Ciri Khas NU Hati-Hati dalam Bersikap

NU Selalu Hati-Hati dalam Bersikap

Pecihitam.org – NU dan ulama-ulamanya merupakan salah satu penopang utuhnya NKRI, sekalipun hal ini diingkari oleh para pembenci NU. Kenapa NU bisa tetap eksis sebagai organisasi Islam terbesar dunia? Jawabannnya karena NU hati-hati dalam bersikap, di saat yang sama organisasi lain mudah kagetan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Ketika ormas Islam lainnya mudah terpancing untuk mengomentari suatu informasi atau kondisi yang sedang terjadi, Nahdlatul Ulama (NU) terlebih dulu mengedepankan kehati-hatian dalam menyikapi itu. NU tidak grasa-grusu yang pada akhirnya berujung malu atau bahkan penyesalan.

Sikap NU ini sejatinya dalam rangka meneladani para pendahulu agama ini. Imam Syafii yang madzhabnya begitu banyak dipraktekkan oleh muslim dunia adalah salah satu teladan bagi ulama NU.

Imam yang bernama lengkap Muhammad bin Idris ini konon ketika ditanya tentang hukum agama, beliau tidak langsung serta merta menjawabnya. Tapi ia berpikir terlebih dahulu apakah lebih banyak manfaat atau mudlorot ketika ia memberikan jawaban.

Jadi masalahnya bukan beliau tahu atau tidak. Tapi lebih kepada aspek pertimbangan mana yang terbaik. Ini penting, terlebih di zaman fitnah seperti sekarang.

Karena orang yang bertanya tak jarang hanya ingin mencomot perkataan seseorang untuk dipertentangkan dengan orang yang berbeda, bukan karena benar-benar membutuhkan jawaban dari yang ia tanyakan.

Bahkan saking hati-hatinya, penulis Kitab Al-Umm ini, pernah pada suatu kesempatan ditanya perihal jumlah kaki keledai yang beliau kendarai. “Wahai, Syaikh! Berapa jumlah kaki keledai, Tuan?”.

Bukan menjawab dengan spontan. Beliau malah turun dan memeriksa kaki keledai. Setelah yakin, beliau baru menjawab. “Jumlah kaki keledai ini empat”, begitu kurang lebih jawaban beliau dengan mantap.

Baca Juga:  Bahasa sebagai Media dan Simbolisasi dalam Kekuasaan

Orang yang bertanya keheranan geleng-geleng kepala. Bukankah begitu mudah menjawab pertanyaan jumlah kaki keledai. Tanpa dihitung pun sudah pasti keledai berkaki empat. Begitu pikirnya.

Ya, tapi begitulah Imam Syafi’i. Hati-hati dalam menyikapi pertanyaan. Inilah yang diterapkan oleh ulama-ulama NU. Aplikasi nyata dari sikap kehati-hatian ini bisa dilihat pada metode Bahtsul Masail dalam tubuh NU.

Dalam tradisi Bahtsul pada Lajnah Bahtsul Masail NU atau pun yang dijalankan pesantren-pesantren pada umumnya, dalam menanggapi suatu persoalan hukum, tidak serta-merta dikeluarkan jawabannya.

Misal tentang hukum Tahlilan. Ketika ada pertanyaan: “Bagaimana hukum menggelar Tahlilan kematian, apakah itu termasuk bid’ah karena tidak pernah dilakukan Nabi?”

Dengan kehati-hatiannya, NU dalam Bahtsul Masail tidak langsung menjawab bahwa Tahlilan hukumnya haram dan merupakan bid’ah yang sesat. Karena setiap yang baru yang tidak pernah dilakukan Nabi adalah bid’ah. Pelakunya diancam Neraka. Tapi harus melalui kajian yang bijak.

Pertama harus dipastikan tentang istilah bid’ah yang dimaksud Nabi. Kemudian dikaji juga apakah setiap yang tidak dilakukan Nabi otomatis bid’ah. Kajian terus berlanjut dengan hati-hati, tidak sembrono. Memperhatikan dalil dan illat, dan seterusnya… dan seterusnya.

Baca Juga:  Kritik Imam Al Ghazali Terhadap Filsafat Islam

Hingga kemudian mendapatkan kesimpulan bahwa Tahlilan hukumnya boleh bahkan dianjurkan. Karena yang dimaksud bid’ah bukanlah setiap perkara yang tidak pernah dilakukan Nabi. Tapi bid’ah adalah setiap perkara yang tak ditemukan dalilnya baik dalam Al-Quran, As-Sunnah maupun sumber hukum lainnya. Sedangkan Tahlilan ada dalilnya.

Itu hanya contoh kecil tentang ciri khas NU hati-hati dalam bersikap. Masih banyak yang lainnya. Termasuk sikap tabayyun NU dalam menyikapi setiap informasi. Tidak langsung mengomentari. Tapi memastikan terlebih dahulu, terlebih jika yang menjadi sumber adalah orang yang hobi nge-hoax.


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu. (QS. Al-Hujurat [49]: 6)

Lebih jauh lagi, sikap hati-hati Imam Syafii yang kemudian dipraktekkan oleh NU ternyata telah juga dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Ketika orang kafir melontarkan pertanyaan: “Wahai Muhammad, tuhanmu tercipta dari apa? Apakah dari emas, tembaga atau besi, karena tuhan-tuhan kami terbuat dari itu?”

Bisa saja Nabi langsung menjawab itu. Tapi sungguh walaupun beliau dihina karena diamnya dari pertanyaan ini, beliau tidak lantas mengeluarkan jawaban. Beliau hanya ingin menjawab berdasarkan wahyu, bukan dengan nafsu dan emosi.

Baca Juga:  Sufisme Adalah Solusi Bagi Penyakit Ekstremisme Islam dan Hati yang Kering

Andai para da’i hari ini menerapkan karakter Nabi yang seperti ini. Dengan begitu, ia tidak langsung mengomentari haram bagi seorang muslim masuk gereja. Andai saja ia benar-benar menggunakan dalil secara komprehensif dan memahami motif orang yang bertanya yang mungkin akan menjadikan jawaban si ustadz sebagai bahan bully-an.

Akhirnya… Ciri Khas NU berhati-hati dalam bersikap merupakan sikap yang mutlak dibutuhkan seorang beragama, terlebih seorang ustadz dalam mengeluarkan “fatwa”nya. Agar dalam bersikap tidak grasa-grusu berdasarkan nafsu. Inilah yang dicontohkan Nabi. Juga agar tidak terjebak dalam perangkap orang yang akan menjadikan ayat sebagai alat. Inilah yang dipraktekkan oleh Imam Syafi’i.

Faisol Abdurrahman

Leave a Reply

Your email address will not be published.