Fatwa Abu Nawas Kepada Ahli Fiqih Tentang Jenazah

Fatwa Abu Nawas

Pecihitam.org – Kisah Abu Nawas yang cerdik namun bijaksana memang tak bosan-bosannya untuk dibaca. Selain penuh humor banyak terselip nasehat dan juga hikmah pula di baliknya. Seperti halnya kisah Abu Nawas yang menjawab fatwa fiqih berikut ini.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Alkisah, salah seorang ahli fiqih begitu resah akan perkara hukum yang sedang berkelut dalam benaknya. Hingga akhirnya keresahan sang faqih tadi mengarahkannya untuk menemui Abu Nawas.

Singkat cerita bertemulah sang faqih dengan Abu Nawas. Dan tanpa basa-basi sang faqih itu pun mengutarakan keresahan hatinya.

“Wahai Abu Nawas, aku membutuhkan pertolonganmu. Aku ingin engkau memberikan fatwa kepadaku perihal keresahan yang mengganjal pikiranku selama ini, dan semoga engkau mendapatkan balasan dari Allah atas kebaikanmu,” sang faqih berbasa-basi.

“Wahai sodaraku, keresahan apa yang kau hadapi. Katakan saja!” kata Abu Nawas.

“Wahai Abu Nawas, manakah yang lebih utama, berjalan di depan iring-iringan jenazah atau di belakangnya?” tanya si ahli fiqih tadi.

Baca Juga:  Kisah Dua Bapak Nabi Muhammad Saw yang Hampir Jadi Kurban Sembelihan

“Wahai sodaraku yang budiman, jangan terlalu serius dan resah hanya karena perihal urusan remeh temeh seperti ini,” jawab Abu Nawas.

“Lantas fatwa apa yang bisa kau beri padaku perihal perkara ini?” sergah sang ahli fiqih begitu penasaran.

Abu Nawas pun menjawab, “Berjalanlah sesukamu, mau di depan, belakang, kanan, kiri itu sama saja, asal jangan kau naiki keranda jenazahnya.”

Ahli fiqih yang tadinya menyimak dengan begitu serius uraian Abu Nawas, berubah menjadi tawa. Sang ahli fiqih itu pun pergi dengan rasa puas dan tertawa sepanjang perjalanan.

Dimana Tuhan Berada?

Masih seputar menjawab pertanyaan nyeleneh oleh Abu Nawas, kali tidak disangka ia harus menjawab pertanyan Baginda Harun Al Rasyid yang tidak biasa.

Dikisahkan suatu ketika Khalifah Harun Ar-Rasyid itu sedang gundah. Entah mengapa tiba-tiba dalam benaknya terpikir, Allah itu lagi di mana dan sedang apa?

Pertanyaan ini cukup sulit dijawab, namun karena kegundahan hatinya tidak terobati sang Khalifah akhirnya membuat sayembara. Bagi siapa yang bisa menjawab pertanyaan ini maka akan diberi hadiah.

Baca Juga:  Sosok Nasruddin Hoja, Sufi Jenaka Sepanjang Zaman

Namun semua ulama yang ada saat itu tidak berani menjawab. Bahkan ada yang berbisik jika Khalifah Harun Ar-Rasyid saat itu memang lagi jadzab (gila), masa tanya kok Allah sekarang lagi apa?

Akhirnya hanya Abu Nawas yang berani jawab setelah didatangkan. “Ya paduka yang Mulia, saya bisa jawab tapi ada syaratnya,” kata Abu Nawas kepada sang khalifah.

“Apa syaratnya?” tanya Khalifah Harun Ar-Rasyid. “Saya duduk di kursi singgasana Anda, dan Anda duduk di bawahnya,” jawab Abu Nawas.

Permintaan Abu Nawas hampir saja tidak disetujui, namun karena begitu penasaran, khalifah Harun al Rasyid akhirnya nurut begitu saja demi mendengarkan jawaban Abu Nawas atas pertanyaan pentingnya itu.

Setelah Abu Nawas duduk di singgasana dan Khalifah Harun Ar-Rasyid duduk di bawah, Abu Nawas pun lantas menjawab pertanyaan.

Baca Juga:  Kisah Ummu Kultsum Putri Rasulullah Saw Hingga Dinikahi Utsman bin Affan

“Saat ini Allah sedang mengangkat Abu Nawas jadi Raja dan Harun Ar-Rasyid jadi rakyat biasa,” kata Abu Nawas lantang.

Mendengar jawaban Abu Nawar, Baginda Harun al Rasyid merasa dongkol. Namun begitu ia tetap mengakui kehebatan Abu Nawas karena telah menjawab pertanyaannya. Akhirnya Abu Nawas pun mendapat hadiah dari Khalifah.

Dari kisah ini dapat kita ambil pelajaran tentang sebuah contoh jawaban dari pertanyaan yang sebetulnya kadang tidak butuh jawaban.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik