Dakwah Kiai NU dan Ekonomi Kerakyatan

Dakwah Kiai NU dan Ekonomi Kerakyatan

Pecihitam.org – Ada “gosip” bahwa dakwah Muhammadiyah lebih konsen dan diterima di perkotaan, sebaliknya, NU lebih fokus di perkampungan. Tidak sederhana memang. Untuk benar-benar menilai valid tidaknya “gosip” itu perlu penelitian multiaspek.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Namun sebagai bagian dari masyarakat kampung, saya cenderung meng-iya-kan. Dakwah Kiai NU, khususnya, lebih banyak dijumpai di perkampungan. Dari panggung ke panggung.

Boleh jadi sebabnya adalah di NU banyak tradisi keagamaan seperti tahlilan, yasinan, maulidan, marhabanan, haul-an, dan lain sebagainya. Tentu saja ini tidak dilakukan warga persyarikatan Muhammadiyah. Muhammadiyah memiliki hujjah berbeda menyoal ini.

Beberapa tradisi keagamaan di atas kerap dihelat secara meriah atas inisiatif gotong-royong masyarakat. Khususnya acara maulidan dan haul-an.

Di dua tradisi terakhir barang tentu puncak acara diisi dengan ceramah agama, seperti biasanya. Masyarakat sebagai pelaksana bakal mencari penceramah kondang yang memang digemari.

Pada sisi inilah penting ditilik bahwa di balik tradisi keagamaan itu ada ceruk basah sebagai ladang perekonomian rakyat. Suatu ekonomi kerakyatan. Dimana transaksi komoditas dilakukan oleh dan untuk rakyat secara langsung. Tanpa melalui suatu intitusi perusahaan besar.

Baca Juga:  Peran Santri dalam Mewujudkan Perdamaian Dunia

Seorang penceramah kondang semisal Gus Muwaffiq atau Gus Baha bakal menyedot perhatian publik walaupun digelar di pelosok kampung. Orang bakal berduyun-duyun untuk duduk dan menyimak utai kalam agama dari al-‘alim para beliau.

Tentu, yang datang bukan cuma pemburu siraman rohani, ada banyak rakyat pedagang di situ. Mereka mengais rezeki untuk perut keluarga dari semaraknya tradisi keagamaan tersebut.

Ini pula pernah disinggung oleh Ketua Forum Ulama Sufi Dunia, Abah Habib Luthfi bin Yahya. Saat bertausiah pada haul Sunan Ampel beberapa tahu silam, Abah Habib Luthfi menyatakan bahwa walaupun jasad para wali telah tiada, tapi mereka masih bisa memberi makan kepada rakyat.

Sebagaimana kita tahu, masyarakat Nahdliyin paling getol berziarah ke makam para wali. Khususnya walisongo. Entah, tidak bisa dihitung dengan jari jumlah peziarah setiap harinya. Di sekitaran pusara para Kekasih Allah itu banyak para pedagang.

Siapa mereka? Mereka bukanlah pemilik tambang batu bara, pula bukan big boss suatu perusahaan besar. Mereka adalah rakyat biasa yang mengais rezeki dengan cara berdagang secara konvensional.

Baca Juga:  Kritik atas Politisasi Islam; Model Pemikiran Politik yang Ketinggalan Zaman

Tak berlebihan jika dikatakan bahwa di balik tradisi kegamaan warga NU, ada moda ekonomi kerakyatan di situ. Di era serba online sekarang ini, aktivitas ekonomi darat semisal itu sangat rentan dilindas zaman.

Keberlanjutan tradisi keagamaan semacam maulidan dan haul-an sangat membantu terus lestarinya ekonomi kerakyatan. Dimana antara penjual dan pembeli tidak melalui “relasi ekonomi” yang melibatkan perusahaan besar semisal transaksi di go-food.

Dakwah Kiai NU dari panggung ke panggung amat menunjang ekosistim perekonomian di “bawah”. Bahkan, bisa sangat mungkin perputaran nominal uang di antara penjual dan pembeli lebih dari “ampol” yang diterima para penceramah.

Oleh sebab itu, tradisi keagamaan yang telah mendarah daging di tubuh warga NU ini sepatutnya tetap dijaga. Selain alasan religiusitas dan kebudayaan, alasan untuk “menyelamatkan” ekonomi kerakyatan juga tampak bisa dibenarkan.

Kita tahu, saat ini menjamur amat banyak transaksi ekonomi dilakukan secara online. Ini pula disebabkan merindangnya para penjual komoditas online. Memanfaatkan sosial media, penjual online ini gencar mempromosikan komoditasnya.

Baca Juga:  Nyai Sinta Nuriyah, Tim Volli Putri Iran dan Polemik Kultur Jilbab

Memang, ini gejala baik. Dengan ini banyak bermunculan pelaku usaha ekonomi swasta dan mandiri. Minimalnya bisa mengimbangi mental pekerja di negeri ini.

Namun, abai terhadap pelaku usaha yang memanfaatkan tradisi keagamaan, juga agaknya tidak baik.

Oleh karenanya, eksistensi Kiai NU dari panggung ke panggung, dari kampung ke kampung, insya Allah menjadi salah satu faktor tetap eksisnya pelaku ekonomi di ranah “ekonomi kerakyatan”.

Wallahul muwaffiq.

Mutho AW