Filosofi dan Makna di Balik Kontruksi Masjid Agung Demak

masjid agung demak

Pecihitam.org – Islam masuk di pulau Jawa sudah sejak abad ke-8. Namun dalam perkembangnya, ajaran agama Islam di Jawa dimulai sejak munculnya kerajaan Demak. Kerajaan Demak yang berdiri sejak abad ke-15 yang dipimpin oleh putra Prabu Brawijaya V yaitu yang bernama Raden Fatah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kerajaan Islam pesisir ini bertahan sekitar 1470-1552 atau kurang dari 90 tahun, kemudian berpindah menjadi kerajaan Islam pedalaman di bawah Keraton Pajang dengan Sultan Hadiwijaya (Raden Joko Tingkir).

Sebagai kerajaan Islam terbesar di pulau Jawa, Kerajaan Demak sangat berperan besar dalam proses Islamisasi pada masa itu. Kerajaan Demak berkembang sebagai  pusat perdagangan dan sebagai pusat penyebaran agama Islam.

Wilayah kekuasaan Demak meliputi Jepara, Tuban, Sedayu Palembang, Jambi dan beberapa daerah di Kalimantan. Di samping itu, Kerajaan Demak  juga memiliki pelabuhan-pelabuhan penting seperti Jepara, Tuban, Sedayu, Jaratan dan Gresik yang berkembang menjadi pelabuhan transito (penghubung).

Berdirinya kerajaan Demak dimulai ketika pembangunan sebuah Masjid yang menjadi pusat beribadah umat Islam yang saat ini biasa kita sebut Masjid Agung Demak. Saat ini, Masjid Agung Demak bukan hanya sekedar peninggalan sejarah kerajaan Demak saja, namun melainkan sekarang menjadi  pusat perhatian umat Islam dan dianggap sebagai masjid suci dan tempat ziarah.

Baca Juga:  Misteri Makam Salman Al-Farisi yang Ada di Dua Tempat Berbeda

Kota Demak saat ini menjadi kota wali. Hal tersebut dapat kita lihat peninggalan dari jejak-jejak para walisongo di Demak. Seperti tradisi nyekar pada prosesi ziarah di Makam dan Grebeg Besar. Selain tradisi peninggalan yang paling kelihatan ketika kita ziarah ke Makam Raden Fatah adalah kontruksi bangunan Masjid yang disusun oleh para walisongo.

Kontruksi bangunan yang bercorak Hindu dan Budha menjadi ciri khas dan bukti nyata bahwa pembangunan Masjid Agung Demak mempunyai makna yang sangat dalam. Masing-masing kontruksi bangunan yang tersusun di dalam Masjid Agung Demak ternyata memilki makna tersendiri. Seperti Serambi Masjid, Bangunan atap Masjid, Gapura Masjid, pintu dan cendela masjid.

Atap Masjid Agung Demak berbentuk mirip candi. Sebagaimana atapnya bersusun-susun atau-atap seperti tumpeng nasi atau bentuk kerucut. Tersusun menjadi tiga bagian, bagian bawah, tengah dan atas. Setiap bagian-bagian mempunyai arti masing-masing seperti bagian bawah yang bermakna Iman, dan atap kedua mempunyai makna Islam dan yang paling atas bermakna Ihsan.

Atap tersebut berbentuk krucut dan semakin ke atas maka semakin kecil. Artinya kosep dasar dalam ajaran Islam yaitu dimulai dari keyakinan terlebih dahulu, ( Rukun Iman ), kemudian menjalankan syariat-syariat agama ( Rukun Islam ), dan yang terakhir Ihsan ( Beribadah seakan-akan di lihat oleh Allah swt ).

Baca Juga:  Cara Syahadat Orang Bisu, Benarkah Syahadat Bisa Dilakukan Hanya dengan Isyarat Saja?

Serambi Masjid Agung Demak merupakan kenangan bersejarah dengan delapan tiang atau saka guru yang merupakan pemberian dari ayah Raden Patah yaitu Raja Majapahit Prabu Kertabumi Brawijaya V. Hubungan antara ayah dan anak dalam konteks memberikan motivasi juga menjadi penting demi kelancaran dan kemajuan kerajaan Demak.

Gapura Masjid Agung Demak dibuat oleh Sunan Kalijogo dengan bentuk yang sedemikian rupa sebagai gerbang pintu masuk Masjid dengan motif bercorak kebudayaan Hindu-Budha dan bentuk kongkritnya mirip bentuk candi. Artinya alkulturasi budaya dan kontruksi bangunan menjadi salah satu faktor tentang dakwah cara yang halus.

Pintu dan jendela Masjid Agung Demak juga merupakan kontruksi dari Sunan Kalijogo, sebagai mana bentuknya merupakan corak kebudayaan Jawa asli (Hindu-Budha) yang jumlahnya disesuaikan dengan dasar-dasar Islam. Maksudnya jumlah pintu masuk lima itu mengandung makna bahwa setiap orang muslim akan selalu diingatkan atas kewajiban mengerjakan shalat lima waktu sehari semalam yaitu isya‘, shubuh, dluhur, ashar, maghrib.

Baca Juga:  Dialektika Aswaja dan Salafi Wahabi dalam Pengambilan Hukum

Di samping menjadi simbol waktu shalat, jumblah pintu yang ada di dalam Masjid Agung Demak juga melambangkan rukun Islam. Diantaranya 1) Membaca dua kalimat syahadat. 2) Menjalankan shalat lima waktu sehari semalam. 3) Mengeluarkan zakat. 4) Melaksanakan puasa ramadhan sebulan penuh. 5) Menjalankan ibadah haji ke baitullah bila mampu.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pembangunan Masjid Agung Demak ternyata tidak hanya sekedar dibangunan saja. Melainkan setiap bangunan masjid mempunyai makna-makna tersendiri. Makna-makna yang bercorak ibadah kepada Allah swt atau makna-makna yang menjadi bukti sejarah alkulturasi budaya dan agama yang kemudian menjadi sebuah bangunan seperti bangunan Masjid Agung Demak.

M. Dani Habibi, M. Ag