Dakwah Islam Itu Arif dalam Bertindak Santun Saat Berucap

Dakwah Islam Itu Arif dalam Bertindak Santun Saat Berucap

Pecihitam.orgSerulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS An-Nahl: 125)

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Membaca terjemahan surat An-Nahl tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa seorang pendakwah harus menggunakan metode yang santun dalam menyampaikan dakwahnya maupun membantah pendapat yang bersebrangan dengannya. Kesantunan haruslah menjadi landasan utama mengingat dirinya sebagai sosok yang dijadikan acuan khalayak.

Mencaci maki ataupun menghina adalah suatu hal yang harus benar-benar dihindari. Sesulit apapun dakwah yang dilakukan tidak boleh menggunakan narasi penghinaan.

Karena boleh jadi cacian dan hinaan tersebut menjadi penyebab utama mengapa seseorang makin jauh dari jalan kebenaran dan makin kuat menolak ajaran dakwah yang disampaikan.

Pada sejarahnya, dakwah santun telah diterapkan oleh walisongo. Dalam pembawaannya, mereka tidak langsung menutup agama Islam dari kebudayaan yang dianggap mengurangi nilai keislaman. Karena mereka yakin, cara seperti itu akan mempersempit pintu dakwah mereka.

Baca Juga:  PBNU: Berdakwah Tidak Boleh Menjelekkan Agama Lain!

Dengan bijak mereka mengadaptasikan nilai keislaman dengan budaya Indonesia yang mayoritas saat itu masih kental dengan agama Hindu. Diperlukan kecermatan, keikhlasan, serta kesabaran untuk mengadaptasikan budaya Islam ini, karena agama Hindu telah masuk dalam berbagai lini kehidupan bangsa Indonesia.

Langkah yang diambil para pendakwah tersebut seharusnya dijadikan sebagai teladan. Mereka tidak sembarangan mencontohkan dakwah lemah lembut seperti itu.

Hal itu sudah dirumuskan secara matang melalui berbagai macam pertimbangan. Dan hasilnya, mereka berhasil mengislamkan bumi Nusantara melalui gerakan tanpa peperangan.

Lantas, jika zaman sekarang para pendakwah masih menggunakan cara kekerasan bahkan membantah dengan cara yang tidak sopan, pertimbangan apa yang mereka gunakan?. Ukuran apa yang mereka gunakan?, dan siapa tokoh panutan yang berhasil menyebarkan dakwah Islam dengan cara semacam itu?.

Maka, sudah sepantasnya para pendakwah mengajak seseorang menuju jalan kebenaran dengan cara menasehatinya secara sopan, mencontohkan dengan akhlak yang luhur, arif bijaksana dalam bertindak, serta berdialog jika diperlukan.

Baca Juga:  Tahukah Kamu? Inilah Cara Menggandakan Uang yang Halal dalam Islam

Karena cara seperti itulah yang menyebabkan Islam berkembang hingga sekarang ini. Tidak heran jika Nabi lebih senang mendoakan daripada melakukan balas dendam terhadap mereka yang menghalangi dakwahnya.

Nabi selalu yakin bahwa hidayah datangnya dari Allah, dan tugasnya hanyalah sebagai penyampai ajaran. Maka beliau tak henti-hentinya menyampaikan ajaran Islam kasih sayang dengan mencontohkan akhlak dan nasehat yang terpuji meskipun mendapat banyak penolakan.

Begitulah langkah dakwah Islam yang dilakukan oleh Rasul kita. Tidak ada paksaan dalam beragama (Laa ikhraha fiddin). Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan serta mudah sekali memaafkan ketika orang lain berbuat kesalahan. Karena dengan begitu, orang yang didakwahi akan rela masuk agama Islam dengan penuh rasa keimanan bukan penuh paksaan.

Islam akan ditinggalkan ketika hinaan serta ujaran kebencian menjadi landasan penyampaian ajaran. Tidak akan ada perkembangan, malahan akan semakin memperkeruh jalan dakwah karena menimbulkan banyak kerusuhan dan pertengkaran.

Baca Juga:  Makan Keong Menurut Ulama, Bagaimana Hukumnya??

Oleh karena itu, budaya tutur kata sopan serta tingkah laku yang baik haruslah dikedepankan. Mengajak mereka dengan cara yang baik dan menyanggah ajaran yang berseberangan dengan cara yang baik pula.

Jika menemukan ritus ajaran yang bertentangan dengan Islam, kita tidak perlu sibuk menghina dan mencelanya. Cukuplah untuk menghormatinya dan mengingatkannya ketika ajarannya membahayakan negara. Karena dengan begitu kita telah mendakwahinya dengan tingkah laku yang mulia.  

Muhammad Nur Faizi