Doa untuk Orang Meninggal; Berikut Lafadz-Lafadz Doa dan Manfaatnya dalam Al-Quran

Doa untuk Orang Meninggal; Berikut Lafadz-Lafadz Doa dan Manfaatnya dalam Al-Quran

PeciHitam.org – Orang hidup pasti meninggal. Kiranya itu salah satu kepastian yang ada didunia selian yang dua, rezeki dan jodoh. Orang yang masih hidup dapat beramal atau berbuat sesuai dengan tingkat keilmuan masing-masing. Karena memang orang yang masih hidup masih mempunyai kuasa untuk berbuat atau minimal berikhtiar dalam kebaikan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Akan tetapi setelah orang menghembuskan nafas terakhir, mereka masih bisa mendapat sebuah pahala yang berasal dari doa orang-orang hidup yakni Doa untuk Orang Meninggal. Berikut argumentasinya!

Doa-Doa untuk Orang Meninggal

Meninggal adalah sebuah kepastian, entah kapan dan dimana tempatnya tidak ada yang mengetahui. Jika seorang Muslim meninggal, maka orang yang masih hidup berkewajiban untuk mengurus orang yang sudah meninggal.

Kewajiban itu berbentuk memandikan Jenazah, mengkafani, menshalati dan menguburkan dengan sebaik-baiknya. Ini bentuk solidaritas seorang muslim kepada muslim lain bahkan sampai meninggal dunia. Sampai-sampai dalam Islam kewajiban tersebut masuk dalam hukum fiqh yaitu fardlu Kifayah.

Fardlu Kifayah adalah sebuah kewajiban yang dapat diwakilkan, akan tetapi harus dilakukan oleh sebagian orang Islam. Jika tidak ada yang mewakili, orang Islam mendapat dosa semua.

Untuk doa orang meninggal bisa dibacakan dalam keadaan shalat atau diiluar shalat. Doa dalam Shalat jenazah bisa secara langsung (hadlir) atau tidak langsung (ghaib). Doa untuk orang meninggal adalah sebagai berikut;

Doa Saat Mendengar Orang Meninggal

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَلَهُ وَأَعْقِبْنِي مِنْهُ عُقْبَى حَسَنَةً

Transliterasi; “Allahumma Ighfirlii  wa lahu wa’qibni minhu ‘uqba hasanah

Artinya :“Ya Allah, ampunilah diriku dan dia serta berikan kepadaku darinya pengganti yang lebih baik”

Doa untuk Orang Meninggal

اَللهُمَّ اغْفِرْلَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَاَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرْدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلاَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وَاَبْدِلْهُ دَارًاخَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَاَهْلاً خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَاَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَاَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ

Transliterasi; “Allaahummaghfirlahu warhamhu wa’aafihii wa’fu anhu wa akrim nuzu lahu wa wassi’ madkhalahu waghsilhu bilmaai wats-tsalji walbaradi wanaqqihi minal khathaayaa kamaa yunaqqats tsaubul abyadhu minaddanasi wa abdilhu daaran khairan min daarihi wa ahlan khairan min ahlihi wazaujan khairan min zaajihi wa adkhilhuljannata wa ‘aidzhu min ‘adzaabilqabri wafitnatihi wamin ‘adzaabinnaari”

Artinya : “Ya Allah, ampunilah dan rahmatilah, bebaskanlah dan lepaskanlah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskan lah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskan lah jalan masuknya, cucilah dia dengan air yang jernih lagi sejuk, dan bersihkanlah dia dari segala kesalahan bagaikan baju putih yang bersih dari kotoran, dan gantilan rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada yang ditinggalkannya, dan keluarga yang lebih baik, dari yang ditinggalkan, serta suami atau istri yang lebih baik dari yang ditinggalkannya pula. Masukkanlah dia kedalam surga, dan lindungilah dia dari siksa kubur serta fitnah nya, dan dari siksa api neraka”

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيْرَنَا وَكَبِيْرَنَا وَذَكَرِنَا وَاُنْثَانَا

Baca Juga:  5 Variasi Bacaan Doa Iftitah Ini Jarang Digunakan Nahdliyyin

Transliterasi; “Allaahummaghfir lihayyinaa wamayyitinaa wasyaahidinaa waghaaibinaa washaghiiranaa wakabiiranaa wadzakarinaa wauntsaana”

Artinya; “Ya Allah, berikanlah ampun, kami yang masih hidup dan kami yang telah meninggal dunia, kami yang hadir, kami yang ghoib, kami yang kecil-kecil kami yang dewasa, kami yang laki – laki maupun perempuan”

اَللهُمَّ مَنْ اَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَاَحْيِهِ عَلَى اْلاِسْلاَمِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى اْلاِيْمَانِ

Transliterasi; “Allaahumma man ahyaitahu minnaa fa ahyihi ‘alal islaami waman tawaffaitahu minnaa fatawaffahu ‘alal iimaani

Artinya; “Ya Allah, siapapun yang Engkau hidupkan dari kami, maka hidupkanlah dalam keadaan iman”

اَللهُمَّ لاَتَحْرِمْنَا اَجْرَهُ وَلاَتُضِلَّنَا بَعْدَهُ بِرَحْمَتِكَ يَآاَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Transliterasi; “Allaahumma laa tahrimnaa ajrahu walaa tudhillanaa ba’dahu birahmatika yaa arhamar raahimiina. Walhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin”

Artinya; “Ya Allah janganlah Engkau menghalangi kami, akan pahala beramal kepadanya dan janganlah Engkau menyesatkan kami sepeninggal dia dengan mendapat rahmat-Mu wahai Allah yang lebih belas kasihan. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam

Doa di atas adalah untuk orang meninggal laki-laki. Jika untuk perempuan, setiap ada dlomir (kata ganti) dalam bahasa Arab (هُ) maka diganti menjadi (هَا). Seperti (اغْفِرْلَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ) untuk laki-laki, dan (اغْفِرْلَهَا وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا) untuk perempuan.

Doa untuk Orang Meninggal dalam Al-Quran

Doa untuk orang meninggal juga dituturkan dalam Al-Qur’an. Sebagaimana dalam beberapa ayat berikut;

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ

Transliterasi; “Rabbigh firlii waliwaalidayya”

Artinya : “Ya Allah, ampunilah aku dan ibu bapakku” (Qs. Nuh: 28)

وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Transliterasi; “Waqurrabbirhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiira”

Artinya : “Dan ucapkanlah : “Ya Allah, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua yang mengasihikua di waktu aku kecil” (Qs. Al-Isra : 24)

3 Amalan yang Masih Mengalir Saat Meninggal

Hadits yang sangat terkenal dikalangan umat Islam Nusantara. Keterkenalannya karena sering menjadi Argumentasi golongan yang menolak dan berpendapat tidak sampainya pahala doa kepada orang meninggal. Hadits dengan redaksi berbunyi;

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ (رواه مسلم

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim)

Hadits di atas menjelaskan 3 jenis pahala yang tidak terrputus, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan dan do’a anak yang sholeh. Tidak ada perdebatan bahwa 3 pahala tersebut akan terus mengalir kepada orang yang meninggal.

Baca Juga:  Doa Kepada Orang yang Sudah Meninggal Apakah Sampai?

Sampainya Pahala dari Doa-Doa Orang yang Masih Hidup

Redaksi hadits menjelaskan bahwa ‘Amal akan terputus (انْقَطَعَ عَمَلُهُ) harus dipahami bahwa ‘Amal (perbuatan) seseorang yang hidup pasti semuanya akan terputus. Artinya adalah orang yang meninggal pasti tidak dapat beramal lagi, wong sudah meninggal.

Tidak akan ada perdebatan terkait orang yang sudah meninggal akan bisa ber’amal/ berbuat apapun. Akan tetapi jika orang hidup beramal dan dinisbatkan dan dihadiahkan kepada orang meninggal tidak masuk dalam kategori hadits di atas.

Sebagai contoh, kita melakukan shalat Jenazah baik hadlir/ langsung ataupun ghaib (jenazah tidak di tempat kita) maka tidak pernah ada penyangkalan doa kita tidak sampai pada mayyit. Padahal shalat jenazah merupakan perbuatan ‘amal orang hidup untuk mendoakan orang mati. Dan mujma’ alaih meyakini bahwa doa kita dalam shalat tersebut sampai kepada mayat.

Doa dan Istighfar adalah hadiah paling layak kepada orang-orang yang telah meninggal dunia. Karena itu kemudian dikatakan bahwa hadiah orang hidup kepada yang meninggal dunia adalah doa dan permohonan ampunan. Imam Nawawi Al-Bantani mejelaskan dalam Kitab Nihayatuz Zain bahwa;

هَدَايَا الْأَحْيَاءِ لِلْأَمْوَاتِ الدُّعَاءُ وَالْإِسْتِغْفَارُ

“Hadiah orang-orang yang masih hidup kepada orang-orang yang telah meninggal dunia adalah doa dan memintakan ampunan kepada Allah (istighfar) kepada mereka,”

Imam Nawawi Al-Bantani Al-Jawi menambahkan bahwa dalam kubur, seorang mayat akan sangat mengharapkan doa dari orang-orang hidup;

 عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ مَا الْمَيِّتُ فِي قَبْرِهِ إِلَّا كَالْغَريقِ الْمُغَوَّثِ أَيْ الطَّالِبِ لِأَنْ يُغَاثَ يَنْتَظِرُ دَعْوَةً تَلْحُقُهُ مِنِ ابْنِهِ أَوْ أَخِيهِ أَوْ صَدِيقٍ لَهُ فَإِذَا لَحِقَتْهُ كَانَتْ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Dari Nabi SAW, beliau bersabda, ‘Tidak ada mayit yang berada dalam kuburnya kecuali ia seperti orang tenggelam yang meminta pertolongan yaitu orang yang meminta pertolongan—ia menunggu setetes doa yang yang dikirimkan anaknya, saudara, atau temannya. Karenanya ketika ia mendapatkan doa, maka hal itu lebih ia sukai dibanding dunia dengan seluruh isinya”

Argumentasi Imam Nawawi mendasar dari ayat  yang difirmankan Allah SWT dalam Surat Al-Hasyr ayat 10 sebagai berikut;

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (١٠

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Hasyr: 10)

Ayat di atas mengandung kata (رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ) yang menandakan bahwa jika seseorang berdoa untuk orang lain yang sudah meninggal tidak ada keraguan bahwa doa tersebut sampai kepadanya. Oleh karenanya, Hadits di awal berkonteks pada orang mati tidak akan mungkin beramal dan berbuat. Akan tetapi jika ada orang hidup mendoakan dan menghadiahkan, memohonkan ampun bagi mereka maka sampailah pahala kepadanya.

Baca Juga:  Berikut Doa Masuk Masjid di Hari Jumat, Jangan Lupa Dibaca!

Manfaat Doa untuk Orang Meninggal

Selain sebagai kewajiban bagi seorang muslim kepada Muslim lainnya yang telah meninggal, mendoaka orang meninggal juga mempunyai beberapa manfaat. Hal ini disebutkan Allah SWT dalam ayat-ayatNya;

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِن تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالأقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ

Artinya : “Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan atau tanda maut. Jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf (baik). Ini adalah kewajiban atas orang-orang yang bertakwa” (Qs. Al-Baqarah : 180)

Selain ayat di atas, SWT juga berfirman di dalam ayat lain,

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Artinya : “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu dan bapakmu dengan sebaik- baiknya.” (Qs. Al-Isra: 23)

Kedua ayat di atas ditegaskan dalam Hadits Riwayat Dailami yang menyatakan perkataan Rasulullah SAW tentang keadaan orang meninggal;

Rasulullah SAW bersabda : “Seorang mayat dalam kuburnya seperti orang tenggelam yang sedang meminta pertolongan. Dia menanti- nantikan doa ayah, ibu, anak, dan kawan yang ia percaya. Apabila doa itu telah sampai kepadanya, itu lebih ia sukai daripada dunia seisinya. Dan sesungguhnya Allah SWT menyampaikan doa penghuni dunia untuk ahli kubur sebesar gunung. Adapun hadiah orang-orang yang masih hidup kepada orang-orang yang sudah meninggal ialah memohon istighfar kepada Allah SWT untuk mereka dan bersedekah atas nama mereka.” (HR. Ad-Dailami)

Jelaslah bahwa sebuah doa tidak ada yang sia-sia. Doa akan tersampaikan kepada orang yang sudah meninggal ketika kita menghadiahkan kepada mereka. Doa kita sangat bermanfaat bagi mereka sebagai pelipur lara dan orang yang meninggal sangat menyukai hal demikian.

Ash-Shawabu Minallah.

Mochamad Ari Irawan