Bagaimana Hukumnya Menyatukan Dua Niat Puasa dalam Satu Hari?

Bagaimana Hukumnya Menyatukan Dua Niat Puasa dalam Satu Hari

Pecihitam.org – Di antara ibadah yang disyari’atkan Allah dan Rasulnya adalah puasa sunnah. Puasa sunnah sangat banyak macamnya, dari mulai puasa harian, mingguan, bulanan bahkan tahunan. Seperti puasa Senin-Kamis, puasa Arafah dan sebagainya. Terkadang waktu pelaksanaan satu puasa sunnah bertepatan dengan waktu puasa sunnah yang lain. Lantas bagaimana jika dua niat puasa dalam satu hari?

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sebagaimana diketahui bahwa bertepatannya satu waktu puasa sunnah dengan puasa sunnah yang lain adalah hal yang tidak asing, mungkin dan sangat sering terjadi.

Sehingga sayang untuk tidak dipuasai. Apakah kita harus memilih salah satu puasa sehingga berniat melakukan puasa tersebut ataukah bisa berniat dua-duanya?

Syekh Bujairimi dalam Hasyiyah al-Bujairimi miliknya juz 2 halaman 404 menjelaskannya sebagai berikut:

ﻗﺪ ﻳﻮﺟﺪ ﻟﻠﺼﻮﻡ ﺳﺒﺒﺎﻥ، ﻛﻮﻗﻮﻉ ﻋﺮﻓﺔ ﻭﻋﺎﺷﻮﺭاء ﻳﻮﻡ اﺛﻨﻴﻦ ﺃﻭ ﺧﻤﻴﺲ، ﻭﻛﻮﻗﻮﻋﻬﻤﺎ ﻓﻲ ﺳﺘﺔ ﺷﻮاﻝ ﻓﻴﺘﺄﻛﺪ ﺻﻮﻡ ﻣﺎ ﻟﻪ ﺳﺒﺒﺎﻥ ﺭﻋﺎﻳﺔ ﻟﻜﻞ ﻣﻨﻬﻤﺎ، ﻓﺈﻥ ﻧﻮاﻫﻤﺎ ﺣﺼﻼ ﻛﺎﻟﺼﺪﻗﺔ ﻋﻠﻰ اﻟﻘﺮﻳﺐ ﺻﺪﻗﺔ ﻭﺻﻠﺔ، ﻭﻛﺬا ﻟﻮ ﻧﻮﻯ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﻓﻴﻤﺎ ﻳﻈﻬﺮ.

Baca Juga:  Bagaimana Hukum Istinjak dengan Tisu Saja? Begini Cara Menghukuminya

Artinya: Dalam satu waktu terkadang bertepatan antara satu puasa dengan puasa yang lain. Seperti bertepatannya hari Arafah dengan hari Senin atau bertepatannya hari Asyura dengan hari Kamis. Atau juga hari Senin dan Kamis berada di dalam cakupan satu pekan di bulan Syawal. Dalam waktu-waktu seperti demikian, puasa dengan niat keduanya sangat dianjurkan. Oleh karenanya, jika seseorang berniat menyatukan dua puasa dalam satu waktu maka hasillah niat tersebut. Sebagaimana bersedekah terhadap terhadap kerabat dekat, maka baginya dua pahala, yaitu pahala sedekah dan pahala silaturahim.

Berdasarkan ketentuan ini, seseorang yang menyatukan/berniat dengan dua niat puasa sunnah dalam satu hari hukumnya sah. Bahkan ia mendapatkan dua jenis pahala, pahala puasa sunnah satu dengan pahala puasa sunnah lainnya.

Jika dua puasa sunnah boleh disatukan, apakah niat puasa wajib dan puasa sunnah juga boleh disatukan?

Dalam kitab I’anah juz 2 halaman 306, Syekh Bakri Syatha menuturkan sebagai berikut:

Baca Juga:  Hukum Google Adsense dalam Perspektif Fiqih Muamalah

ﺇﺫا ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﺻﻮﻡ ﻓﺮﺽ ﻗﻀﺎء ﺃﻭ ﻧﺬﺭ ﻭﺃﻭﻗﻌﻪ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ اﻷﻳﺎﻡ اﻟﻤﺘﺄﻛﺪ ﺻﻮﻣﻬﺎ: ﺣﺼﻞ ﻟﻪ اﻟﻔﺮﺽ اﻟﺬﻱ ﻋﻠﻴﻪ، ﻭﺣﺼﻞ ﻟﻪ ﺛﻮاﺏ ﺻﻮﻡ اﻷﻳﺎﻡ اﻟﻤﺴﻨﻮﻥ، ﻭﻇﺎﻫﺮ ﺇﻃﻼﻗﻪ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻓﺮﻕ ﻓﻲ ﺣﺼﻮﻝ اﻟﺜﻮاﺏ ﺑﻴﻦ ﺃﻥ ﻳﻨﻮﻳﻪ ﻣﻊ اﻟﻔﺮﺽ ﺃﻭ ﻻ، ﻭﻫﻮ ﻣﺨﺎﻟﻒ ﻟﻘﻮﻝ اﺑﻦ ﺣﺠﺮ اﻵﺗﻲ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺣﺼﻞ ﻟﻪ اﻟﺜﻮاﺏ ﺇﻻ ﺇﺫا ﻧﻮاﻩ، ﻭﺇﻻ ﺳﻘﻂ ﻋﻨﻪ اﻟﻄﻠﺐ ﻓﻘﻂ.

Artinya: Apabila pada suatu hari bertepatan antara mengqadha puasa Ramadhan atau nadzar berpuasa dengan hari/waktu yang disunanhkan berpuasa, maka jika ia menggabungkan niat puasa keduanya sah-sah saja, bahkan ia mendapat pahala kedua puasa tersebut. Tidak ada bedanya, baik dengan puasa wajib atau bukan. Hal ini bertentangan dengan pendapat Imam Ibnu Hajar, menurutnya tidak hasil pahala (kedua puasa tersebut) jika tidak diniatkan (salah satunya) dan yang hasil hanyalah pahala puasa yang diniatkan saja.

Selebihnya, Syekh Bakri juga menuturkan pendapat Imam Nawawi yang mengatakan tidaklah hasil penyatuan niat puasa wajib dan puasa sunnah. Hal ini diumpamakan pada shalat sunnah Zuhur dengan shalat fardhu Zuhur. Syekh Bakri juga menuturkan bahwa Imam Ibnu Hajar menyepakati pendapat Imam Asnawi:

Baca Juga:  Shalat Jumat Dua Gelombang Tidak Sah? Begini Penjelasan MUI

ﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻨﻮ اﻟﺘﻄﻮﻉ ﺣﺼﻞ ﻟﻪ اﻟﻔﺮﺽ، ﻭﺇﻥ ﻧﻮاﻫﻤﺎ ﻟﻢ ﻳﺤﺼﻞ ﻟﻪ ﺷﺊ ﻣﻨﻬﻤﺎ

Artinya: Apabila niatnya tidak dibarengi dengan niat puasa sunnah maka hasillah puasa fardhu tersebut. Namun apabila puasa fardhu dan sunnah tersebut niatnya disatukan, maka tidaklah hasil pahala keduanya.

Demikian pembahasan berniat dua niat puasa dalam satu hari, wallaahu a’lam bishshawaab.

Azis Arifin