Dari Islam Ritual Hingga Islam Emosional

Dari Islam Ritual Hingga Islam Emosional

Pecihitam.org – Banyak orang yang mengaku bahwa dirinya Islam tapi tidak seluruh aspek dalam hidupnya benar-benar mencerminkan keislaman. Tidak cuma orang lain, banyak dari kita yang juga berperilaku demikian. Ngakunya muslim tapi ya gak muslim-muslim amat.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Ya, begitulah realita hidup. Kalau sudah seperti itu, maka alasan klasik yang paling masuk akal dan masih relevan sampai sekarang adalah: ya wajar lah, al-insanu mahallul khoto’ wan nisyan. Manusia kan tidak bisa luput dari salah dan lupa!? Ok baik, alasan yang sangat islami untuk sebuah kelalaian akan ajaran Islam.

Kita tahu bahwa ajaran Islam sangatlah lengkap dan kompleks. Hampir dalam semua hal, Islam mengatur kehidupan manusia dari sejak bangun tidur sampai tidur kembali. Tapi bagaimanapun, kembali ke pembahasan awal, bahwa untuk mengamalkan Islam secara sempurna dalam setiap lini kehidupan memang tidaklah mudah. Sebab begitu lengkap dan kompleksnya ajaran Islam yang mencakup hampir semua aspek kehidupan ini, sedikit orang yang benar-benar “berislam” luar dan dalam. “Berislam” sejak dari pikiran, hati, sampai perbuatan.

Mentok mungkin kita hanya bisa menerapkan ajaran Islam dalam beberapa dimensi saja. Dimensi yang lain masih belum bisa. Bahkan ketika satu dimensi sudah lumayan mulai bisa diamalkan, eh malah ada dimensi lain yang makin memudar seiring dengan semakin menguatnya dimensi lain. Begitulah kita yang manusia ini.

Dengan kenyataan yang seperti inilah juga, maka kita diajarkan untuk tidak dengan mudah menilai orang lain hanya dari satu sisi saja. Terkadang ada orang yang berpakaian islami, tapi nyatanya dia suka memaki orang. Ada yang solatnya rajin tapi malah doyan gibah. Ada pula yang ucapannya luar biasa menyejukkan hati, tapi ternyata dia jarang sholat. Dengan ini pula kita dianjurkan untuk tidak merasa paling suci dan paling benar. Ya, kita cuman berbeda jalan dalam memilih dosa.

Baca Juga:  Wajah Terkini Arab Saudi dan Intrik Politik Keluarga Kerajaan

Tidak ada manusia yang sempurna meski memang manusialah makhluk yang paling sempurna secara fisik di antara makhluk yang lain. Pastilah ada sisi kekurangan di balik kesempurnaannya itu. Terutama dalam hal pelaksanaan dan pengamalan agama. Ada sisi-sisi yang menonjol dan ada pula beberapa sisi yang tidak.

Seperti yang kita tahu, bahwa agama Islam sebagai sebuah ajaran terbagi dalam beberapa aspek atau dimensi. Ada yang menyebutkan bahwa Islam itu terbagi atas dimensi ibadah dan mu’amalah. Di mana dimensi ibadah adalah segala hal yang berhubungan dengan relasi kita pada Yang Maha Kuasa melalui ritual-ritual yang telah ditentukan. Sementara dimensi mu’amalah adalah segala aturan yang memandu jalannya relasi kita dengan sesama makhluk tuhan, terutama sesama manusia. Singkatnya, ada dimensi ritual dan dimenai sosial.

Selain dua dimensi itu, beberapa ahli ada yang membaginya menjadi tiga dimensi antara ritual, sosial, dan spiritual. Ada pula yang membaginya menjadi lima dimensi dan beberapa pendapat lainnya. Tapi sejauh yang bisa kita pikirkan, bahwa dimensi Islam sebagai sebuah ajaran itu ada lima. Yakni antara dimensi ritual, spiritual, intelektual, emosional, dan dimensi sosial.

Dari pembagian dimensi-dimensi itulah juga kita bisa melihat karakter muslim macam apa dan dari golongan mana seseorang itu ditinjau dari dimensi keberagamaan yang paling menonjol dalam kehidupannya.

Pertama, karakter Islam ritual. Dimensi ini adalah segala hal yang mencakup ritus-ritus atau teknik peribadatan dalam Islam yang sudah diatur sedemikian rupa dalam Qur’an dan hadis.

Ada orang yang memang dalam hal ini sangat dan begitu amat menonjol. Dia rajin sholat tidak hanya yang wajib bahkan pula lengkap dengan yang sunnah. Demikian juga dia rajin mengerjakan puasa-puasa sunnah. Maka orang yang model ini, dapat kita golongkan ke dalam kelompok Islam ritual. Sebab dimensi ritualnya yang teramat menonjol.

Baca Juga:  Otoritas Keulamaan di Media Sosial, Siapakah yang Pantas Diikuti?

Kedua, karakter Islam spiritual. Ada orang yang rajin beribadah tapi hanya karena mengikuti apa yang diwajibkan dan dikatakan dalam agama. Alasan dia beribadah adalah karena diperintah. Ibadah baginya adalah formalitas keagamaan. Namun dia tidak sampai bisa memahami hikmah-hikmah yang terkandung dalam setiap ibadah yang sudah disyari’atkan. Dia pun belum sepenuhnya mengalami pengalaman-pengalaman batiniyah sepanjang ibadah-ibadah yang sudah dia lakukan.

Tapi ada juga orang yang menjadikan ritual peribadatan itu sebagai sebuah kebutuhan yang bisa memuaskan batinnya. Ada peristiwa-peristiwa batin tersendiri yang dialami ketika melaksanakan ibadah. Entah seperti apapun itu bentuknya.

Orang-orang seperti inilah yang disebut sebagai Islam spiritual. Karena Islam baginya adalah jalan spiritual yang sudah ia pilih. Dapat dikatan pula bahwa Islam spiritual adalah tingkat lanjutan dari islam ritual. Sebab pengalaman spiritual tanpa sebuah ritual itu sulit dipercaya.

Ketiga, karakter Islam intelektual. Selain perkara ibadah, Islam juga banyak mengandung unsur-unsur ilmu pengetahuan. Banyak ilmu-ilmu yang lahir dari rahim Islam baik dari literatur dasar ajarannya sendiri ataupun dari para pemeluk-pemeluknya. Ada orang yang sangat menonjol dan pintar akan pengetahuan-pengetahuan keagamaan. Maka karakter dan golongan orang itu bisa disebut sebagai Islam intelektual.

Namun, tak jarang pula orang-orang macam ini pintar dan mumpuni sekali akan pengetahuan agamanya tapi malah minim dalam hal pengamalan. Bahkan tak jarang pula ada yang sampai mengentengkan hal-hal yang diwajibkan oleh agama. Ya, itu namanya Islam intelektual garis miring.

Keempat, karakter Islam sosial. Selain sebagai sebuah ajaran, Islam juga merupakan sebuah identitas sosial. Apakah identitas sosial seseorang sudah islami atau belum, itulah yang ditentukan dalam karakter Islam sosial. Yah, termasuk dalam hal ini juga adalah identitas tanda pengenal. Bila ada orang yang hanya menonjol dalam bidang ini tapi tidak dengan dimensi lainnya, maka dia adalah salah satu perwujudan dari karakter Islam sosial.

Baca Juga:  Pendiri Wahabi, Muhammad bin Abdul Wahab Mengkafirkan Para Ulama

KTPnya Islam, kalau ketemu orang mengucapkan salam, busananya pun berbau-bau Islam, dia pun ikut organisasi keislaman tapi malah sering kali tidak melaksanakan ajaran-ajaran Islam yang lain. Ya, itulah perwujudan Islam sosial atau biasa disebut dengan Islam KTP. Islam hanya sebagai identitas sosial saja.

Kelima, Islam emosional. Islam juga mengajarkan bagaimana mengolah emosi terhadap sesuatu. Selama itu baik, emosionallah sewajarnya. Melihat ketimpangan, boleh emosional. Melihat kemiskinan, boleh emosional. Namun yang seringkali muncul adalah emosi-emosi seperti suka baper dalam beragama, suka tersinggung, dan suka marah-marah kalau ada hal yang tidak sesuai dengan agama Islam.

Orang-orang macam ini, yang hanya menonjolkan emosionalitas dalam beragama tanpa diimbangi dengan karakter dari dimensi-dimensi lain semisal intelektualitas dan spiritualitas, maka besar kemungkinan hanya akan jadi fanatik buta. Memeluk Islam dengan cara membabi buta tanpa tahu banyak tentang keislaman. Inilah golongan Islam emosional yang patut diwaspadai.

Demikiankah lima karakter beragama orang-orang Islam sejauh yang bisa dilihat dari pengalaman sehari-hari. Ada orang yang hanya memiliki karakter satu sebab memang hanya ada satu dimensi saja yang menonjol pada dirinya. Ada pula yang memiliki karakter keislaman lebih dari satu sebab ada dua atau lebih dimensi keberagamaan yang sama-sama menonjol.

Karakter-karakter itu pun bisa dijadikan sebagai kriteria apakah seorang muslim itu masuk golongan yang mana. Apakah golongan Islam ritual, Islam spiritual, Islam intelektual, Islam sosial, atau bahkan masuk golongan Islam emosional. Seperti halnya penggolongan Islam liberal, Islam fundamental, dan lain sebagainya.

Jadi, masuk golongan yang mana anda?

M. Fakhruddin Al-Razi
Latest posts by M. Fakhruddin Al-Razi (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *