapat peristiwa sejarah yang melingkupi Nabi Muhammad Saw, tak terkecuali bulan Sya’ban. Syekh Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki dalam kitabnya Ma Dza fi Sya’ban? Menuturkan bahwa pada bulan Sya’ban terdapat tiga peristiwa penting. Peristiwa tersebut sangat berarti bagi kaum Muslimin sampai saat ini:

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Pertama, peralihan arah kiblat yang semula menghadap Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram yang terjadi pada bulan Sya’ban. Peristiwa tersebut diceritakan dalam surah Al-Baqarah: 144 dimana Nabi Muhammad Saw menunggu-nunggu perintah tersebut. Kemudian turunlah ayat:

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

Kedua, penyerahan catatan amal semua umat manusia kepada Allah Swt. Syekh Sayyid Muhammad mengutip sebuah hadits riwayat an-Nasa’i yang meriwayatkan dialog Usamah bin Zaid dan Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga:  Buya Syakur: Takwa adalah Sikap Kehati-hatian

“Wahai Nabi, aku tidak melihatmu berpuasa di bulan-bulan lain sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban?”

Kemudian Rasulullah menjawab, “Banyak manusia yang lalai di bulan Sya’ban. Pada bulan itu semua amal diserahkan kepada Allah SWT. Dan aku suka ketika amalku diserahkan kepada Allah aku dalam keadaan puasa”.

Ketiga, turunnya ayat tentang anjuran Shalawat kepada Nabi Muhammad Saw, yaitu surah al-Ahzab: 56.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

 Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

Ibnu Abi Shai Al-Yamani mengatakan, bulan Sya’ban adalah bulan shalawat. Karena pada bulan itulah ayat tentang anjuran shalawat diturunkan. pendapat ini dikuatkan oleh Imam Syihabuddin al-Qasthalani dalam Mawahib-nya serta Imam Ibnu Hajar al-Asqalani yang mengatakan bahwa ayat itu turun pada bulan Sya’ban tahun ke-2 Hijriyah.

Ditengah mewabahnya virus corona (covid-19), sebagai umat Islam perlu mengambil hikmah dalam memasuki bulan Sya’ban ini. Yang perlu diingat adalah bahwa setelah diturunkannya Nabi Muhammad Saw sudah tidak ada Adzab yang diturunkan kepada suatu kaum.

Seperti yang disampaikan Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar bahwa definisi adzab dalam Al-Qur’an itu diciptakan kepada umat terdahulu (orang-orang kafir). Sedangkan sekarang yang ada adalah musibah (bala’) sehingga baik orang kafir maupun beriman sama-sama kena.

Baca Juga:  Islam di Indonesia, Dari Membela Agama ke Membela Kemanusiaan

Yang perlu direnungkan sebelum semua catatan amal kita dilaporkan kehadirat Allah Swt ialah sudahkah kita bermuhasabah diri? Perbuatan apa saja yang telah kita lakukan dalam setahun yang lalu? Lebih banyak mana antara perbuatan baik dan perbuatan buruk? Apa yang perlu diperbaiki dalam beberapa hari kedepan sampai malam Nisfu Sya’ban (malam dilaporkannya catatan amal)?

Mungkin adanya wabah ini dapat menjadi peringatan bagi manusia terutama umat Islam baik yang masih maksiat maupun yang bertaqwa. Bagi orang yang masih maksiat menjadi tersadar bahwa selama ini banyak perbuatannya yang melanggar norma-norma agama.

Bahkan perintah-perintah agamapun ditinggalkan. Fafirru ila Allah (kembalilah kepada Allah Swt) sang pemilik kehidupan. Segeralah bertaubat, dan menambah amal-amal shaleh sebelum catatan amal dilaporkan.

Bagi umat Islam yang sudah bertaqwa pun terdapat hikmah yang begitu berlimpah. Wabah ini bisa jadi merupakan sebuah ujian baginya untuk selalu meningkatkan ketaqwaan. Bukan malah meragukan kuasa Allah Swt terhadap orang taat. Hal yang perlu dipertanyakan adalah apakah ketaatan yang selama ini dilakukan sudah murni karena Allah Swt?

Di bulan dianjurkannya shalawat kepada Nabi Muhammad Saw dan ditengah wabah yang sedang melanda semua bangsa, bisa jadi shalawat merupakan sebuah penawar. Beberapa ulama telah banyak yang menganjurkan bacaan shalawat Nabi dalam menghadapi wabah ini. Pujian yang disanjungkan kepada makhluk yang paling mulia yang karenanya semua alam diciptakan.

Baca Juga:  Ketika Fatwa Salafi Wahabi Bergandeng Mesra dengan Misi Zionis

Dalam beberapa sejarah kenabian diceritakan bahwa semua makhluk pun bergembira atas dilahirkannya manusia paling agung. Maka dengan bacaan shalawat hadirkan Nabi dalam setiap sanubari kehidupan ini. Bukankah virus juga makhluk yang juga tunduk dihadapan Nabi Muhammad Saw.

Namun hal tersebut tentunya juga dibarengi dengan ikhtiar yang telah disosialisasikan oleh ahli medis. Jangan sampai bersikap acuh terhadapnya seperti ucapan “mati kan urusan Tuhan”. Bahkan sebenarnya beberapa anjuran ahli medis pun sejalan dengan anjuran agama seperti hidup bersih, makan makanan yang sehat, dan olahraga yang cukup. Umat Islam juga dituntut untuk peduli terhadap sosial ditengah wabah dimana banyak orang yang kehilangan matapencahariannya.

Semoga wabah ini segera diangkat oleh Allah Swt dan umat Islam bergembira memasuki bulan Suci Ramadhan 1441 H.