Fungsi Hadist Terhadap AlQuran, Peran Penting Yang Tak Bisa Dipisahkan

fusngsi hadist terhadap al quran

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Pecihitam.org – Hadist Rasulullah SAW adalah sumber ajaran islam setelah AlQuran. Hadist bukan saja merupakan ungkapan – ungkapan, pesan – pesan, serta tindakan – tindkan yang yang lahir dari seorang nabi dan rasul. Tetapi juga sebagai penjelas dan penyempurna terhadap isi kandungan AlQuran yang masih bersiafat universal dan global. Bagaimanakah sebenarnya fungsi hadist terhadap AlQuran? Akan dijelaskan sebagaimana berikut.

Bisa dikatakan bahwa kebutuhan AlQuran terhadap hadits sebenarnya jauh lebih besar ketimbang kebutuhan hadits terhadap AlQuran. Sebagai penjelas dan penerang isi kadungan dalam Al Quran, keberadaan hadist memegang peranan yang penting. Terutama dalam menjelaskan pelaksanaan ibadah secara terperinci, seperti sholat, zakat, puasa, haji dan lain-lain.

Kendati demikian, seorang Muslim tidak dibenarkan untuk mengambil salah satu dan membuang yang lainnya karena keduanya ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Tidak semua hadist yang berkaitan dengan ayat-ayat tertentu dalam Al Quran dapat dijadikan sebagai penjelasan. Karena tidak sedikit yang ditemukan hadist – hadist palsu yang sengaja dimunculkan oleh perawai-perawi yang tergoong pendusta dan berakhlak tidak terpuji. Maka dari itu itu keberadaan hadist yang bisa dijadikan peganganharus pasti keakuratan dan keshahihan serta kemurniannya.

Baca Juga:  Tahukah Kamu, Mengapa Surat Al Ikhlas Selalu Ada dalam Tahlil dan Istighatsah?

Untuk mengeluarkan hukum Islam, pertama-tamai para ulama harus menelitinya di dalam Al Quran. Dan selanjutnya setelah itu, barulah mencari perbandingan dan penjelasannya di dalam hadits-hadits Nabi SAW. Karena pada dasarnya tidak ada satupun ayat yang terdapat pada AlQuran kecuali dijelaskan oleh hadits-hadits Nabi SAW.

Dengan saling berkaitannya antara ayat Al Quran dan hadits tersebut, seorang ulama dapat memutuskan hukum-hukum agama sesuai dengan persoalan yang dihadapi. Dan pastinya dengan dukungan ilmu dan perangkat pengetahuan yang mumpuni terhadap kedua sumber tersebut. Maka dari itu orang awam walaupun bisa membaca al Quran dan hadist, tidaklah boleh semaunya sendiri membuat hukum tanpa mempunyai ilmu dan perangkat yang cukup. Karena bisa menjadi kekekliruan yang besar dan menjadi timbulnya fitnah.

Menurut seorang ahli hukum Islam berkebangsaan Mesir Abdul Wahab Khallaf., fungsi hadist terhadap AlQuran paling tidak ada tiga hal:

Baca Juga:  Mengapa Sepanjang Sejarah Wahabi dan Syiah Selalu Berseteru?

Pertama, fungsi hadist terhadap AlQuran adalah sebagai penegas dan penguat segala hukum yang ada dalam AlQuran seperti perintah shalat, puasa, zakat dan haji.
Abdul Wahab Khallaf mengatakan,

إما أن تكون سنة مقررة ومؤكدة حكما جاء في القرآن

Artinya: Adakalanya hadits berfungsi sebagai penegas dan penguat terhadap hukum yang ada dalam Al-Quran.”

Kedua, fungsi hadits terhadap Al Quran sebagai penjelas dan penafsir segala hukum yang bersifat global dalam Al-Quran, seperti menjelaskan tatacara shalat, puasa, zakat dan haji.

إما أن تكون سنة مفصلِّة ومفسِّرة لما جاء في القرآن

Artinya: Adakalanya hadits berfungsi sebagai penjelas dan penafsir terhadap hukum global atau umum yang disebutkan dalam AlQuran.

Ketiga, fungsi hadist terhadap AlQuran adalah sebagai pembuat serta memproduksi hukum yang belum dijelaskan oleh Al Quran seperti contoh hukum mempoligami seorang perempuan sekaligus dengan bibinya. Hukum memakan hewan yang bertaring, burung yang berkuku tajam dan lain sebagainya.

Abdul Wahab Khallaf kembali mengatakan sebagai berikut.

وإما أن تكون سنة مثبِتَة ومنشِئَة حُكما سكت عنه القرآن

Baca Juga:  Strategi Dakwah Rasulullah SAW Di Kota Madinah

Artinya: Adakalanya hadits berfungsi sebagai penetap dan pencipta hukum baru yang belum disebutkan oleh AlQuran.

Sebegitu pentingnya posisi hadist dalam konsepsi hukum islam. Dengan demikian, untuk mendalami dan menetapkan suatu hukum, haruslah orang orang yang mempunyai ilmu seperti istilah dasar dalam ilmu hadits, menguasai kaidah-kaidah takhrij dan kajian sanadnya, mengetahui seluk beluk hadist dan tatacara memahami redaksi hadist tersebut. Pembacaan, penafsiran dan ketidaktelitian terhadap ilmu hadist bahkan mungkin serampangan dapat membuat seseorang keliru, dan lebih parahnya dapat membuat keliru orang lain. Wallau’alam Bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *