Cemburu dalam Islam: Kisah Kecemburuan Aisyah RA Kepada Khadijah dan Qibtiyah

Cemburu dalam Islam: Kisah Kecemburuan Aisyah RA Kepada Khadijah dan Qibtiyah

PeciHitam.org Manusia memiliki rasa cinta kasih dan sayang kepada pasangan lawan jenis sebagai karunia fitrah dari Allah SWT. Lewat cinta kasih dan sayang inilah manusia membangun atau membina kehidupan yang harmoni. Keharmonisan dalam kehidupan manusia menjadi indah dan bahagia.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kebahagiaan manusia tidak serta merta berjalan dengan baik tanpa adanya gangguan atau gelombang. Keluarga, suami-Istri untuk menjadikan kehidupannya sakinah, mawadah dan rahmah haruslah diperjuangkan. Karena dengan perjuangan, keharmonisan dan kebahagiaan akan lebih memiliki arti yang besar.

Perjalanan rumah tangga biasanya memiliki gelombang dan bumbu rasa cemburu kepada pasangan. Baik istri kepada suami atau sebaliknya. Rasa cemburu kepada orang yang disayangi bukan sebuah aib dalam Islam ketika diletakan dalam porsi tepat dan sesuai takaran.

Rasa cemburu dalam Islam dipandang sebagai sifat kemanusiaan yang sangat wajar, bahkan menunjukan adanya perhatian kepada pasangan. Akan tetapi harus ada managemen rasa cemburu agar tidak terjebak untuk berbuat yang  melampaui batas syariat Islam.

Bahkan Ummul Mukminin, Ibunda Umat Islam, Istri Rasulullah SAW pernah merasakan api cemburu antar sesama pasangan Rasul. Apalagi wanita yang dianugerahi rasa yang lembut, sering bersinggungan dengan perasaan. Cemburu dalam Islam harus diporsikan dengan baik dan dikelola dengan bijak.

Kenang Khadijah, Kecemburuan Aisyah RA

Khadijah adalah ummul mukminin pertama yang mendapat gelar al-Kubra, Yang Agung karena peran beliau yang sangat besar dalam perjuangan Islam. Beliau menghabiskan harta benda untuk perjuangan Nabiyuna Muhammad SAW.

Walaupun menikah dengan Nabi Muhammad bin Abdullah SAW dalam keadaan janda tidak menyurutkan cinta dan sayang Nabi kepadanya. Kecintaan kepada Khadijah banyak terekam dalam kisah Romantis, ketika Nabi diselimuti dan dipeluk Khadijah saat ketakutan menerima wahyu pertama di Gua Hira’.

Kenangan dan kecintaan Nabi Muhammad SAW sebagai suami yang setia terekam dalam riwayat Aisyah binti Abu Bakar. Asiyah RA adalah Istri termuda Nabi dan termanja, merasa cemburu kepada Khadijah RA;

Baca Juga:  Kisah Juwairiyah binti al-Harits, Ummul Mukminin yang Penuh Berkah

مَا غِرْتُ عَلَى أَحَدٍ مِنْ نِسَاءِ النَّبِيِّ  صلى الله عليه وسلم  مَا غِرْتُ عَلَى خَدِيْجَةَ وَمَا رَأَيْتَهَا وَلَكِنْ كَانَ النبي صلى الله عليه وسلم يُكْثِرُ ذِكْرَهَا وَرُبَّمَا ذَبَحَ الشَّاةَ ثُمَّ يَقْطَعُهَا أَعْضَاءَ ثُمَّ يَبْعَثُهَا فِي صَدَائِقِ خَدِيْجَةَ فَرُبَّمَا قُلْتُ لَهُ كَأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ فِي الدُّنْيَا امْرَأَةٌ إِلاَّ خَدِيْجَةُ فَيَقُوْلُ إِنَّهَا كَانَتْ وَكَانَتْ وَكَانَ لِي مِنْهَا وَلَدٌ

Artinya; “Aku tidak pernah cemburu pada seorangpun dari istri-istri Nabi SAW seperti kecemburuanku pada Khadijah. Aku tidak pernah melihatnya akan tetapi Nabi SAW selalu menyebut namanya. Terkadang Nabi menyembelih seekor kambing kemudian beliau memotong-motongnya lalu mengirimkannya kepada sahabat-sahabat Khadijah.

Terkadang aku berkata kepadanya, “Seakan-akan di dunia ini tidak ada wanita yang lain kecuali Khadijah”, lalu Nabi SAW berkata, “Dia itu wanita yang demikian dan demikian dan aku memiliki anak-anak darinya.” (HR Al-Bukhari)

Kecemburuan Aisyah RA yang seorang Istri Muda dan tercantik bermula ketika suaminya sering menyebut kebaikan Ummul Mukminin Khadijah RA yang  sudah meninggal. Tentunya perasaan wanita merasa bahwa Nabi Muhammad SAW lebih sayang Istri pertama daripada ia.

Khadijah al-Kubra memang wanita yang sangat Istimewa bagi Rasul karena beliau peneman sejati ketika awal dakwah Islam. Sampai-sampai qashidah pujian kepada beliau menjadi wirid yang sering dikumandangkan oleh Umat Islam di Nusantara;

سعدنا في الدنيا * فوزنا في الأخرى
بخديجة الكبرى * وفاطمة الزهرا

Artinya; Sungguh Beruntung diduna dan berbahagia di Akhirat

(yakni) Sayyidah Khadijah Al-Kubra (Istri Rasul) dan fatimah Azzahra (putri Rasul)

Kisah cemburu dalam Islam sebagaimana terekam dalam hadits Aisyah di atas menunjukan bahwa Islam tidak melarang adanya rasa cemburu. Aisyah RA sebagai istri muda dan cantik merasa terbagi dan panas telinga ketika Nabi SAW menceritakan Khadijah, Istri pertamanya.

Cemburu dalam Islam dilekatkan kepada wanita  karena memang ia merupakan makhluk Allah SWT yang mempuyai sifat lemah lembut. Tidak menjadi masalah jika cemburu dalam Islam diproporsikan sesuai dengan kadarnya.

Baca Juga:  Perbedaan Metode Kritik Hadis Versi Muhaditsin dan Sejarawan

Maria Al-Qibtiyah, Bekas Budak yang Membuat Cemburu

Kisah kecemburan Istri Rasulullah juga pernah terekam dalam sejarah ketika Nabi Muhammad SAW condong dan sering mengunjungi Maria Al-Qibtiyah, seorang mantan Budak Cantik dari Negara Mesir.

Maria Al-Qibtiyah dihadiahkan bersama saudaranya Sirrin binti Syama’un kepada Nabi Muhammad SAW dari Penguasa Lokal Mesir, Muqawqis.

Nabi hanya mengambil Maria al-Qibtiyah sebagai Istri dan memberikan Sirrin binti Syama’un kepada Hasan bin Tsabit. Dari Maria, Nabi memiliki anak lelaki yang diberi Nama Ibrahim bin Muhammad dan sangat menggembirakan hari Rasul.

Nabi Muhammad SAW bergembira ketika menikahi Maria karena kecantikan dari paras Maria Al-Qibtiyah. Perhatian nabi yang lebih kepada Maria karena keadilan beliau mendapati Orang Asing yang baru tinggal di Madinah. Maria dan Sirrin datang ke Madinah sebagai Budak Hadiah dan menjadikan dua bersaudara ini sangat merasa asing dan kesepian.

Akan tetapi perhatian Nabi SAW kepada Maria dan Anaknya Ibrahim bin Muhammad, disikapi dengan kecemburuan oleh Aisyah RA dan Hafsah RA. Sampai Ummul Mukminin Hafsah RA membuat sumpah, akan tetapi dibatalkan oleh Al-Qur’an;

قَدْ فَرَضَ اللَّهُ لَكُمْ تَحِلَّةَ أَيْمَانِكُمْ وَاللَّهُ مَوْلاكُمْ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ (٢

Artinya; “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana” (Qs. At-Tahrim: 2)

Rasa cemburu kepada Maria Al-Qibtiyah juga dialami oleh Asiyah RA dengan berkata “ Aku tidak pernah merasa cemburu kepada Wanita kecuali kepada Maria, karena ia berparas cantik dan Rasulullah SAW tertatik kepadanya.

Ketika ia pertama kali datang ke Madinah, Rasulullah menitipkan Maria dirumah Haritsah bin Nu’man. Beliau sering mendatangi Maria RA siang dan malam. Aku merasa sedih. Oleh karenanya, Rasul memindahkan Maria ke kamar Atas rumah kami. Tetapi beliau tetap sering mengunjunginya. Itu sangat menyakitkan bagi kami’.

Alasan kecemburuan karena memang terbakarnya rasa berkurangnya perhatian dari Nabi SAW kepada mereka. Akan tetapi tidak ada yang lebih adil daripada Rasulullah SAW, hanya saja sifat  alami wanita yakni mudah merasa cemburu. Rasa cemburu dalam Islam tidak terlarang ketika ditempatkan pada porsinya dan tidak menimbulkan cemburu buta.

Baca Juga:  Bukan 25, Ternyata Jumlah Nabi 124.000 dan Rasul 313, Ini Buktinya

Jenis Cemburu dalam Islam

Cemburu dalam Islam merupakan sebuah kewajaran sebagaimana pernah dilakukan dan disikapi dengan baik oleh Nabi SAW. Mengelola cemburu agar tidak menjadi liar harus dilakukan karena jika lepas kendali akan membahayakan. Rasul SAW bersabda;

أَنَّ مِنْ الْغَيْرَة مَا يُحِبّ اللَّه ، وَمِنْهَا مَا يَبْغَض اللَّه : فَأَمَّا الْغَيْرَة الَّتِي يُحِبّ اللَّه فَالْغَيْرَة فِي الرِّيبَة ، وَأَمَّا الْغَيْرَة الَّتِي يُبْغِض فَالْغَيْرَة فِي غَيْر رِيبَة

Artinya, “Sesungguhnya sifat cemburu itu ada yang dicintai oleh Allah dan ada yang dibenci oleh Allah. Adapun cemburu yang disukai adalah cemburu yang berdasarkan curiga (dengan bukti yang jelas). Adapun cemburu yang dibenci adalah cemburu yang tidak didasari dengan bukti yang jelas”

Hadits riwayat Jabir bin ‘Atiq di atas menjelaskan bahwa cemburu dalam Islam terbagi dua, 1. Ridhai Allah SWT, dan 2. Dibenci Allah SWT. Cemburu dalam Islam dibolehkan Allah SWT ketika memiliki landasan bukti jelas.

Sedangkan jika hanya menuduh suami telah melakukan perbuatan dosa, hanya atas dasar provokasi dan dipanas-panasi gosip kabar burung, maka cemburu seperti ini dimurkai Allah SWT. Ibnu Hajar Al-Atsqalani mengatakan bahwa cemburu harus didasarkan bukti otentik.

Jika akan ccemburu kepada pasangan harus ada bukti yang kuat dan benar agar cemburunya tidak menjadi malapetaka. Karena cemburu dalam Islam diposisikan sebagai perwujudan rasa cinta bukan untuk kehancuran rumah tangga. Kuncinya adalah mengelola cemburu dengan baik sebagaimana Rasulullah SAW contohkan.

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan