Fenomena Netizen Muslim yang “Beragama” Medsos

agama medsos

Pecihitam.org – Sebagai warganet tak jarang saya mendapati warganet lain gampang omong “goblok” atau ungkapan buruk lainnya. Saya lihat akun sosial medianya, ia tergolong warganet penikmat ceramah Islam. Di berandanya bejubal sebaran video ustadz-ustadz. Juga, ia kerap membuat tulisan atau nasihat-nasihat keagamaan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Tapi kok bisa ya seorang yang rajin mengaji tapi gampang omong kasar? Apakah ajaran Islam yang disampaikan ustadz medsos favoritnya itu tak berefek baik?

Kemajuan zaman memang memudahkan kita untuk mengakses apa saja. Segala ilmu pengetahuan amat mudah didapat. Tak perlu susah payah mengunjungi satu perpustakaan. Dengan sekali sentuh layar gawai, kita bisa mengakses kepustakaan.

Puspa ragam produk teknologi memudahkan kehidupan manusia. Tak terkecuali mempelajari Islam. Banyak sekali agamawan Islam menjajakan pengetahuan agamanya secara cuma-cuma di rimba raya internet. Tapi memang internet bermuka ganda. Ia bermanfaat sekaligus menjerumuskan.

Tak ada larangan sama sekali belajar Islam melalui internet. Tapi internet tak bisa dijadikan jaminan buat kematangan berislam seseorang. Belajar Islam secara ideal perlu guru mumpuni, dan harus tatap muka.

Baca Juga:  Dari Ceramah Gus Muwaffiq hingga Tantangan Beragama Saat Ini

Mengapa? Sebab Islam bukan sekadar teori yang mudah diomongkan lewat antarmuka gawai. Islam agama keadaban. Mempelajari Islam berarti juga belajar mereparasi adab atau akhlak. Dan itu tak bisa dilakukan cuma dengan belajar melalui internet.

Sangat simplifikatif jika dengan bermodal kuota sudah mendaku diri seorang yang paham Islam. Orang-orang semacam ini juga kerap saya jumpai di rimba raya internet. Di jejaring media sosial facebook misalnya. Acap kali saya adu argumen dengan orang jenis ini atas satu ihwal keagamaan.

Jika saya bermodal pengalaman mesantren, maka ia modal kopas dalil. Dari satu laman situs web dipindahkan ke kolom komentar. Bagi saya dialog tersebut jomplang. Tapi ia tetap ngotot dengan asas hujjahnya. Seolah-olah merasa telah paham apa itu hakikat Islam. Saya mundur teratur, menyudahi dialog.

Jujur, bagi saya belajar Islam itu tidak mudah. Sangat sulit. Teks Islam tak bisa didekati secara telanjang tanpa piranti metodologis. Di sinilah pentingnya seorang guru yang secara intens mendidik kita untuk mudah memahami teks-teks Islam. Guru yang paham apa itu nahwu dan sharaf. Guru yang hafal dan fasih menjelaskan ushul fikih, ilmu mantiq, balaghah, bayan, dan perangkat metodologis lainnya.

Baca Juga:  Tiga Hal Ini yang Menyebabkan Orang Menjadi Radikal

Mengapa? Sebab teks quran dan hadits itu mengandung text sastra yang sangat tinggi sehingga sulit bagi kita yang cetek ilmunya untuk secara serampangan memahami teks-teks Islam itu. Naasnya keislaman kita, ada sosok yang kadung dianggap ustadz sama sekali tak bisa membedakan antara kafir dan kuffar. Ini salah satu contoh betapa teks Islam tak bisa didekati dengan nihil ilmu. Bahaya! Fatal!

Ada banyak, mungkin ribuan ustadz medsos. Tapi, berapa banyak yang benar-benar mumpuni?

Sebetulnya jika kita benar-benar ingin mendalami Islam, Indonesia telah menyediakan itu. Lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, pondok pesantren, tersebar di tlatah Nusantara ini. Kapasitas keilmuan dan integritas kiai pesantren tentu jauh lebih mumpuni dibanding ustadz medsos yang tak punya pesantren. Sudah saatnya kita kembali meneladani jejak orang tua dahulu. Menjadikan Pesantren sebagai poros keilmuan Islam.

Saya tidak hendak mengatakan bahwa belajar Islam melalui internet itu buruk. Tidak. Tapi alangkah lebih baiknya jika memang berniat mendalami Islam, kita belajar ke ulama-ulama pesantren. Yang istiqamah tafaqquh fi ad-diin. Kepada kiai-kiai ahli tarekat. Kepada para begawan pesantren yang zuhud, yang telah diakui orang banyak sebagai ulama kharismatik. Yang perilakunya jauh dari kebencian dan ucapannya meneduhkan hati.

Baca Juga:  Hoaks, 78 Tentara Korea Utara Masuk Islam

Saya tidak bisa membayangkan bila tak ada kiai-kiai pesantren, bakal seperti apa nasib Islam di Indonesia. Mungkin Islam bakal jadi agama medsos, wajah Islamnya hanya sekedar nampak pada Feed Media Sosialnya, namun tidak berdampak pada keshalihan sosial yang nyata. Naudzu Billah!

Wallahul muwaffiq.

Mutho AW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *