Firqoh Mu’tazilah dan Doktrin-doktrin Rasionalitas Mereka

Mu'tazilah

Pecihitam.org – Secara harfiah Mu’tazilah berasal dari kata i’tazala yang artinya berpisah atau memisahkan diri atau yang berarti juga menjauh atau menjauhkan diri. Secara teknis mu’tazilah menunjuk pada dua golongan yaitu:

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

  1. Golongan pertama muncul sebagai respon politik, yaitu bersifat lunak dalam menyikapi pertentangan antara Sayyidina Ali dan lawan-lawannya. Menurut Abdul Rozak golongan inilah yang pertama-tama disebut mu’tazilah karena mereka menjauhkan diri dari pertengkaran masalah Imamah.
  2. Golongan kedua, muncul sebagai respon persoalan teologis atau aqidah yang berkembang di kalangan khawarij dan Murji’ah tentang pemberian status kafir kepada orang yang berbuat dosa besar. Inilah yang akan dibahas kemudian.

Beberapa versi tentang aliran mu’tazilah yang kedua ini, merujuk pada peristiwa yang terjadi antara Washil bin Atha, Amr Bin Ubaid dan Hasan Al Bashri ketika itu di Basrah.

Ketika Washil mengikuti pengajaran yang diberikan oleh Hasan Al bashri tentang dosa besar. Washil mengemukakan pendapatnya dengan mengatakan: “Saya berpendapat bahwa orang yang berdosa besar bukan mukmin dan bukan pula kafir tetapi berada pada posisi diantara keduanya, tidak mukmin dan tidak kafir”. Kemudian Washil menjauhkan diri dari Hasan Basri dan pergi di tempat lain di lingkungan masjid.

Disana Washil mengulangi pendapatnya tentang definisi dosa besar yaitu di depan para pengikutnya. Dengan peristiwa ini kemudian Hasan al-Bashri berkata, “Washil telah menjauhkan diri kita (i’tazalla anna)”. Menurut Syahrastani kelompok yang menjauhkan diri inilah yang kemudian disebut dengan istilah muktazilah.

Al-Mas’udi memberikan keterangan lain, mereka disebut kaum Mu’tazilah sebab mereka berpendapat bahwa orang yang berdosa besar bukanlah mukmin dan juga bukan kafir namun mengambil posisi diantara kedua posisi tersebut (Al manzilah bain Al manzilatain).

Baca Juga:  Mengenal Cabang Aliran Muktazilah dan Pandangan Teologisnya

Golongan Mu’tazilah juga dikenal dengan nama lain seperti ahl al-adl yang berarti golongan yang mempertahankan keadilan Tuhan dan ahl al Tauhid wa al adl yang berarti golongan yang mempertahankan keesaan murni dan keadilan Tuhan.

Mereka juga sering disamakan dengan paham Qodariyah yang menganut paham Free act dan Free Will. Selain itu mereka juga dinamakan al Mua’tillah karena golongan Mu’tazilah berpendapat bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat dalam arti sifat yang memiliki wujud di luar dzat Tuhan.

Mereka juga diberi nama dengan Wa’diyyah karena mereka berpendapat bahwa ancaman Tuhan itu pasti akan menimpa kepada orang-orang yang tidak taat pada hukum-hukumnya.

Aliran mu’tazilah mendapat dukungan dan dan penganut yang cukup banyak dari penguasa Bani Umayyah kala itu yakni khalifah Yazid bin Walid (125-227 H), Al Mu’tashim Billah (218- 227 H) dan khalifah al-Watsiq (227- 232 H).

Ajaran dan Dasar Teologi Mu’tazilah

Ajaran-ajaran Mu’tazilah ini juga disebut dengan Al Ushul Al Khamsah yaitu At-Tauhid atau keesaan Tuhan. At-Tauhid merupakan prinsip utama dari intisari atau ajaran Mu’tazilah. Sebetulnya semua aliran teologis dalam Islam sama dalam doktrin ini. Namun Tauhid dalam paham muktazilah memiliki arti yang lebih spesifik yaitu:

Pertama, Tuhan-lah satu-satunya Yang Esa, yang unik dan tidak satupun yang menyamai.  Karena  itu,  Dia-lah  yang  qadim.  Bila ada yang qadim  lebih dari satu,   maka telah terjadi ta’adud al qudama (tebilangnya zat yang tak berpemulaan).

Kedua, Muktazilah menolak konsep Tuhan memiliki sifat-sifat, penggambaran fisik, dan Tuhan dilihat dengan mata kepala.

Ketiga, Al-Adl. Artinya Keadilan Tuhan. Ajaran tentang keadilan ini berkait erat dengan beberapa hal, antara lain :

  1. Perbuatan Manusia. Menurut Mu’tazilah, manusia melakukan dan menciptakan perbuatannya sendiri, terlepas dari kehendak dan kekuasaan Tuhan baik secara langsung maupun tidak. Konsep ini memiliki konsekuensi logis dengan keadilan Tuhan, yaitu apa pun yang akan diterima manusia di akhirat merupakan balasan perbuatannya di dunia.
  2. Berbuat baik dan terbaik. Artinya adalah kewajiban Tuhan untuk berbuat baik bahkan terbaik untuk manusia titik Tuhan tidak mungkin jahat dan menganiaya, karena hal tersebut tidak layak bagi Tuhan titik jika Tuhan berlaku jahat terhadap seseorang dan perilaku jahat kepada orang lain berarti ia tidak adil Titik maka Tuhan pastilah berbuat yang terbaik bagi manusia.
  3. Mengutus Rasul. Mengutus rasul bagi manusia merupakan kewajiban bagi Tuhan dengan alasan; (1) Tuhan wajib berlaku baik kepada manusia,  (2) Alquran secara tegas menyatakan kewajiban Tuhan untuk memberikan belas kasih kepada manusia (QS 26. 29), (3)Tujuan diciptakan manusia adalah untuk beribadah kepada Tuhan, (4) Al Wa’ad wa Al Wa’id, (5) Al Manzilah bain al Manzilatin dan (6) Al Amru bi al Ma’ruf wa an Nahy an munkar.
Baca Juga:  Menelisik Sejarah Aliran Qadariyah dan Pemikiran Ekstrim Mereka

Perkembangan Mu’tazilah Sebagai Aliran Teologi

Dari sisi lain secara umum aliran muktazilah melewati 2 fase yang berbeda. Yaitu fase Daulah Abbasiyah (100H/237 M) dan fase Bani Buwaihi (334H). Generasi pertama mereka hidup di bawah pemerintahan Bani Umayyah untuk waktu yang tidak terlalu lama kemudian memenuhi zaman awal Daulah Abbasiyah dengan aktivitas gerak teori diskusi dan pembelaan terhadap agama dalam suasana yang dipenuhi oleh pemikiran baru

Dimulai di Basrah kemudian dari sini berdiri cabang sampai ke Baghdad. Orang-orang mu’tazilah Basrah bersikap hati-hati dalam menghadapi masalah politik tapi kelompok Mu’tazilah baghdad terlibat jauh dalam politik. Mereka ambil bagian dalam menyulut dan mengobarkan api inkuisi bahwa Alquran adalah makhluk

Baca Juga:  Tokoh-Tokoh Aliran Mu'tazilah dan Pemikirannya

Memang pada awalnya mu’tazilah menghabiskan waktu sekitar 2 abad untuk tidak mendukung sikap bermahzab. Mereka mengembangkan sikap netral dalam pendapat dan tindakan. Ini merupakan salah satu sebab mengapa mereka disebut muktazilah.

Mu’tazilah tidak mengisolir diri dalam menangani problematika Imamah sebagai sumber perpecahan pertama tetapi mengambil sikap tengah dengan mengajukan teori Al manzilah Bain Al manzilatain. Akan tetapi di bawah tekanan Syariah nampaknya mereka berlindung kepada Bani Buwaihi.

Kelompok Mu’tazilah saat ini sudah tidak ada lagi. Mereka mendapat tantangan keras dari umat Islam lain setelah mereka berusaha di abad ke-9 untuk memaksa paham dan teologi mereka dengan kekerasan pada umat Islam yang ada pada waktu itu.

Pemikiran rasionalitas mu’tazilah dan sikap kekerasan mereka membawa pada lahirnya aliran-aliran teologi lain dalam Islam. Aliran-aliran tersebut timbul untuk menjadi tantangan bagi aliran yang bercorak rasional dan liberal tersebut.

Dalam sejarahnya mu’tazilah merupakan kelompok manusia yang menggemparkan dunia islam selama lebih dari 300 tahun akibat fatwa-fatwa mereka yang kontroversial. Selama waktu itu pula kelompok ini menumpahkan ribuan darah kaum muslimin terutama para ahli sunnah yang bersikukuh menantang mereka.

*Diolah dari berbagai sumber

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *